Headline

Opini

PADANG

Sports

Ketua DPR Puan Maharani: Peran Sentral Perempuan dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

          Ketua DPR Puan Maharani: Peran Sentral Perempuan dalam Adaptasi Kebiasaan Baru
BENTENGSUMBAR.COM - Ketua DPR RI Puan Maharani mengungkapkan rasa bangga telah terlahir sebagai perempuan. Menurut dia, peran perempuan semakin sentral di masa pandemi ini. Para perempuan kerap harus mengambil peran ganda sebagai pengelola rumah tangga, seorang ibu, serta sebagai agen perubahan.

“Di masa pandemi ini, perempuan berperan sangat penting sebagai pembaharu yang mengubah perilaku sesuai adaptasi kebiasaan baru,” kata Puan.

Dia mengatakan bahwa seorang perempuan terbiasa mengedepankan kepentingan semua anggota keluarga. Seorang istri biasanya akan terus mengingatkan suami soal protokol kesehatan, bahkan sampai menyiapkan cadangan masker, vitamin, sabun, hand sanitizer, juga memasak makanan sehat.

Peran seorang ibu juga begitu penting dalam penerapan kebiasaan baru yang menyesuaikan anjuran protokol kesehatan. Para ibu adalah guru pertama anak-anak sehingga mereka dapat membiasakan anak-anak berperilaku bersih dan sehat di dalam serta di luar rumah.

“Sekarang ini anak-anak juga bisa terpapar Corona, jadi ibu-ibu harus semakin waspada. Anak-anak ini harus diajari bagaimana menerapkan protokol kesehatan di manapun, lalu nantinya ini menjadi kebiasaan mereka sehari-hari,” tutur Puan.

Dia menyadari, bahwa tanggung jawab seorang perempuan yang sudah menikah apalagi sudah memiliki anak, menjadi lebih rumit dan berat. Apalagi pada masa pandemi, perempuan menjadi ujung tombak penerapan protokol kesehatan di lingkup keluarga.

Hal senada juga disampaikan oleh Ahli Psikologi Politik Universitas Indonesia, Prof Hamdi Muluk. Dia mengatakan bahwa perempuan lebih patuh terhadap protokol kesehatan. Dia bahkan mengatakan perlu kampanye protokol kesehatan yang khusus menyasar kaum laki-laki.

Dalam streaming akun Youtube BNPB bertema “Benarkah Perempuan Lebih Sukses Mengubah Perilaku?” pada akhir tahun lalu, Hamdi mengutip beberapa literasi dan kajian yang menyebutkan bahwa persentase jumlah laki-laki yang terinfeksi Covid-19 selalu lebih tinggi ketimbang perempuan, yaitu sekitar 59% lebih.

Selanjutnya dia juga menyatakan bahwa ketidakpatuhan tersebut terjadi ketika berada di ruang-ruang publik, saat bekerja, dan di keramaian. Padahal, tempat-tempat ini justru merupakan hotspot transmisi Covid-19.

Lebih jauh, Hamdi menemukan bahwa di tingkat lingkungan rumah tangga, laki-laki justru menunjukkan perilaku tertib dalam menaati protokol kesehatan. Artinya, terdapat peran perempuan yang mendorong para laki-laki di rumah untuk menerapkan prokes ketat.

Beberapa peneliti baru-baru ini mencoba menganalisis perilaku laki-laki terkait penggunaan masker. Di antaranya survei oleh Dosen senior di bidang Ekonomi di Universitas Middlesex, Valerio Capraro dan Kanada Hélène Barcelo, dari Institut Penelitian Ilmu Matematika, Berkeley.

Riset terhadap hampir 2.500 orang yang tinggal di Amerika Serikat itu menemukan bahwa pria lebih jarang memakai masker dibandingkan perempuan. Para laki-laki ini, berdasarkan survei tersebut, diketahui enggan memakai masker karena menganggapnya memalukan, tidak keren, atau merupakan tanda kelemahan.

Oleh karena itu, tak salah jika Puan menekankan bahwa perempuan harus mengambil peran yang lebih besar dalam menerapkan kebiasaan baru di lingkungan sekitarnya. Menurut dia, perempuan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara yang unik.

“Coba, perempuan itu pasti yang paling gencar mengingatkan semua orang di rumahnya untuk pakai masker, cuci tangan, dan seterusnya. Memang kodrat perempuan seperti itu, melindungi,” ucap Puan.

Mantan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini juga menekankan bahwa perempuan harus memanfaatkan hal tersebut untuk membantu penerapan adaptasi kebiasaan baru dalam lingkup yang lebih luas.

“Perempuan juga harus ambil peran untuk memberi contoh terbaik dalam penerapan protokol kesehatan sekaligus mensosialisasikannya kepada masyarakat lebih luas,” tutur dia.

Meski demikian, Puan mengingatkan bahwa semua orang, terlepas dari dia seorang perempuan ataupun laki-laki, memiliki tanggung jawab moral kepada masyarakat dan bangsa.

Menurut dia, persoalan protokol kesehatan bukan lagi menyangkut prinsip individu, melainkan sebuah kesepakatan bersama yang dibuat demi kepentingan bangsa. Dengan menjalankan protokol kesehatan, berarti kita sudah berpartisipasi dalam perjuangan Indonesia untuk lepas dari pandemi.

“Bencana ini menimpa kita semua tanpa pandang bulu. Jadi kalau kita ingin sembuh dari pandemi ini, semua warga negara wajib bergotong-royong. Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua elemen bangsa punya andil, yang paling sederhana tapi sangat penting adalah adaptasi kebiasaan baru,” kata Puan.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...