Headline

Opini

Parlemen

Sports

Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’ (Bagian ke-3)

          Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’ (Bagian ke-3)
Foto Penulis H Ali Akbar. Merubah Paradigma ‘Petani Konvensional’ menjadi ‘Petani Digital’ (Bagian ke-3).
DITULIS Oleh: Haji Ali Akbar*

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah, artinya: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah”. (QS. Ali Imran (3): ayat 159).

Perubahan – Change akan dapat terlaksana apabila disertai dengan tekad yang bulat dan bersungguh-sungguh. Demikian pula halnya ketika seorang petani ingin merubah cara bertani dari cara-cara konvensional kepada cara-cara baru yang berlandaskan kepada teknologi digital.

“Man Jadda wa Jada”, demikian sebuah pepatah Arab yang tak lagi asing didengar, terjemahannya bahwa “Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan dapat”.

Perubahan menuju terbaik (great) adalah ketika kita merasa baik (good). Ketika dalam keadaan sulit, krisis dan tertekan banyak orang mudah menemukan lompatan perubahan secara cepat dan gesit, namun banyak orang merespon perubahan sangat lambat ketika dirinya merasa dalam keadaan yang baik-baik saja.

Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat tani di pedesaan bisa disebabkan oleh NTUP – Nilai Tukar Usaha Petani yang rendah (standar NTUP = 100), dimana jumlah pendapatan yang diterima oleh petani lebih kecil dibanding jumlah pengeluarannya, Rantai Pasok (Supply Chain) dan Sistem Logistik (Logistic System) yang tidak menguntungkan kepada petani, akibat kesalahan diri sendiri (disrupsi) dan lain sebagainya.

Rhenald Kasali – pendiri Rumah Perubahan, dalam bukunya yang berjudul “Re-Code Your Change DNA: Membebaskan Belenggu-belenggu Untuk Meraih Keberanian dan Keberhasilan Dalam Pembaharuan (2007)” menerangkan,

“Meskipun secara alami manusia mengalami proses perubahan yang berkelanjutan dan tidak terelakkan (melalui bertambahnya usia), tetapi pada dasarnya tidak seorangpun suka diperintah untuk berubah. Manusia lebih menyukai sesuatu yang sudah terbiasa (sering) mereka lakukan (learning curve effect) – business as usual.”

Dalam era Digital 4.0 ini, himbauan kepada teman-teman petani dimana saja berada, sudah seharusnyalah meninggalkan atau membuang istilah ‘Gap-Tek – Gagap Teknologi’. Memanfaatkan teknologi digital untuk sebuah kemajuan baik usaha tani dan diri sendiri sudah menjadi suatu keharusan atau keniscayaan.

Contoh menarik yang terjadi dalam Kelompok Tani SUKMA JAYA, dimana saya sebagai ketuanya berusaha membuat perubahan melalui pembuatan sebuah WhatsApp Group - WAG, walau pertemuan rutin bulanan tetap kami adakan sebagai pertemuan secara ‘Tatap Muka’.

Maksud dan tujuannya diadakan pertemuan secara maya – tanpa ‘Tatap Muka’ adalah agar terjadi interaksi sosial antar anggota tani secara cepat (on-line) juga dimaksudkan dalam rangka memanfaatkan peran teknologi digital.

Tapi, apa yang terjadi?

Sejak dibuatnya WAG Poktan SUKMA JAYA, bulan September 2020 sampai bulan April 2021 ini (memasuki usia 7 bulan), masih banyak anggota tani yang ‘canggung’, ‘keder’ atau ‘Gap-Tek’ karena belum terbiasa.

Bertukar informasi melalui WAG menjadi lebih cepat dan instan dibanding melakukan pertemuan secara ‘Tatap Muka’. Banyak waktu, tenaga dan nominal uang yang dipangkas dengan adanya peran teknologi digital ini. Ada beberapa platform digital lainnya yang bisa dimanfaatkan seperti Facebook, Instagram, Telegram dan lain sebagainya.

Kepada teman-teman petani dimana saja berada, mari kita manfaatkan peran teknologi digital guna sebesar-besar manfaat demi kemajuan kegiatan usaha tani maupun pengetahuan cara bertani yang canggih dan menguntungkan.

Petani Bangkit!  Petani Go Digital!  - (Bersambung). *)

*Penulis Tinggal di Padang Pariaman.
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...