Headline

Opini

PADANG

Sports

Pandemi Covid19 Belum Usai, Kini Bermunculan Virus Baru yang Mematikan, Puan: Jangan Sampai Kecolongan!

          Pandemi Covid19 Belum Usai, Kini Bermunculan Virus Baru yang Mematikan, Puan: Jangan Sampai Kecolongan!

Pandemi Covid19 Belum Usai, Kini Bermunculan Virus Baru yang Mematikan, Puan: Jangan Sampai Kecolongan
BENTENGSUMBAR.COM - Belum selesai dengan Virus Covid-19, dunia kini dihantam dengan virus Marburg. Virus ini terdeteksi di benua Afrika, tepatnya Republik Guinea. Berikut gejala virus Marburg serta bahayanya.


Virus Marburg telah ada sejak 1967 dan telah membuat 12 wabah besar di beberapa wilayah. Virus Marburg disebut mirip dengan Ebola, salah satu virus dengan tingkat kematian yang tinggi.


Menurut World Health Organization (WHO), penularan virus Marburg dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan darah, sekresi, organ atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi. Bisa juga melalui benda-benda yang terkontaminasi cairan tubuh orang terinfeksi. Misalnya, tempat tidur hingga pakaian.


"Virus Marburg merupakan penyakit dengan rasio fatalitas kasus hingga 88% tetapi bisa jauh lebih rendah dengan perawatan pasien yang baik," ungkap WHO.


WHO menyebut masa inkubasi (interval dari infeksi hingga timbul gejala) bervariasi dari 2-21 hari. Dalam kasus yang fatal, kematian paling sering terjadi pada hari ke delapan dan kesembilan setelah timbul gejala, biasanya didahului dengan kehilangan darah yang parah dan syok.


WHO mengungkapkan gejala virus Marburg dimulai dengan demam tinggi secara tiba-tiba, sakit kepala parah dan malaise (rasa lelah, tidak nyaman dan kurang enak badan) parah. Nyeri otot menjadi ciri umum lainnya.


Diare parah, sakit perut dan kram, mual dan muntah dapat terjadi pada hari ketika setelah infeksi. Diare bisa berlangsung selama seminggu. Pada periode ini akan muncul mata cekung, wajah tanpa ekspresi dan kelesuan yang ekstrem.


Pada hari ke lima hingga ketujuh akan muncul pendarahan yang parah. Pada kasus yang fatal bisa terjadi keluarnya darah segar pada muntahan dan feses seringkali disertai dengan pendarahan dari hidung, gusi, dan vagina.


Lantas, apakah bisa masuk ke Indonesia?


Menurut Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman mengatakan, sementara ini, kecil kemungkinan virus Marburg masuk ke Indonesia.


Meski demikian, penting untuk menerapkan screening dan karantina yang ketat mengingat virus ini sangat mematikan. 


"Kita kecil kemungkinannya, tapi ini hanya untuk mengingatkan bahwa betapa kita harus terus perkuat ya screening, deteksi dini, surveillance, supaya kita (Indonesia) tidak dimasuki penyakit-penyakit yang berbahaya," kata Dicky.


Salah satu faktor yang bisa menyebarkan virus ini adalah mobilitas manusia. Peluang penyebarannya akan besar karena kemudahan transportasi udara dari satu negara ke negara lain. 


"Belum ada obat maupun vaksin. Itu yang membuat kita harus berhati-hati dalam situasi saat ini walaupun kecil kemungkinannya," ujar Dicky. 


Menurut Dicky, masa inkubasi virus Marburg cukup lama, yaitu hingga 21 hari. Meski belum menunjukkan gejala atau terkonfirmasi positif terinfeksi virus Marburg, tetapi virus ini sudah ada dalam tubuh orang tersebut. 


"Menurut saya sekarang karantina menjadi wajib. Karantina itu 2 minggu wajib, kemudian siapa pun harus kita biasakan ada pemantauan berkala yang bisa menggunakan aplikasi digital untuk memastikan," ujar Dicky. 


Terutama, pemantauan dilakukan terhadap mereka yang melakukan perjalanan yang bersinggungan dengan wilayah Afrika atau Afrika Barat.


Mengenai hal itu, Ketua DPR RI Puan Maharani merespon adanya virus tersebut. Menurut dia, Indonesia jangan sampai kecolongan virus itu masuk. Perlu adanya tingkat kewaspadaan pemerintah untuk menutup pintu agar penularan tidak terjadi. 


"Kita belum selesai dengan masalah Covid-19, jika virus itu masuk ke Indonesia, bisa tambah beban pemerintah dan masyarakat," tutur Puan melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi BentengSumbar.com, Kamis, 25 Agustus 2021. 


Ia menegaskan agar Kementerian Kesehatan memantau terus mengenai perkembangan virus yang terjadi di Afrika tersebut. 


"Pemerintah melalui Kemenkes perlu bertindak mengetahui jenis virus ini. Jadi kita bisa mencegah virus ini masuk ke Indonesia. Intinya jangan lalai, perlu meningkatkan kewaspadaan dan jangan dianggap remeh," tutur Puan. 


Ia melanjutkan untuk masyarakat agar terus menjalankan protokol kesehatan yang ketat sehingga virus bisa dicegah dan tidak ada penularan. 


“Kalau masyarakat waspada, virus tidak akan mudah menjangkit kita. Maka dari itu, pakai masker, cuci tangan dan jangan berkumpul. Biar pandemi ini cepat selesai dan masyarakat bisa beraktivitas kembali,” tutur Puan. 


Laporan: Mela

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...