Ini Kata Ketua DPR RI Puan Maharani Soal Emansipasi Perempuan Masa Kini

BENTENGSUMBAR.COM - Sosok Raden Ajeng Kartini kerap muncul dalam pembicaraan-pembicaraan tentang emansipasi perempuan. Pemikirannya melampaui zaman, menyadarkan orang-orang bahwa perempuan bisa berjalan berdampingan bersama laki-laki, tanpa ada salah satu yang dikerdilkan.

“Emansipasi perempuan di masa kini berarti memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Memberi kaum perempuan ruang yang sama untuk maju di bidang apapun,” kata Ketua DPR RI Puan Maharani dalam keterangan tertulisnya.

Dia bangga bahwa di zaman sekarang masyarakat Indonesia mulai terbuka dengan pemikiran-pemikiran Kartini. Sekarang sudah menjadi hal umum melihat seorang ayah menyekolahkan anak perempuannya hingga sarjana karena merasa itu adalah haknya untuk mendapatkan pendidikan.

“Ini artinya, masyarakat Indonesia secara umum mulai memahami pentingnya pendidikan untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik, termasuk untuk perempuan,” ucap Puan.

Saat ini, lanjut dia, stigma masyarakat tentang perempuan yang bekerja juga telah bergeser menjadi fenomena yang lumrah. Sudah banyak perempuan berkarier di perkantoran, di pabrik-pabrik, maupun di dunia entrepreneurship. Bahkan tak jarang perempuan berhasil menduduki jabatan-jabatan kepemimpinan.

Riset mengungkapkan bahwa jabatan penting di perusahaan di dunia juga mulai diduduki oleh perempuan. Salah satu riset yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Grant Thornton menyoroti perkembangan peran perempuan pada posisi senior manajemen.

Pada laporan awal tahun 2004, persentase peran kepemimpinan oleh perempuan di dunia masih berada di angka 19%. Selama belasan tahun, tren ini terus meningkat hingga pada 2017 sekitar seperempat dari posisi level senior diduduki oleh perempuan.

Persentase tersebut meningkat lagi menjadi 29% pada 2019. Sementara itu pada tahun 2021, sekitar 31% jabatan senior manajemen di perusahaan di dunia dipegang oleh perempuan.

“Memang masih ada yang memandang sebelah mata. Tidak hanya laki-laki, tapi kadang perempuan sendiri juga masih terkungkung dalam pemikiran bahwa dia tidak bisa memegang tanggung jawab sebagai pemimpin,” lanjut mantan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini.

Sering kali, pemikiran seperti itu justru dimiliki oleh para perempuan. Seperti ada tali yang mengikat diri mereka sendiri untuk melangkah lebih jauh dalam mengembangkan potensi mereka. Alasan yang paling sering diutarakan adalah karena perempuan memprioritaskan keluarga.

“Perempuan ini memang unik, menjalani peran ganda sebagai istri yang mengurus persoalan rumah tangga juga sebagai seorang yang meniti karier. Kalau sudah punya anak lebih ruwet lagi tanggung jawabnya,” ujar Alumni FISIP Universitas Indonesia ini.

Padahal, lanjut dia, perempuan tidak boleh memandang rendah diri hanya karena dia perempuan, lalu membelenggu potensi sendiri. Puan mengatakan bahwa perempuan bisa melakukan apapun, termasuk menduduki posisi tertinggi dalam suatu kepemimpinan, asal punya keinginan yang kuat untuk melakukan hal itu.

“Perempuan bisa kok menjadi seorang pemimpin, di bidang apapun tapi tetap menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu. Kenapa? Karena saat ini saya melakukannya. Kalau saya bisa, maka perempuan Indonesia di manapun berada juga bisa melakukan hal sama, bahkan mungkin lebih,” tutur perempuan pertama yang menjabat Ketua DPR ini.

Dia mengatakan bahwa menjadi seorang pemimpin bukan berarti mengabaikan peran dalam keluarga. Hal ini juga berlaku untuk laki-laki. Setinggi apapun pangkat mereka di luar rumah, dia tetap seorang ayah dan suami ketika melangkah masuk ke lingkungan keluarga.

“Menjadi pemimpin di perusahaan bukan alasan untuk mengabaikan perannya dalam keluarga. Keluarga seharusnya menjadi pendukung terbaik dalam pengembangan karier,” tutur Puan.

Tanpa dukungan keluarga, lanjut dia, seseorang tidak mungkin dapat mencapai puncak karirnya. Perempuan yang berkarier harus mempunyai supporting system yang kuat yang bisa membantunya menjalani peran-peran tersebut.

Puan mengaku beruntung karena lahir dan tumbuh dengan melihat langsung bagaimana Megawati Soekarnoputri, sang ibunda, menjalankan perannya. Megawati memberikan contoh kepada Puan bahwa seorang perempuan mampu menjalankan kewajiban sebagai pemimpin dengan tanpa meninggalkan tugas sebagai istri sekaligus ibu.

“Saya belajar bahwa emansipasi telah memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk berprestasi di berbagai bidang, sama seperti laki-laki. Tapi emansipasi perempuan ini juga tetap harus dijaga agar tidak keluar dari koridornya,” ucap Puan.

Menurut dia, perempuan Indonesia harus bisa ikut memajukan masyarakat dan negara, membuktikan berprestasi sehingga menjadi kebanggaan Indonesia juga keluarga.

“Peran perempuan itu penting dalam menentukan kemajuan keluarga dan lingkungannya. Namun sebelum itu, perempuan harus bisa mensejahterakan dirinya, mensejahterakan keluarganya dulu, baru kemudian menyejahterakan lingkungannya,” kata Puan.

Dia menegaskan bahwa di tengah pandemi Covid-19, peran ibu semakin krusial. Para ibu ini berperan untuk mencukupi kebutuhan gizi bagi keluarganya, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, serta menerapkan kebiasaan baru di sekitarnya.

Laporan: Mela

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »