Headline

Opini

PADANG

Sports

Ketua DPR Puan Maharani: Kesetaraan Gender Menjadi Pondasi dalam Membentuk Keluarga Harmonis

          Ketua DPR Puan Maharani: Kesetaraan Gender Menjadi Pondasi dalam Membentuk Keluarga Harmonis
BENTENGSUMBAR.COM - Kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki dalam keluarga ternyata sangat penting demi terciptanya keharmonisan keluarga. Apalagi, keluarga adalah unsur terkecil yang membangun sebuah bangsa. Semakin banyak keluarga Indonesia yang sejahtera, tentu semakin maju bangsa ini.

“Keluarga merupakan unsur terpenting dari sebuah bangsa. Dari keluarga-keluarga ini akan lahir generasi penerus bangsa yang unggul,” kata Ketua DPR RI Puan Maharani dalam keterangan tertulisnya.

Dia mengatakan bahwa prinsip dasar dalam kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki dimulai dari keluarga. Hal ini dipraktikkan dengan berbagai upaya pembagian peran dan tugas antar seluruh anggota keluarga.

Pasalnya, selama ini peran perempuan dan laki-laki terlalu terkotak-kotak. Padahal, sebenarnya gender di sini bukan dilihat  dari segi anatomi biologis. Lebih dari itu, laki-laki dan perempuan seharusnya dilihat dari sudut pandang yang sama baik secara peran, perilaku maupun dalam konstruksi sosial.

Perlu diketahui, diskriminasi berdasarkan gender masih terjadi di semua aspek kehidupan, di seluruh dunia. “Ini adalah fakta meskipun ada kemajuan yang cukup pesat dalam kesetaraan gender dewasa ini, tapi pada kenyataannya perempuan belum bisa menikmati kesetaraan dalam hak-hak hukum, sosial, dan ekonomi,” ucap Puan.

Dia mencontohkan negara maju seperti Amerika Serikat pun masih ditemukan praktik-praktik diskriminasi gender. Dalam beberapa kasus, misalnya, perempuan mendapatkan upah yang lebih rendah ketimbang laki-laki untuk jenis pekerjaan dan jabatan yang sama.

Belum lagi masih terjadi kasus-kasus pelecehan seksual pada perempuan di tempat umum maupun tempat kerja. Oleh karena itu, kesetaraan gender merupakan persoalan pokok suatu tujuan pembangunan bangsa yang memiliki nilai tersendiri.

Selama ini perempuan dan anak perempuan memang menanggung beban paling berat akibat ketidaksetaraan yang terjadi. Namun begitu, pada dasarnya ketidaksetaraan gender merugikan semua orang.

Maka tidak mengherankan jika dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang disusun PBB, terdapat setidaknya 16 goals dan 91 target--dari total 17 goals dan 169 target--terkait kesetaraan gender, hak asasi perempuan, dan anak perempuan.

Meski demikian, Indonesia sendiri masih tertinggal untuk urusan kesetaraan gender. Indeks kesetaraan gender yang dirilis Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 103 dari 162 negara, atau terendah ketiga se-ASEAN. Tak hanya itu, Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Indonesia per 2018 berada di angka 90,99. Kemudian, Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) berada pada angka 72,1. Ini berarti jalan menuju kesetaraan gender di Indonesia masih panjang.

Oleh karena itu, Puan menekankan pentingnya peran suami dan istri dalam sebuah keluarga untuk membentuk pola asuh anak yang mampu membentuk mereka menjadi pribadi yang jauh dari sikap diskriminatif. Harapannya, akan tumbuh generasi baru yang memegang nilai-nilai kesetaraan gender.

“Suami dan istri harus berbagi peran dan tugas yang seimbang dalam keluarga. Anak-anak ini seharusnya melihat bahwa peran kedua orang tua mereka sama yaitu sebagai orang tua, yang mendidik, menyayangi, dan mengurus rumah tangga bersama-sama,” kata alumni FISIP Universitas Indonesia ini.

Menurut Puan, pengasuhan anak tidak boleh dibebankan kepada satu pihak saja, yang dalam hal ini sering dibebankan kepada perempuan. Selain itu, seorang perempuan juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan karier di luar rumah sama seperti laki-laki.

Begitupun untuk kehidupan di rumah. Pembagian tugas harus dilakukan secara adil dan disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu suami dan istri. Dengan melihat keadilan atau kesetaraan ini, anak akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak mudah mendiskriminasi dan terdiskriminasi oleh orang lain.

Harvard Business Review mencatat bahwa hadirnya suami yang ikut berperan dalam mengerjakan tugas rumah tangga dalam jangka waktu lama turut berpotensi terhadap perubahan besar dalam norma-norma gender, baik itu di rumah maupun di tempat kerja.

“Suami dan istri ini seperti mitra yang berjalan bersama dalam mengelola manajemen keuangan, manajemen waktu, pekerjaan, dan manajemen rumah secara terbuka dan transparan,” tutur Politikus PDI Perjuangan ini.

Selain itu yang terpenting kata Puan, suami dan istri tidak boleh melakukan marginalisasi atau subordinasi terhadap satu sama lain. Dalam membangun keluarga, lanjut dia, diperlukan kerja sama yang solid antara perempuan dan laki-laki.

“Jangan ada labelisasi atau stereotype, baik suami atau istri. Jangan melakukan kekerasan baik kepada suami atau istri atau anak, juga jangan mengeksploitasi beban kerja terlalu berat baik kepada suami atau istri. Ini penting agar tercipta keluarga yang harmonis,” ucap mantan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...