Headline

Opini

PADANG

Sports

Menilik Perbedaan Baliho Puan, Airlangga, dan Muhaimin, Begini Kata Para Pengamat

          Menilik Perbedaan Baliho Puan, Airlangga, dan Muhaimin, Begini Kata Para Pengamat
Menilik Perbedaan Baliho Puan, Airlangga, dan Muhaimin, Begini Kata Para Pengamat.

Menilik Perbedaan Baliho Puan, Airlangga, dan Muhaimin, Begini Kata Para Pengamat
BENTENGSUMBAR.COM - Baliho-baliho tokoh politik mulai bertebaran di berbagai daerah. Pro kontra pun mencuat, ada yang beranggapan momentum baliho kurang tepat dilakukan di tengah pandemi, ada pula yang berpendapat sebaliknya dan menyambut positif.


Di luar dari itu, sebenarnya ada yang perlu dicermati dari cara partai mengolah para tokohnya yang besar kemungkinan akan menjadi kandidat terkuat untuk dicalonkan dalam pilpres.


Baliho Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar, misalnya. Partai PKB terang-terangan mengakui bahwa pemasangan baliho Muhaimin di Jawa Timur ialah untuk pemanasan menuju pemilu 2024.


Hal tersebut disampaikan oleh Bendahara DPW PKB Jatim Fauzan Fuadi. Meski demikian, dia menambahkan bahwa pihak yang memasang baliho adalah para relawan.


"Itu bukan dari DPW, tapi dari relawan-relawan. Bahkan ada yang dari pengusaha reklame, kami dikasih. Kalau kami DPW dan DPC pas Idul Adha saja (pasang baliho)," ucap Fauzan.


Menanggapi hal tersebut, sejumlah pengamat menilai PKB perlu memperjelas sosok Muhaimin yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat. Hal ini terlihat dari inkonsistensi pemakaian nama di baliho-baliho yang tersebar di Jatim.


Pasalnya, beberapa baliho kedapatan menuliskan nama lengkapnya 'Abdul Muhaimin Iskandar', sedangkan yang lain 'Muhaimin Iskandar'. Ada pula yang menuliskan 'Gus Imin atau Gus Ami'. 


Menurut pengamat politik Mochtar W. Utomo, branding atau penyebutan itu merupakan salah satu hal yang penting, jika ingin lebih dikenal masyarakat. Dalam khazanah marketing dan komunikasi politik, lanjut dia, nama panggilan sangat penting karena dari sini publik mengenal seorang tokoh.


Publik akan menyimpan informasi, kode, dan makna yang dapat dikonstruksi dari sosok tersebut, sebelum akhirnya didistribusikan kepada orang lain. Mochtar mengatakannya sebagai pondasi untuk membangun popularitas, akseptabilitas, juga elektabilitas.


Tak jauh berbeda dengan PKB, pemasangan baliho sosok Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto oleh Partai Golkar juga merupakan keputusan rapat partai.


Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily menjelaskan pemasangan baliho Airlangga merupakan strategi sosialisasi yang sudah disepakati dalam rapat pimpinan nasional dan rapat kerja nasional Partai Golkar Maret 2021 lalu.


Dengan demikian, setiap jajaran struktural partai hingga anggota DPR Fraksi Golkar harus menjalankan instruksi hasil rapat yaitu melakukan sosialisasi terkait sosok Airlangga, salah satunya melalui pemasangan baliho.


Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, sebaran baliho Airlangga yang dilakukan oleh kader Partai Golkar merupakan bentuk aspirasi soliditas partai.


“Promosi Airlangga sah saja dan bagus untuk menginformasikan kinerjanya sepanjang bersama pemerintah. Ini agar popularitasnya sebagai tokoh utama Golkar sejalan dengan prestasinya selama ini,” ujar Dedi.


Lalu bagaimana dengan baliho Puan Maharani? Tak dimungkiri baliho Puan cukup mencolok dan menuai pro kontra. Akan tetapi pemasangan baliho ternyata bukan keputusan rapat partai.


Politikus PDI Perjuangan Ario Bimo mengatakan bahwa baliho Puan yang banyak dipasang tersebut bukan berasal dari inisiatif pribadi Puan, juga bukan atas instruksi partai. 


“Saya cukup dekat dengan Mbak Puan jadi tahu betul itu bukan dari partai sebagai institusi, tidak ada instruksi dari partai, bukan perintah,” kata Ario.


Dia menilai pemasangan baliho tersebut sebagai hasil dari dinamika kelompok atau inisiatif kelompok di antara anggota fraksi di DPR dan DPRD. Hal ini juga menandakan bahwa popularitas Puan Maharani cukup tinggi.


Di sisi lain, Ario menilai kemunculan baliho tokoh-tokoh politik bisa menjadi diskursus publik. Dia berharap rakyat semakin cerdas dan terbuka dalam memilih pemimpin kedepannya. Apalagi, lanjut dia, tren saat ini publik sudah tidak bisa dipaksa untuk memilih sosok tertentu. 


“Situasi zaman dari pemilu ke pemilu selalu bergeser ke arah partisipasi publik yang menurut saya tidak lagi rakyat dibonekakan, rakyat disuruh-suruh nyoblos ga bisa lagi,” kata Ario.


Hal senada diungkapkan Pengamat politik sekaligus peneliti Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam. Dia beranggapan bahwa bahwa pemasangan baliho tokoh politik berefek positif pada Pilpres 2024.


Dia mengatakan bahwa pemasangan baliho tersebut secara tidak langsung mengkampanyekan Pilpres 2024. Masyarakat pun jadi mengetahui bahwa pemilu segera tiba.


Sementara pada baliho Puan, Surokim menilai konten yang disajikan cukup berhasil menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagaimana semboyan PDI Perjuangan. Terlebih lagi, baliho-baliho tersebut dipasang oleh simpatisan serta pendukung PDI Perjuangan di tingkat akar rumput. 


“Partisipasi kader arus bawah PDI Perjuangan untuk gotong royong membuat baliho Mbak Puan akan makin positif efeknya untuk Pilpres," ucap dia.


Ketika baliho dipasang secara masif, lanjut Surokim, bisa saja elektabilitas Puan Maharani bakal makin naik. Fenomena gotong royong arus bawah yang terus didorong, diperkirakan memberikan Puan Maharani banyak surplus elektoral.


"Tinggal bagaimana Mbak Puan berupaya terus mendorong gotong royong di arus bawah partai. Bukan hanya mendorong yang sudah ada, melainkan juga menciptakan gotong royong baru," kata dia.


Laporan: Mela

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...