PILIHAN REDAKSI

Ali Imron Pernah Minta Izin Ngebom Rumah Amien Rais, Denny Siregar: Harusnya Waktu Itu Jangan Ditangkap Dulu

BENTENGSUMBAR.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar angkat bicara mengenai pengakuan pelaku Bom Bali 1. Pasalnya, Ali Imron d...

Iklan Bank Nagari

Suroto 'Dihajar' Emak-emak Usai Bertemu Jokowi, Rocky Gerung: Legitimasi Presiden Sebetulnya Udah Drop Habis

          Suroto 'Dihajar' Emak-emak Usai Bertemu Jokowi, Rocky Gerung: Legitimasi Presiden Sebetulnya Udah Drop Habis
BENTENGSUMBAR.COM - Peternak ayam Suroto 'dihajar' oleh emak-emak usai bertemu Jokowi beberapa waktu lalu dan menuai tanggapan dari akademisi Rocky Gerung.

Rocky Gerung menyebut Suroto yang 'dihajar' emak-emak usai bertemu Jokowi menunjukkan legitimasi presiden yang nyaris menuju titik nadir.

Rocky Gerung menilai pertemuan Suroto dengan Jokowi tak efektif untuk menurunkan harga bahan pokok komoditas pangan unggas.

"Ada bagian yang paradoks sebetulnya, kita tahu bahwa ada sesuatu yang nggak bisa dikontrol yaitu pasar. Dan itu berarti, tidak efektif Pak Jokowi udah berupaya keras untuk kasih sinyal, bertemu dengan peternak tapi justru produsen jagung bilang nggak ada soal, naikin aja harganya tuh," kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip Kabar Besuki dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Minggu, 19 September 2021.

Menurut Rocky Gerung, membalikkan isu termasuk kenaikan harga komoditas pangan unggas tak semudah membalikkan telapak tangan karena menyangkut tingkat kepercayaan terhadap Jokowi.

"Sama seperti soal isu-isu yang lain, membalikkan isu itu susah setengah mati karena itu soal trust (kepercayaan). Kalau misalnya para pabrikan pakan percaya bahwa Pak Jokowi punya niat yang tulus untuk membela petani, maka tentu dengan senang hati ada semacam di luar kalkulasi pasar mengerti ada kebutuhan pangan," ujarnya.

Faktanya, belakangan ini banyak petani yang mengeluh karena tanah-tanah mereka diserobot oleh para pengembang raksasa.

Bahkan, pengembang raksasa tersebut telah menguasai lebih dari 400 hektar yang sesungguhnya bertentangan dengan konstitusi.

"Tapi di banyak tempat kan sekarang petani itu justru lagi marah karena tanah-tanahnya diserobot. Di Tangerang itu sampai sekarang saya terus dapet informasi 'Bagaimana tanah petani yang tinggal sejengkal beberapa hektar ditinggalkan oleh orang tuanya itu diambil oleh pengembang?'. Dan pengembang namanya itu-itu juga, menguasai 400 hektar yang sebetulnya gak boleh," katanya.

Rocky Gerung menemukan adanya kontras antara pernyataan Jokowi yang terlihat seolah peduli dengan nasib petani dan peternak dengan fakta mengenai harga pasar yang terjadi saat ini.

Dia menilai, hal tersebut menunjukkan bahwa legitimasi Jokowi sebagai presiden telah drop dan terancam menuju titik nadir.

"Itu yang bikin kontras, Pak Jokowi berupaya untuk bertemu dengan yang terlibat di dalam soal-soal kenaikan harga tapi tidak berefek. Jadi itu yang menunjukkan bahwa legitimasi presiden sebetulnya udah drop habis, gak ada lagi orang yang menghormati presiden dalam upaya menegakkan keadilan sosial," ujar dia.

Rocky Gerung juga mengatakan, Jokowi juga tak memiliki legitimasi di hadapan pasar dengan adanya fakta kenaikan harga komoditas pangan unggas yang dikeluhkan oleh kalangan emak-emak.

"Pasar bereaksi sebetulnya, dan pasar menganggap bahwa itu omong kosong, ketemu presiden juga kan gak ada efeknya. Jadi emang, ini kasihan Pak Suroto karena dihajar emak-emak tuh, saya kasihan pada Pak Jokowi karena produsen pakan ternak itu tidak mau tunduk pada bahasa tubuh Pak Jokowi," ucapnya.

Rocky Gerung berpendapat, seharusnya pertemuan Jokowi dengan Suroto menghasilkan empati di kalangan para penimbun atau spekulan komoditas pangan.

Dia juga menilai, para penimbun atau spekulan tak memahami nilai-nilai Pancasila dan BPIP diminta untuk memberi perhatian khusus dalam hal ini membina para penimbun atau spekulan pangan.

"Harusnya pertemuan dengan Pak Jokowi menimbulkan empati pada para penimbun atau spekulan jagung, tapi spekulan jagung juga kan homo economicus, dia menganggap ini kesempatan untuk menaikkan harga. Lain kalau dapet subsidi atau segala macam, diajarin oleh BPIP tentang Pancasila, itu artinya Pancasila gak nyampe juga di para penimbun pakan ternak ini," tuturnya. (Kabarbesuki)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...