Headline

Opini

Parlemen

Sports

Gus Miftah Masuk Gereja Disebut Kafir, Ustaz Ahong Ungkit Riwayat Khalifah: Keterlaluan Banget

          Gus Miftah Masuk Gereja Disebut Kafir, Ustaz Ahong Ungkit Riwayat Khalifah: Keterlaluan Banget
Gus Miftah Masuk Gereja Disebut Kafir, Ustaz Ahong Ungkit Riwayat Khalifah.

Gus Miftah Masuk Gereja Disebut Kafir, Ustaz Ahong Ungkit Riwayat Khalifah: Keterlaluan Banget
BENTENGSUMBAR.COM - Pendakwah, Ustaz Ibnu Kharish atau akrab disapa Ustaz Ahong menanggapi soal kontroversi publik terkait ulama NU Gus Miftah yang berpidato di acara peresmian Gereja Bethel Indonesia (GBI) Amanat Agung.


Ustaz Ahong menilai, tudingan publik yang menyebut Gus Miftah kafir lantaran masuk gereja sudah sangat keterlaluan.


Menurutnya, dalam sejarah ada pemimpin Islam yang masuk gereja. Dia adalah Umar bin Khattab. Bahkan, kata Ahong, sang khalifah tersebut ditawari Salat Ashar di gereja.


Hal itu diungkapkan Ustaz Ahong lewat tulisannya di website Bincang Syariah.com, seperti dilihat pada Rabu 5 Mei 2021.


ia pun menjelaskan riwayat Umar bin Khattab dan mengaitkan dengan isu Gus Miftah yang dilabeli kafir oleh sekelompok orang karena orasi di mimbar gereja.


“Orang yang ngafir-ngafirin tokoh agama ceramah di gereja itu keterlaluan banget sih. Padahal Sahabat Umar bin Khattab itu pernah masuk gereja. Bahkan waktu shalat Ashar (menurut salah satu riwayat) tiba, tokoh agama di gereja tsb nyuruh Sahabat Umar shalat di situ,” tulisnya.


Atas permintaan salat di gereja, kata Ahong, Umar bin Khattab menolaknya. Menurutnya, sang khalifah ogah menuruti permintaan itu. Alasannya, Umar khawatir jika dia salat di gereja, maka umat muslim akan mengalihfungsikan gereja.


“Sahabat Umar takut kalau nanti ada umat Muslim yang menghancurkan gereja dan mengalihfungsikannya menjadi masjid. Masya Allah bijaksana banget ya pemikiran Sahabat Umar ini,” ujar Ustaz Ahong.


Ia pun menunjukkan bukti di masa Khalifah Umar bin Khattab, dia memerintahkan umat Islam untuk tetap menghormati non muslim dan membiarkan rumah ibadah non muslim tetap berdiri.


Dia menuliskan, doktor Ali Muhammad al-Shalabi dalam bukunya al-Daulatul Utsmaniyah: ‘Awamilun Nuhudh wa Asbabus Suquth, menjelaskan Umat Islam di tangan khalifah Umar bin Khatab berhasil memperluas wilayah Islam ke beberapa wilayah Asia Tengah sejak tahun 22 Hijriah.


Saat melakukan penaklukan beberapa wilayah jazirah Arab, sahabat Umar bin Khattab tetap menghormati non-Muslim dan membiarkan rumah ibadah mereka tetap berdiri.


Dalam riwayat lainnya pemimpin Islam itu menghormati rumah ibadah non muslim. Hal itu ditunjukkan Ustaz Ahong dalam buku Futuh al-Buldan, Imam al-Baludzuri menyebutkan riwayat Umar bin Khattab menarik ‘Utbah (bin Ghazawan) dari Mosul.


Kala itu, menurut Ahong, Khalifah Umar bin Khattab melantik Hurtsumah bin Arfajah al-Bariqi. Di Mosul terdapat benteng pertahanan, gereja, pemukiman kecil orang-orang Nasrani dekat gereja, pemukiman Yahudi.


Mengikuti perintah sahabat Umar, pemimpin Mosul Hurtsumah membangun masjid jami’ dan menempatkan orang Arab di pemukiman khusus, tanpa mengganggu rumah ibadah non muslim.


Mengutip Hops.id, Ustaz Ahong dalam tulisannya juga menyebut Khalifah Umar bin Khattab juga pernah mengadakan perjanjian dengan masyarakat Palestina, kala itu namanya Al Quds.


Isi perjanjian tersebut, dijelaskan Ustaz Ahong, yakni .asyarakat bebas menjalankan keyakinan agama mereka, Umar menjamin keamanan jiwa dan gereja mereka yang non muslim.


Catatan perjanjian tersebut tertulis dalam catatan Imam al-Thabari dalam kitab Tarikh-nya. Perjanjian ini disaksikan oleh Khalid bin al-Walid, Umar bin al-‘Ash, ‘Abdurrahman bin Auf, Mu‘awiyah bin Abi Sufyan.


Perjanjian itu diteken pada 15 Hijriyah. Berikut isi perjanjian tersebut:


Bismillahirrahmanirrahim. Inilah pemberian hamba Allah, Umar, pemimpin orang-orang mukmin untuk penduduk Elia, yang berupa kemanan, bagi jiwa, harta, gereja, dan salib mereka, juga orang sakit, sehat, dan semua agama penduduk Elia. Gereja mereka itu tak boleh ditempati, dihancurkan, dikurangi bentuk gereja dan salib, dan sedikit pun dari harta mereka (tak boleh diambil). Mereka tak boleh dipaksa (meninggalkan) agama mereka.


“Satu pun dari mereka tak boleh disakiti. Dalam perjanjian ini, terdapat janji Allah, tanggung jawab Rasulullah, para penggantinya, dan orang-orang mukmin yang sudah diberikan jizyah (pajak),” ujarnya.


Source: makassar.terkini.id

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...