Opini

Lifestyle

Sports

Soal RUU HIP, Anak Buah Megawati Kecewa dengan Pernyataan AHY

          Soal RUU HIP, Anak Buah Megawati Kecewa dengan Pernyataan AHY
Foto: Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Soal RUU HIP, Anak Buah Megawati Kecewa dengan Pernyataan AHY.
BENTENGSUMBAR.COM - Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Tangerang Selatan Wanto Sugito ‎kecewa dengan pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

Ini lantaran AHY menyebut RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) memuat nuansa ajaran sekularistik dan juga ateistik sebagaimana tercermin dalam pasal 7 ayat (2) dalam rancangan tertuang bunyi ciri pokok Pancasila berupa Trisila, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan ketuhanan.

“Ketuhanan yang dimaksudkan Bung Karno adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketuhanan yang tidak ada egoisme agama. Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, atau ketuhanan yang berkebudayaan. RUU HIP sendiri adalah inisiatif DPR RI. Nah, Demokrat tidak mengikuti seluruh pembahasan RUU di DPR, dan memilih menarik diri. Gaji DPR diterima, tetapi kerjaan tidak. Jadi sebelum berkomentar, sebaiknya Mas AHY baca seluruh risalah sidang BPUPK termasuk pidato Bung Karno,” ujar Wanto Sugito, dilansir dari JawaPos.com, Sabtu, 27 Juni 2020.

Mantan aktivis 98 UIN Syarif Hidayatullah Ciputat ini menduga, AHY tidak mengerti sejarah bahwa apa yang disampaikan Soekarno saat itu adalah usulan sebelum akhirnya Pancasila diterima sebagai dasar negara usai melalui pembahasan di Panitia Sembilan, menghasilkan Piagam Jakarta, dan Sidang PPKI yang menghasilkan rumusan final. Semua tahapan tersebut dipimpin oleh Bung Karno.

Dalam kesempatan itu, di depan sidang BPUPKI yang dipimpin Dr Radjiman Wedyodiningrat, Bung Karno menawarkan Pancasila sebagai konsep dasar negara Indonesia ketika kelak merdeka.

Dalam pidatonya, Bung Karno menawarkan jika ada yang tidak suka akan bilangan lima itu, ia akan memerasnya menjadi tiga saja yakni, sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan ketuhanan.

Bung Karno juga menawarkan bahwa jika memang harus diperas dari lima menjadi tiga dan kemudian menjadi satu, maka satu perkataan Indonesia yang tulen adalah gotong royong.

Berkaca dari hal tersebut, Wanto pun mempertanyakan apa dimaksud sekularistik dan ateistik oleh AHY. 

“Perdebatan, kritik dan masukan sah-sah saja. Tapi harus nyambung, jangan asal tuduh dan mengaburkan sejarah,” tukasnya.

Menurut Wanto, Bung Karno juga pernah mengatakan, “Dalam cita-cita politikku, aku ini nasionalis. Dalam cita-cita sosialku, aku ini sosialis. Dalam cita sukmaku, aku ini theis, sama sekali theis, sama sekali percaya dan mengabdi pada Tuhan yang Maha Esa,”

Karena itu, lanjutnya, saat mengenalkan Pancasila kepada dunia, Soekarno saat berpidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutip surat Al Hujarat ayat 13 yang berbunyi “Wahai manusia sesungguhnya aku menjadikan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, agar kamu hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dan kamu sekalian dapat mengenal satu sama lain, tapi ketahuilah yang mulia di antara kamu sekalian ialah yang bertaqwa kepada-Ku.”

Berangkat dari sana, lanjut Wanto, tidak ada alasan apapun Soekarno bisa disebut sebagai orang tak bertuhan. 

“Jadi bagaimana mungkin pemikiran Bung Karno bisa dikatakan Sekuleristik apalagi Ateistik. Sangat disayangkan cara berpikirnya,” jelasnya.

‎Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demorkat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut rancangan undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) bernuansa ateistik dan sekularistik karena memuat konsep Trisila.

Dia mengatakan konsep Trisila itu berbahaya karena berpotensi menimbulkan konflik ideologi, polarisasi politik, hingga menimbulkan perpecahan bangsa.

“RUU HIP memuat nuansa ajaran sekularistik dan juga ateistik sebagaimana tercermin dalam pasal 7 ayat (2) RUU HIP yang berbunyi ciri pokok Pancasila berupa Trisila, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demorkasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan,” kata AHY.

AHY juga mengkritisi ketiadaan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Larangan Ajaran Komunisme/Marxisme sebagai konsideran. 

Hal itu disebut membuat RUU HIP melupakan aspek historis. Ia sendiri tak memaparkan lebih jauh soal kaitan antara tudingan ateistik dan sekularistik itu dengan Trisila itu.

Putra Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu juga tidak sepakat Pancasila diatur dalam undang-undang. 

Sebab, Pancasila adalah dasar negara yang menjadi rujukan pembentukan konstitusi.

AHY menegaskam Demokrat menolak RUU HIP sejak awal. Dia bilang Fraksi Partai Demokrat DPR RI akan menjalankan aspirasi masyarakat untuk menolak RUU itu.

“Kita menolak RUU HIP yang penuh kontroversi dan bisa menimbulkan permasalahan-permasalahan baru yang tidak perlu. Bahkan bisa menghadirkan setback, mundur ke belakang,” ucap AHY.

(***)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...
loading...

Komentar Anda:

Formulir Kontal

Nama

Email *

Pesan *