Headline

Opini

PADANG

Sports

Jawab Audy soal Mobnas Baru Gubernur dan Wagub Sumbar, Irwan Prayitno: Namanya Hak, Bisa Saja Ditolak

          Jawab Audy soal Mobnas Baru Gubernur dan Wagub Sumbar, Irwan Prayitno: Namanya Hak, Bisa Saja Ditolak

Jawab Audy soal Mobnas Baru Gubernur dan Wagub Sumbar, Irwan Prayitno: Namanya Hak, Bisa Saja Ditolak
BENTENGSUMBAR.COM - Gubernur Sumatera Barat periode 2010-2020, Irwan Prayitno akhirnya menanggapi komentar Wakil Gubernur Sumbar Audy Joenaldy terkait penganggaran mobil dinas Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Barat yang baru saja dibeli, ditengah rakyat terpekik menghadapi pandemi.


"Sebetulnya saya tidak ingin berkomentar terkait apa yang terjadi di Pemda Propinsi Sumbar akhir-akhir ini. Apalagi Gubernurnya se partai dengan saya. Tidak ingin berkomentar di publik karena tak elok. Toh, saya bisa langsung menghubungi Buya Gubernur," ungkap Irwan Prayitno kepada BentengSumbar.com, Selasa malam, 17 Agustus 2021.


Namun, kata Irwan Prayitno, membaca berita di media yang berjudul "Audy: Mobnas Dianggarkan Gubernur Sebelumnya", maka dirinya tergelitik juga berkomentar sedikit saja. 


"Judulnya memang benar, tapi narasinya yang kurang pas," kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) asal Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang ini.


"Di PP nomor: 109 tahun 2000 pasal 7 (1) berbunyi: Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah disediakan masing-masing sebuah kendaraan dinas. Kendaraan dinas adalah hak bagi kepala daerah dan wakilnya. Maka wajib dianggarkan. DPRD pasti setuju karena ini aturan bahkan saat pembahasan RAPBD 2021 lalu,  yang bersemangat menganggarkan kendaraan dinas ini dari banyak partai, karena bisa jadi kawan se partainya yang akan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur nantinya," urai Irwan Prayitno.


Meski demikian, jelas Irwan Prayitno, setelah ketok palu di DPRD dan teranggarkan, maka terserah Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah untuk membeli atau memakainya. 


"Namanya hak, bisa saja ditolak. Anggaran yang ditolak bisa kembali dianggarkan melalui mekanisme normal yaitu anggaran perubahan atau di zaman Covid ini ada refokusing anggaran," tegasnya.


Irwan Prayitno pun menceritakan, pada tahun 2010, dirinya sempat menolak anggaran kendaraan dinas dan akhirnya memakai mobil pribadi, termasuk istri Gubernur. 


Tak hanya itu, dirinya juga menolak pembangunan rumah dinas Gubernur yang sudah tidak layak. Bahkan dalam perjalanan dengan menggunakan pesawat, Irwan pun mengaku menolak naik kelas bisnis. 


"Saya dulu di tahun 2010 sempat menolak anggaran kendaraan dinas dan akhirnya memakai mobil pribadi termasuk istri Gubernur. Saya pun menolak pembangunan rumah dinas Gubernur yang sudah tidak layak. Dalam perjalanan naik pesawat, saya pun menolak naik bisnis klas. Tentu banyak juga hak Gubernur yang ditolak," tukuknya.


Irwan Prayitno meminta Wagub Audy agar jangan menyalahkan Gubernur sebelumnya dalam penganggaran kendaraan dinas tersebut. 


"Jadi, janganlah Gubernur sebelumnya disalahkan dalam menganggarkan. Coba kita balik berpikirnya. Apa yang terjadi kalau Pemda dan DPRD tidak menganggarkan hak kepala daerah dan wakil kepala daerah baru. Tentu muncul lagi polemik dan masalah baru," katanya.


Irwan berharap, penjelasannya tersebut tidak memperkeruh suasana yang sudah keruh saat ini. 


"Mudah-mudahan sedikit penjelasan ini tidak memperkeruh suasana yang sudah keruh saat ini. Maaf bila ada yang tidak berkenan.  Saya hanyalah rakyat biasa yang juga perlu dihormati sebagaimana rakyat lainnya," pinta Irwan.


(by)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...