Headline

Opini

PADANG

Sports

Varian Delta (2-Habis) Efektivitas Vaksin Atas Varian Delta

          Varian Delta (2-Habis) Efektivitas Vaksin Atas Varian Delta

Varian Delta (2-Habis) Efektivitas Vaksin Atas Varian Delta
SAAT ini moblisasi vaksin masih berlangsung di banyak pelosok negeri.. Sayangnya vaksin yang disematkan ke tubuh adalah vaksin Sinovac . Banyak ahli meragukan vaksin buatan China ini untuk berhadapan dengan virus varian Delta. Padahal, saat ini Indonsia sedang melawan varian yang ganas ini.


Penelitian terbaru pre-print tentang efektivitas vaksin terhadap varian delta cukup menggembirakan. Hasilnya  efektivitas vaksin Pfizer terhadap varian delta pasca pemberian dosis pertama dan kedua sebesar 33,2% dan 87,9%.


Sementara efektivitas vaksin Pfizer terhadap varian alpha pasca pemberian dosis 1 dan 2 mencapai 49,2% dan 93,4%. Untuk efektivitas vaksin AstraZeneca terhadap varian delta pasca pemberian dosis 1 dan 2 sebesar 32,9% dan 59,8%.  Untuk  efektivitas vaksin Astra Zeneca terhadap varian alpha pasca pemberian dosis 1 dan 2 sebesar 51,4% dan 66,1%.


Bagaimana efektivitas vaksin dalam mencegah terjadinya gejala berat (hospitalisasi)?


Hasil riset ini menunjukkan baik vaksin Pfizer maupun AstraZeneca sangat efektif mencegah gejala berat terhadap varian alpha maupun delta. Efektivitas vaksin Pfizer terhadap varian delta pasca pemberian dosis 1 dan 2 mencapai 94% dan 96%. Sedangkan efektivitas vaksin Pfizer terhadap varian alpha pasca pemberian dosis 1 dan 2 sebesar 83% dan 95%.


Untuk efektivitas vaksin AstraZeneca terhadap terhadap varian delta pasca pemberian dosis 1 dan 2 mencapai 71% dan 92%. Sedangkan efektivitas vaksin Astra Zeneca terhadap varian alpha pasca pemberian dosis 1 dan 2 sebesar 76% dan 86%.


Vaksin AstraZeneca dan Pfizer 


Sayangnya, belum ada data publikasi terkait efektivitas vaksin Sinovac, yang sejak awal dipakai di Indonesia, terhadap varian delta. Namun riset awal menunjukkan ada penurunan kadar antibodi netralisasi Sinovac terhadap varian delta. Masih perlukan data riset yang lebih solid dengan jumlah sampel lebih besar untuk menyimpulkan efektivitas Sinovac terhadap varian delta.


Awalnya varian B.1.617 ini bermutasi menjadi tiga, yakni varian kappa (B.1.617.10, varian delta (B.1.617.2)  dan B.1.617.3), misalnya, ditetapkan WHO sebagai varian yang diwaspadai pada 11 Mei 2021. Namun, pada 31 Mei 2021 WHO hanya menetapkan B.1.617.2 (varian delta) sebagai varian yang diwaspadai karena memberikan dampak kesehatan masyarakat global paling signifikan.


Untuk varian kappa diturunkan statusnya menjadi varian yang diawasi karena meski penularannya meningkat, frekuensi secara global sudah mulai menurun. Varian B.1.617.3 tidak ditetapkan sebagai varian yang diawasi dan diwaspadai karena hanya dideteksi pada beberapa kasus COVID-19 saja.


Kini varian delta yang ganas sedang mengancam Indonesia. Cara mencegah penularan varian baru itu tetap sama. Pemerintah dan masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dengan ketat.


Pemerintah juga harus segera memperluas cakupan vaksinasi COVID-19. Sebab, orang-orang yang terinfeksi COVID dan belum divaksin bisa menjadi sumber mutasi baru. 


Ditulis Oleh: Reko Suroko, Wartawan Senior di Solo.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...