Opini

Parlemen

Sports

‘Social Listening’ Menjadi Solusi Ketika Terjadi Kebuntuan Komunikasi dengan Masyarakat

          ‘Social Listening’ Menjadi Solusi Ketika Terjadi Kebuntuan Komunikasi dengan Masyarakat
‘Social Listening’ Menjadi Solusi Ketika Terjadi Kebuntuan Komunikasi dengan Masyarakat.

‘Social Listening’ Menjadi Solusi Ketika Terjadi Kebuntuan Komunikasi dengan Masyarakat
BENTENGSUMBAR.COM - Perusahaan memerlukan adanya komunikasi untuk menyampaikan pesan secara tepat kepada publik dalam segala situasi. Tak terkecuali ketika terjadi krisis dalam program CSR – Corporate Social Responsibility, perusahaan harus mengambil langkah terbaik agar dapat mengendalikan krisis tersebut.


Keberhasilan ‘Komunikasi Krisis’ tergantung dari strategi komunikasi yang dibuat oleh perusahaan. Pelaksanaan strategi komunikasi yang tepat pada program CSR, dapat memberikan dampak pada reputasi perusahaan. Hal tersebut merupakan suatu bagian yang sangat penting untuk mendukung keberlanjutan sebuah perusahaan.


Lalu bagaimana krisis tersebut dapat bedampak buruk bagi keberlanjutan suatu perusahaan? Dan bagaimana cara berkomunikasi yang tepat untuk mengendalikan krisis pada suatu program CSR?


Pertanyaan itu semua dibongkar oleh para narasumber dalam sebuah acara yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting, diramu secara apik oleh pihak penyelenggara PT Olahkarsa Inovasi Indonesia berjudulkan “Olahtalks” pada hari Kamis, 03 Juni 2021, sejak pukul 14.00 – 16.30 wib dengan mengusung tema "Crisis Communication & Corporate Dialog in CSR Program".


Opening Speech oleh Martha Tri Lestari – Telkom University dan Unggul Ananta – CEO PT Olahkarsa Inovasi Indonesia. Narasumber: 1) Razie Razak, S.Sos., M.I.Kom., CIQaR – Lecture of Telkom University & CEO PT sikacak Teknologi Indonesia, dan 2) Choiria Anggraini, S.I.Kom., M.I.Kom – Lecture of Telkom University & Commisioner PT Olahkarsa Inovasi Indonesia, serta sebagai Moderator Imti Hanah dan Anisa Diniati.


Choiria Anggraini mengungkapkan bahwa ‘Social Listening’ menjadi kunci untuk keberhasilan dalam berkomunikasi. Jadilah pendengar yang baik. Biarkan warga masyarakat itu sendiri yang berbicara atau melepaskan ‘uneg-unegnya’.


“Sambil ngopi bareng dengan warga masyarakat setempat dan duduk-duduk di warung atau di bawah pohon dalam beberapa saat, biasanya akan banyak hal yang mengapung dan terungkap tentang apa saja permasalahan yang sedang dihadapi. Menjadi pendengar yang baik. Ini namanya Social Listening,” pungkas Choiria Anggraini membagi resepnya ketika terjadi kebuntuan dalam sebuah komunikasi.


Pada kesempatan lain, Razie Razak membawakan sebuah materi, “Dialog Communication Public Relations Perspektif”, dimana ‘Dialog’ itu dibutuhkan dengan tujuan untuk menyamakan atmosfir antara perusahaan dan para stakeholders – pejabat yang bertanggungjawab dalam program CSR serta masyarakat dimana program CSR ini dilaksanakan.


“Orientasi dialog adalah adanya hubungan saling menghargai, kemudian ada umpan balik yang diharapkan serta adanya perubahan dari sikap dan tindakan menuju capaian yang dikehendaki dalam program CSR dimaksud,” papar Razie Razak.


Materi yang disampaikan dalam ‘Workshop Course’ secara gratis ini antara lain: crisis cycle, crisis typologies, crisis respon dan corporate communication to engage stakeholder and public.


“Krisis bukanlah aib, tapi harus dikendalikan dan menjadi sebuah peluang untuk mendapatkan hasil sesuai tujuan semula,” Anisa Diniati mengakhiri acara yang dihadiri oleh pihak terkait program CSR di perusahaan dan umum. 


Laporan: H. Ali Akbar

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...