Headline

Opini

SOROT

Sports

Mendobrak Tradisi, Ini Keunggulan yang Dimiliki Pemimpin Perempuan

          Mendobrak Tradisi, Ini Keunggulan yang Dimiliki Pemimpin Perempuan
Ilustrasi. Mendobrak Tradisi, Ini Keunggulan yang Dimiliki Pemimpin Perempuan.

Mendobrak Tradisi, Ini Keunggulan yang Dimiliki Pemimpin Perempuan
BENTENGSUMBAR.COM - Perempuan ternyata memiliki kemampuan yang mumpuni sebagai seorang pemimpin. Dalam beberapa hal, kaum hawa ternyata memiliki keunggulan tersendiri yang dapat membawa perubahan signifikan terhadap organisasi ketika mereka mendapat kepercayaan dan tanggung jawab kepemimpinan.


Menurut survei Pew Research di Amerika Serikat, sejumlah 34% karyawan menyatakan bahwa perempuan lebih unggul daripada laki-laki dalam hal kejujuran dan etika. Sedangkan pada laki-laki persentasenya hanya 3%.


Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan, kualitas ini sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. Kejujuran dan etika wajib menjadi modal seorang leader yang baik.


Dengan demikian, dia bisa menjaga kepercayaan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Selain itu, dengan etika yang baik, negosiasi bisnis dan relasi dengan pihak-pihak penting menjadi lebih mudah dibangun dan bisa bertahan lama.


Kualitas lain yang mesti dipunyai oleh seorang pemimpin adalah kemampuan menyelesaikan masalah. Berdasarkan riset McMaster University, perempuan cenderung menjadi pemimpin organisasi yang baik karena kemampuannya dalam mengambil keputusan.


Survei tersebut mengungkapkan perbedaan mendasar antara pemimpin laki-laki dan perempuan dalam mengambil keputusan. Pria cenderung memutuskan suatu kebijakan berdasarkan tradisi, aturan, dan regulasi, sedangkan perempuan lebih inkonvensional, mempertimbangkan kepentingan semua stakeholders, mengedepankan kerja sama, serta memutuskan berdasarkan data dan fakta.


Tak hanya itu, riset McQueen dan Bart mengungkapkan bahwa perempuan memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang lebih berkualitas sehingga lebih efektif memimpin daripada pria.


Para pemimpin perempuan, lanjut riset tersebut, mampu memberikan organisasi sebuah pandangan atau strategi untuk menghadapi berbagai masalah sosial dan tantangan yang sedang dihadapi organisasi.


Selain kelebihan-kelebihan di atas, ternyata perempuan juga unggul dalam soft skills. Perasaan perempuan yang dianggap lebih emosional daripada pria ternyata menjadi keunggulan perempuan ketika memimpin.


Sebuah studi oleh perusahaan konsultan global Hay Group, menemukan bahwa perempuan mengungguli pria dalam 11 dari 12 kompetensi kecerdasan emosional utama.


Lebih dari itu, memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menduduki jabatan penting dalam organisasi ternyata membawa dampak positif terhadap perkembangan organisasi atau perusahaan secara keseluruhan.


Sebuah studi pada tahun 2007 menemukan bahwa keterwakilan perempuan dalam jajaran pimpinan perusahaan mampu memberikan pengembalian modal investasi (ROCI) 66% lebih tinggi, pengembalian ekuitas (ROE) 53% lebih tinggi, dan keuntungan penjualan sebesar 42% lebih tinggi.


Meski demikian, sayangnya perempuan belum banyak dipercaya memegang jabatan kepemimpinan dalam organisasi. Banyak orang masih skeptis dengan kemampuan perempuan dalam memimpin.


Menurut studi Women in the Workplace dari McKinsey & Company, yang mensurvei lebih dari 64.000 karyawan di 279 perusahaan, di mana mereka mempekerjakan 13 juta orang, hanya satu dari lima pemimpin seniornya yang merupakan perempuan.


Meski demikian, tren kepemimpinan perempuan tampaknya mengalami peningkatan selama masa pandemi. Menurut laporan tahunan Grant Thornton berjudul Women in Business 2021, jumlah perempuan yang memegang posisi manajemen senior di perusahaan secara global telah mencatat kenaikan ke angka 31%.


Persentase tersebut cukup menggembirakan mengingat kondisi ekonomi global yang memprihatinkan selama pandemi Covid-19. Dalam dua tahun berturut-turut, pada 2018 dan 2019, perolehan angka persentasenya hanya mencapai 29%.


Bagaimana dengan Indonesia? Pada tahun 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 2,82 juta penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja memiliki jabatan manajerial.


Dari angka tersebut baru sebanyak 33,08% yang merupakan perempuan. Proporsi perempuan pada posisi manajerial ini masih tertinggal dari laki-laki yang mencapai 66,2%.


Sementara itu berdasarkan lokasi, proporsi pekerja perempuan di posisi manajerial yang berada di perkotaan sebesar 33,1%. Sedangkan di pedesaan, proporsi pekerja perempuan yang menempati jabatan manajerial sebesar 33,03%.


Adapun berdasarkan sektor, proporsi perempuan pada posisi manajerial paling banyak berada di sektor jasa, yakni  37,9%. Proporsi perempuan dengan jabatan manajerial di sektor industri sebesar 20,5%, sedangkan di sektor pertanian 20,08%.


Persentase jumlah kepemimpinan perempuan pada tahun 2020 tersebut sebenarnya juga mengalami kenaikan. Pasalnya pada 2019, hanya 21,66% perempuan yang terjun sebagai tenaga kepemimpinan. Jumlahnya tak jauh berbeda dengan tahun 2018, yakni sebanyak 20,22% perempuan yang memegang jabatan manajerial.


(*)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...