Headline

Opini

SOROT

Sports

Stigma Tugas Perempuan Hanya di “Dapur” Menghambat Peluang Perempuan dalam Berwiraswasta

          Stigma Tugas Perempuan Hanya di “Dapur” Menghambat Peluang Perempuan dalam Berwiraswasta
Ilustrasi. Stigma Tugas Perempuan Hanya di “Dapur” Menghambat Peluang Perempuan dalam Berwiraswasta.

Stigma Tugas Perempuan Hanya di “Dapur” Menghambat Peluang Perempuan dalam Berwiraswasta
BENTENGSUMBAR.COM - Perempuan masih harus menghadapi stigma masyarakat yang menyatakan bahwa  tugas seorang perempuan hanya di ranah domestik. Padahal, ketika peluang itu terbuka, banyak perempuan yang mampu mematahkan stigma tersebut dengan meraih kesuksesan di atas rata-rata.


Bagi perempuan yang telah menikah dan memiliki anak, pilihan untuk berkarier sebagai pengusaha maupun bekerja purna waktu belum menjadi urgensi. Sebagian kaum laki-laki pun masih memiliki pemikiran bahwa pekerjaan rumah tangga dan mendidik anak adalah tugas perempuan.


Hal ini ditunjukkan dari jawaban survei berjudul Advancing Women in Entrepreneurship tahun 2020 yang menyatakan bahwa sebanyak 52% perempuan percaya mereka seharusnya boleh bekerja purna waktu setelah menjadi ibu, sedangkan laki-laki yang setuju hanya 41%.


Sementara itu, sekitar 60% perempuan percaya bahwa mengurus dan mendidik anak adalah tugas perempuan, meskipun angka ini lebih baik ketimbang tahun 2017 yakni sebesar 80%. Artinya dalam tiga tahun, pergeseran pemikiran tersebut terjadi secara cukup signifikan di antara kaum perempuan sendiri.


Laki-laki pun menunjukkan tren perkembangan, dengan menjawab 21% dari mereka mau memikul tanggung jawab pengasuhan anak. Padahal pada tahun 2017, responden laki-laki yang menjawab seperti ini masih di angka 6%.


Dalam banyak kasus di Indonesia, anak-anak tumbuh tanpa benar-benar mengenal dekat sosok ayah mereka. Ketika dewasa, mereka memiliki bonding yang kurang erat dengan ayah karena pada masa tumbuh kembangnya jarang berinteraksi sebagai anak dan orang tua.


Padahal, pendidikan anak merupakan tanggung jawab kedua orang tua. Seorang ayah juga perlu mengambil peran dalam proses tumbuh kembang anak, dan tidak berhenti pada tugas mencari nafkah saja. Anak yang tumbuh dengan melibatkan kedua orang tua pun terbukti lebih unggul dari segi kognitif.


Dari hasil penelitian yang dilakukan, anak-anak yang ayahnya terlibat dalam pendidikan cenderung memiliki tingkat kognitif lebih tinggi, tingkat IQ yang lebih baik, dan mampu mencapai kesuksesan akademis secara keseluruhan.


Oleh karena itu, tanggung jawab dalam mendidik anak harus didasarkan pada kerja sama antara suami dan istri sebagai partner yang setara untuk mencapai tujuan bersama.


Kembali ke survei yang dilakukan oleh Google dan Kantar. Riset tersebut juga menyatakan  bahwa ketimpangan terjadi terkait pembagian pekerjaan rumah tangga antara laki-laki dan perempuan dalam hubungan rumah tangga.


Setiap harinya, perempuan menghabiskan kira-kira 3,1 jam untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, sedangkan laki-laki mengaku menghabiskan 2,5 jam.


Tak hanya itu, 67% perempuan berkata mereka memikul tanggung jawab utama dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dan hanya 24% laki-laki yang menyatakan bahwa ini juga merupakan tanggung jawab mereka.


Masih banyak laki-laki yang beranggapan bahwa dapur adalah ranah kerja perempuan. Oleh karena itu, mereka jarang sekali membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan merasa cukup bertanggung jawab dengan mencari nafkah.


Mereka lupa bahwa di restoran-restoran atau hotel-hotel, laki-laki lebih banyak bekerja di dapur menjadi seorang koki dan sejenisnya. Hal ini juga berlaku di banyak industri kuliner di dunia di mana proporsi chef laki-laki justru mendominasi ketimbang chef perempuan.


Di sisi lain, sejak lama perempuan telah mendominasi sektor informal, terutama UMKM dan bisnis rumahan sebagai bagian dari peran mereka dalam membantu perekonomian keluarga. Cukup banyak perempuan yang membuka bisnis kuliner seperti katering, menjual kue kering saat Lebaran, dan semacamnya.


Hal tersebut terlihat dari tingkat kesetaraan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia dalam berwirausaha yang termasuk paling tinggi di kawasan Asia pasifik. Laporan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) 2019 mengungkapkan bahwa rasio kegiatan wirausaha antar gender di Indonesia tercatat sebesar 1,01, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 0,69.


Di posisi kedua ialah Thailand dengan rasio 0,96, disusul Taiwan dengan angka 0,87, Tiongkok sebesar 0,82, Korea Selatan yakni 0,72, lalu India dan Jepang dengan masing-masing rasio 0,62 dan 0,60.


Rasio kesetaraan kegiatan wirausaha Indonesia tersebut mencetak peringkat pertama di kawasan Asia Pasifik sekaligus peringkat kedua dari 48 negara yang disurvei. Selain itu, persentase perempuan yang berkegiatan wirausaha sebanyak 14,1% dari total penduduk dewasa perempuan.


Hal tersebut membuktikan bahwa perempuan memiliki peluang yang lebih tinggi untuk sukses di bidang informal. Terlebih lagi sektor ini memberikan perempuan fleksibilitas yang lebih baik untuk mengatur peran ganda di rumah tangga, ketimbang bekerja di sektor formal.


(*)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...