Opini

Lifestyle

Sports

Catatan Wardas Tanjung: Balimau, Tradisi yang Ternoda

          Catatan Wardas Tanjung: Balimau, Tradisi yang Ternoda
Foto: Oleh Wardas Tanjung, Mantan Birokrat, Wartawan Senior, Ulama, Tokoh Adat dan Pemerhati Masalah Sosial Budaya.
SETIAP memasuki bulan puasa Ramadhan, masyarakat Sumatera Barat (Minangkabau umumnya) melaksanakan sebuah tradisi yang disebut Balimau. Balimau adalah mandi di sungai, membasuh dan membasahkan seluruh  anggota tubuh sejak ujung rambut sampai ujung kaki, persis seperti mandi wajib. 

Balimau, selain dilakukan untuk menyambut bulan puasa, juga di hari raya. Bedanya, balimau menyambut puasa dilakukan sore hari selepas ashar, sedangkan balimau hari raya dilakukan pagi menjelang subuh.

Di masa dahulu, ketika ekonomi sangat sulit, balimau menyambut bulan suci Ramadhan dan hari raya tidak dengan sabun mandi dan sampo seperti sekarang, tetapi menggunakan buah kelikis. 

Cara pemakaiannya adalah dengan terlebih dahulu membuka kulitnya, lalu dicampur air, busanya akan keluar begitu digosokkan ke badan. 

Sedangkan untuk membersihkan rambut, menggunakan dedaunan dan rempah, seperti  daun pandan yang dicampur jeruk dan minyak harum.

Sampai sekarang sebagian warga masyarakat masih menggunakan bahan bahan tersebut untuk balimau, tapi sudah sangat terbatas. 

Barangkali hanya emak emak di kampung atau di pinggiran kota yang masih sangat tradisional dan belum mau meninggalkan tradisi masa lalunya. 

Tradisi Manjalang Mintuo

Bagi masyarakat Minangkabau, balimau (khusus menyambut Ramadhan), punya arti tersendiri, tidak hanya sekedar membersihkan badan dari kotoran atau daki, melainkan juga terkait dengan nilai, tata krama berkerabat, baipa babisan, baminantu bamintuo. 

Menurut buya H.Mas’ud Abidin dalam bukunya Pernak Pernik Ramadhan (Pustaka Mimbar Minang, 2002 : 12), balimau bagi masyarakat Minangkabau dibingkai dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Meski dalil nashnya tidak ada, di masa dahulu, balimau ini diwarnai kebiasaan jalang manjalang, datang mendatangi dan kunjung mengunjungi dari anak kepada ayah bunda dan mertua.

“Balimau adalah moment menjalin keharmonisan antar keluarga dalam nagari untuk memperkuat silaturrahmi, bahkan juga antara keluarga jauh dengan keluarga dekat dalam suasana ceria” urai buya.  

Suasana ini sangat mengesankan bagi menantu (perempuan) dan mertua (keluarga suami), karena semua individu berada dalam keadaan bersih, suci dan ceria.

Moment ini biasanya juga digunakan untuk menyampaikan pesan pesan moral oleh pihak mertua kepada menantu serta memperkenalkan anggota keluarga besar (extended family).

Dalam pengamatan saya, di masa lalu balimau yang dirangkai dengan manjalang mintuo itu juga ditandai dengan mengantar seserahan yang dikemas dalam satu atau dua set rantang berisi makanan. 

Ketika menantu pulang ke rumahnya sehabis shalat tarawiih, biasanya mertua akan mengisi rantang tadi dengan sesuatu yang bermanfaat, seperti beras, uang atau pemberian lainnya. 

Jadi kesannya benar benar saling isi, saling beri dan saling menghargai. 

Kebiasaan saling isi dan saling beri dari moment balimau dan manjalang mintuo itu tidak ada pihak yang dirugikan, malah saling menguntungkan.

Pihak mertua bisa saja tidak akan memikirkan menu berbuka dan sahur selama dua tiga hari, karena tercukupi oleh seserahan buah tangan menantu. 

Sebaliknya menantu juga demikian, karena kebutuhannya untuk dua hari ke depan sudah tercukupi oleh pemberian mertua. Inilah jalinan keharmonisan berkerabat yang terbangun oleh tradisi balimau masa lalu. 

Tradisi yang Ternoda

Bagaimana dengan tradisi balimau sekarang? 

Jika dicermati perilaku warga yang pergi balimau di masa sekarang, sungguh menyedihkan. Hakikat balimau sebagai moment membersihkan pisik badan dan menjalin silaturrahim antar keluarga, sama sekali tidak terlihat.

Ada beberapa hal menonjol yang patut dikritisi dari praktek balimau masa kini ; pertama, lokasi atau tempat balimau.

Tempat yang diguanakan untuk balimau adalah obyek obyek wisata pemandian yang terbuka dan bercampur baur. Dulu, justru di tapian tertutup dan terpisah antara laki laki dengan perempuan.

Kedua, partisipannya. Dulu yang balimau pada umumnya pasangan keluarga baru atau keluarga yang sudah punya anak. 

Mereka mandi secara terpisah. Kini, yang ramai pergi balimau adalah anak anak muda yang bukan pasangan suami isteri dan mandi secara bersamaan di tempat yang sama. 

Ketiga, motivasi. Jika dulu motivasi balimau adalah untuk menjalin keharmonisan berkerabat, sekarang justru untuk hura hura.

Tidak sedikit terjadi malapetaka di hari balimau, baik kecelakaan pisik karena ugal ugalan berkendaraan ataupun kecelakaan moral akibat terlalu bebas di pemandian.

Keempat, dampak. Pada setiap tempat balimau biasanya muncul sekelompok orang yang sengaja mengambil keuntungan. 

Misalnya di sepanjang jalan yang dilewati ada ada saja orang meminta sumbangan untuk keperluan yang macam macam.

Demikian juga di lokasi pemandian, akan ada tukang parkir dadakan dengan tarif non standar. Targetnya tak lebih bagaimana mendapatkan uang, tapi tidak mau bertanggung jawab atas keselamatan kendaraan.

Hal ini jelas tidak baik dibiarkan karena bis memicu sikap mental menerabas generasi muda. 
Mungkin masih banyak catatan kritis yang dapat kita urutkan di sini untuk menjelaskan betapa praktek balimau sekarang sudah ternoda oleh hal hal negatif. 

Oleh sebab itu sudah saatnya pemerintah daerah membuat aturan yang bersifat mengikat untuk mencegah terjadinya efek buruk di masa yang akan datang.

Hikmah Covid-19

Memasuki bulan suci Ramadhan tahun ini, dapat dipastikan tidak akan ada balimau secara besar besaran di tempat tempat pemandian terbuka. 

Sebab, sudah ada PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dalam rangka pencegahan perluasan penularan covid-19.

PSBB telah membatasi ruang gerak orang dan kendaraan selama 14 hari ke depan. Motor tidak boleh bawa penumpang, mobil hanya boleh diisi 50 persen dari kapasitas normal dan tidak boleh ada kerumunan yang lebih dari 5 orang. 

Agaknya inilah hikmah di balik pandemi corona sekarang. Ketika kita khawatir akan makin berkembangnya dekadensi moral, salah satunya melalui tradisi balimau yang ternoda itu, Allah datangkan wabah yang membuat semua orang harus berada di dalam rumah, menahan diri dan mengurungkan niatnya untuk melakukan hal hal yang Allah tidak meridhai. 

Semooga ini menjadi pembelajaran ...
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...
loading...

Komentar Anda:

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *