Headline

Opini

PADANG

Sports

Media Asing Menilai Indonesia Terburuk Tangani Corona

          Media Asing Menilai Indonesia Terburuk Tangani Corona
VAKSINASI : Seorang wanita tengah menjalani vaksinasi dan saat disematkan vaksin putranya memperhatikan. (FOTO: BENTENGSUMBAR/CDC/Unsplash)

Media Asing Menilai Indonesia Terburuk Tangani Corona
BENTENGSUMBAR.COM - Virus Corona varian Delta menjadi momok dan kambing hitam di banyak Negara. Jadi momok, karena virus ini memiliki daya sebar  yang tinggi. Sementara varian ini menjadi kambing hitam, karena terlambat atau buruk penanganannya pasien meninggal.


Covid-19 Varian Delta hingga kini masih menjadi alasan melonjaknya kasus di beberapa negara, meski telah banyak negara yang telah melakukan vaksinasi diatas 50%. Tak terkecuali Amerika Serikat, varian Delta mengharuskan pemerintah kembali membuat kebijakan pengetatan pembatasan. Untungnya, total kasus kematian jauh lebih rendah daripada gelombang sebelumnya.


Beberapa negara lain di Eropa sudah mulai menampakkan tanda-tanda kembali ke kehidupan normal. Salah satunya Norwegia, berdasarkan data yang dirilis oleh Bloomberg, Norwegia hampir selesai memvaksinasi seluruh warganya, di sisi lain juga tingkat kematian yang rendah.


Bloomberg, salah satu media teerkemuka di USA, merilis beberapa negara terbaik dan terburuk dalam mengatasi wabah Corona. Seperti Swiss, yang sementara menduduki posisi kedua, dan Selandia Baru di posisi ketiga. Keduanya dinilai memiliki data transparan COVID-19, kualitas layanan kesehatan yang baik hingga angka kematian Corona berhasil ditekan.


Terburuk?


Sayangnya, Indonesia dinilai Bloomberg menjadi negara terburuk penanganan COVID-19. Mereka menyoroti lebih dari 1.300 orang yang wafat setiap harinya karena Corona, sementara cakupan vaksinasi masih rendah sekitar 11,9 persen.


“Ini adalah kebingungan yang dihadapi oleh tempat-tempat berperingkat rendah lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan Bangladesh, memperkuat kesenjangan kaya-miskin. Seperti apa yang disebut kepala Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus, disebut sebagai ‘kegagalan moral bencana’ dalam akses vaksin,” demikian laporan Bloomberg Rabu, 28 Juli 2021.


Pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman baru-baru ini juga menilai krisis COVID-19 di Indonesia akan bertahan lebih lama dengan COVID-19 varian Delta yang terus mendominasi. Akibatnya, Indonesia dinilai menjadi salah satu negara terakhir yang akan keluar dari krisis pandemi Corona


Hal tersebut, menurutnya, juga didorong kebijakan atau strategi pengendalian COVID-19. Di awal wabah yang dinilai lamban lantaran tidak kunjung memprioritaskan persoalan kesehatan.


“Fokus kita di awal itu, ketika kita bisa memilih antara ekonomi, kesehatan, dan politik, kita nggak milih kesehatan, kita milihnya bareng-bareng semua, saat itu padahal kita masih punya pilihan,” jelas dia, Kamis, 29 Juli 2021.


Menurut Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie sejumlah hal menjadi pemicu hingga Indonesia menjadi terburuk di dunia dalam mengatasi kasus Covid-19. Pertama Pemerintah Jokowi plin-plan mengambil keputusan bahkan kebijakan tiba saat tiba akal tanpa ada kajian yang komprehensif.


Contohnya PPKM Darurat dan PPKM Level 1-4. Ini tak ada dalam UU Kesehatan Kekarantinaan No 8 Tahun 2016 yang ada hanyalah Karantina di Rumah Sakit, di Rumah, PSBB dan Lockdown. Tapi ini, tambahnya,  tanpa ada PERPPU ataupun revisi Undang-undang. Tapi menurut pemerintah ini mengacu pada Peraturan Mendagri.


Faktor lainnya, kata Jerry, pandemi ini dijadikan lahan bisnis. Padahal, lanjut dia,  vaksin di Indonesia dibantu Inggris yang akan menyalurkan 100 juta di seluruh dunia, Amerika 4 juta vaksin moderna, Jepang 2 juta dan negara lainnya, ujar dia, Ahad, 1 Agustus 2021.


Dilaporkan: Reko Suroko

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...