Headline

Opini

PADANG

Sports

Ada Kasus Virus Marburg, Puan Maharani: Hati-hati, Belajar dari Corona

          Ada Kasus Virus Marburg, Puan Maharani: Hati-hati, Belajar dari Corona
BENTENGSUMBAR.COM - Ketua DPR RI Dr. (H.C) Puan Maharani mengingatkan pemerintah untuk waspada akan munculnya virus Marburg (MVD) di Guinea, Afrika Barat, pada 2 Agustus 2021. Pasalnya, Organisasi Kesehatan dunia (WHO) mengingatkan bahwa kasus ini memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi, yaitu 88 persen.

"Kita belajar dari penyebaran Covid-19 yang sekarang berlangsung hampir dua tahun. Adanya kemunculan wabah penyakit harus ditanggapi serius dan penuh kehati-hatian," kata Puan.

Sebenarnya, virus Marburg ini bukanlah wabah yang baru, kemunculannya pernah terjadi pada 1967. Penyakit ini menyebabkan demam berdarah yang parah pada manusia. Virusnya sendiri ditemukan di Marburg dan Frankfurt di Jerman serta Beograd di Serbia.

"Kita memang belum tahu urgensi dari penyebaran virus ini. Namun, kita tetap perlu kesiapan dan kewaspadaan untuk dapat menangani masuknya berbagai wabah penyakit ke Indonesia. Harus ada strategi pencegahan dan kesiagaan fasilitas kesehatan," kata Puan.

WHO menyatakan bahwa virus Marburg memiliki kecenderungan infeksi hingga muncul gejala selama dua hari hingga 21 hari. Gejala yang dirasakan bisa berupa demam tinggi, sakit kepala parah, dan rasa lelah yang disertai tidak enak badan.

Selain itu, penderita juga bisa merasakan nyeri otot dan nyeri badan lainnya. Tidak hanya itu, gejala juga bisa timbul berupa diare berair yang parah, sakit perut dan kram, serta mual dan muntah. Perubahan fisik juga terlihat seperti wajah terlihat tidak berekspresi, mata cekung, dan lesu yang esktrem.

Masih banyak gejala lainnya yang timbul dari penyebaran virus ini. Bahkan, penderita juga dikatakan bisa terkena masalah pada sistem saraf pusat. Kemudian, perasaan kebingungan, lekas maran, dan agresif dapat timbul. Makanya, penyakit ini perlu diwaspadai.

Melihat gejala yang tersebut di atas, Puan memandang bahwa memang evaluasi kemungkinan penyebaran harus dilakukan. Pasalnya,  WHO juga menyatakan bahwa penyakit ini belum ada vaksin atau perawatan antivirusnya.

Jangan sampai hal yang sama saat awal pandemi Covid-19 terjadi lagi. Saat itu, penderita baru bisa menerima perawatan suportif yang meningkatkan kelangsungan hidup.

Perlu diingat juga bahwa virus Marburg memiliki risiko kematian yang tinggi. Pada manajemen virus yang rendah dan perawatan yang buruk, tingkat kesembuhan menjadi semakin kecil.

"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, maka dari itu pentingnya tindakan antisipasi dan rencana mitigasi dari berbagai dampak penyebaran virus ke depannya," kata Puan.

Puan juga menganggap bahwa pemerintah melalui Dinas Kesehatan sepatutnya selalu bekerja sama dengan para ilmuwan dan peneliti untuk melihat adanya kemungkinan penyebaran virus selanjutnya. Seperti bencana alam, masalah ini harus segera mendapatkan perhatian yang besar.

Menurut Puan, tidak ada lagi satu orang pun yang ingin melewati pandemi jilid dua. Padahal, di saat yang sama, Pandemi Covid-19 pun belum jelas akhirnya. Jika tidak ada antisipasi, ujungnya akan membuat masyarakat terkena dampak yang semakin besar.

“Saat ini kita masih belajar mengendalikan penyebaran Covid-19 dan mengantisipasi keberlanjutan kehidupan masyarakat berdampingan dengan virus ini. Jangan sampai disusul dengan berbagai penyakit lainnya yang malah lebih membahayakan,” kata Puan.

Tugas tenaga kesehatan (nakes) pun akan menjadi lebih berat. Selama masa Pandemi Covid-19 ini saja, nakes Indonesia sudah banyak yang mulai bertumbangan. Takutnya bila penanganan semakin kacau dan ditambah dengan penyakit lainnya, sumber daya nakes akan semakin habis.

“Antisipasi juga melihat adanya kemungkinan Indonesia krisis nakes. Kita pasti tidak mau hal itu terjadi. Bagaimana pun, nakes adalah garda terdepan dalam menjaga kesehatan bangsa,” kata Puan.

Oleh karena itu, cucu Bung Karno itu mengajak pemerintah dan masyarakat untuk selalu waspada terhadap perkembangan virus-virus baru yang menyebar secara global. Bukannya tidak mungkin virus itu akan masuk ke Indonesia sebagai sebuah penyakit baru. Tindakan pencegahan penyebaranlah yang harus dikedepankan.

“Kita harus punya ketahanan kesehatan yang mapan, tidak bisa goyah dan diganggu oleh kemungkinan apa pun. Mari bersama kita jaga kesehatan bangsa untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” kata Puan.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...