Tengku Zulkarnain: Tandai Kaum Munafik yang Membela Macron, Tapi Menghina Pembela Agama

Tengku Zulkarnain: Tandai Kaum Munafik yang Membela Macron, Tapi Menghina Pembela Agama
BENTENGSUMBAR.COM - Lagi-lagi, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Ustad Tengku Zulkarnain kembali menyerukan pemboikotan produk-produk dari negara Prancis. 


Ulama asal Sumatera Utara tersebut mengajak kaum muslimin untuk berkorban lahir dan bathin untuk membela agama dan nabi.


Ustad yang aktif di media sosial tersebut mengajak kaum muslimin untuk memboikot produk Prancis sampai Presiden Emmanuel Macron minta maaf kepada umat Islam atau tumbang.


Bahkan, ia juga menyerukan kaum muslimin menandai kaum munafik yang membela Macron, tapi menghina pembela agama. 


"Kaum Muslimin mari kita berkorban lahir dan batin untuk membela agama dan nabi kita. BOIKOT SELURUH PRODUK PRANCIS, sampai Macron minta maaf atau tumbang. Tandai kaum Munafik yg malah membela Mancron tapi menghina pembela Agama. Mungkin mereka Munafik kalau tidak Komunis...Siap?" tulisnya melalui akun twitter tengkuzulkarnain @ustadtengkuzul, seperti dikutip BentengSumbar.com, Selasa, 3 November 2020. 



Protes terhadap pernyataan Macron secara resmi juga dikeluarkan MUI. MUI mengeluarkan imbauan kepada umat Islam Indonesia untuk memboikot segala produk asal negara Perancis.


Seruan boikot MUI dilayangkan melalui surat pernyataan Nomor: Kep-1823/DP-MUI/X/2020 tertanggal 30 Oktober 2020. 


Selain aksi boikot, MUI juga meminta Presiden Perancis Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia.


"MUI menyatakan sikap dan mengimbau kepada Ummat Islam Indonesia dan dunia untuk memboikot semua produk yang berasal dari negara Perancis," bunyi salah satu pernyataan dalam surat yang ditandatangani Wakil Ketua Umum MUI, Muhyiddin Junaidi dan Sekjen MUI Anwar Abbas itu. 


Pemboikotan ini sebagaimana yang telah diserukan oleh sejumlah negara lain, seperti Turki, Qatar Kuwait, Pakistan, dan Bangladesh. 


Boikot ini dilakukan setidaknya hingga Macron mencabut perkataannya dan meminta maaf pada Ummat Islam dunia yang disebut berjumlah 1,9 milyar jiwa di seluruh dunia.


MUI juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk menekan dan mengeluarkan peringatan keras kepada Perancis dengan cara menarik sementara Duta Besar Republik Indonesia yang ada di Paris.


Tak hanya itu, desakan juga dialamatkan pada Mahkamah Uni Eropa agar mengambil tindakan yang tegas. 


"Mendesak kepala Mahkamah Uni Eropa untuk segera mengambil tindakan dan hukuman kepada Presiden Perancis atas tindakan dan sikap Presiden Emmanuel Macron yang telah menghina dan melecehkan Nabi Besar Muhammad SAW," tulis surat tersebut. 


MUI mengajak semua pihak untuk menghentikan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dengan cara dan atas alasan apa pun, termasuk pembuatan karikatur.


Termasuk bagi Muslim di Indonesia agar dalam menyampaikan pendapat bisa tetap menjaga kedamaian antar umat beragama. 


"Mengimbau kepada Ummat Islam Indonesia agar kiranya dalam menyampaikan aspirasi hendaknya dilakukan secara damai dan beradab," imbau MUI. 


MUI mengacu pada pernyataan Komisi HAM PBB yang menganggat penghindaan juga pelecehan pada Nabi Muhammad SAW tidak termasuk dalam kebebasan berekspresi. 


Sehingga mengecam apa yang dilakukan oleh Presiden Macron, dan menyebutnya sebagai Kepala Negara yang angkuh dan sombong, juga tidak menghiraukan masyarakat dunia lainnya, termasuk Umat Islam.


Sebelumnya, Presiden Macron beberapa waktu lalu mengomentari pembunuhan terhadap seorang guru di luar Kota Paris yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad pada murid-muridnya di kelas. 


Menurut Macron aksi pembunuhan ini merupakan serangan terhadap kebebasan berbicara sehingga pihaknya menyebut akan melawan "separatisme Islam" yang ada.


Pernyataannya ini memicu reaksi negatif dari berbagai pihak di dunia, khususnya negara-negara yang dihuni oleh penduduk Muslim, seperti Indonesia, Malaysia, Turki, Kuwait, dan lain sebagainya. 


Sementara itu, para pemimpin muslim Prancis mengutuk keras aksi boikot produk yang berasal dari Prancis yang diserukan oleh sejumlah negara Muslim, ormas dan ulama. 


Sejumlah pemimpin umat Muslim di Prancis mengutuk seruan boikot atas produk dari negara tersebut yang terjadi di beberapa negara Muslim di dunia sebagai bentuk protes atas komentar Presiden Emmanuel Macron.


Para pemimpin organisasi Muslim Prancis tersebut menyebut aksi boikot sebagai tindakan yang "tidak bisa dibenarkan" dan menuduh pihak yang memimpin boikot "menggunakan Islam untuk kepentingan politik".


"Ada masanya ketika kami harus menunjukkan solidaritas dengan negara kami yang mana mengalami serangan yang tak bisa dibenarkan dalam beberapa pekan terakhir," tulis pernyataan bersama tiga pemimpin masjid besar dan tiga asosiasi Muslim di Prancis.


Mereka mengatakan, hukum Prancis "memberikan ruang terbuka atas kebebasan berekspresi" dan memberikan setiap warga negara hak untuk "percaya atau pun tidak".


Para pemimpin dari Masjid Akbar di Paris, Lyon, dan Pulau Reunion, bersama dengan sejumlah pemimpin tiga organisasi Muslim Prancis, mengutuk terorisme "dan segala bentuk kekerasan atas nama agama kami".


Mereka juga menyatakan kesal atas "seruan pembunuhan yang diserukan oleh sejumlah pemimpin negara lain" yang disebut AFP merujuk pada twit mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohamad.


Mahathir Mohamad sebelumnya berkicau bahwa umat Muslim memiliki "hak untuk marah dan membunuh jutaan warga Prancis".


(by)

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »