PILIHAN REDAKSI

Perbedaan Jadikan Kekuatan, Ansor Pasbar Gelar Seminar Nasional Moderasi Beragama

BENTENGSUMBAR.COM - Di tengah lesunya gerakan organisasi kepemudaan Islam di Kabupaten Pasaman Barat, Gerakan Pemuda Ansor tern...

Advertorial

Bicara Generasi Emas Tanpa Pemberdayaan Perempuan, Nyimas Aliah: Nonsense!

          Bicara Generasi Emas Tanpa Pemberdayaan Perempuan, Nyimas Aliah: Nonsense!
BENTENGSUMBAR.COM - Perempuan memiliki potensi yang sama untuk berkarya dan berdaya. Kodrat perempuan seharusnya bukan menjadi halangan, sebaliknya justru diperlukan untuk memperkuat sistem kemasyarakatan. Bukankah generasi hebat berawal dari seorang ibu?

Ketua Umum Pengurus Pusat Srikandi Tenaga Pembangunan Sriwijaya (Srikandi TP Sriwijaya), Nyimas Aliah menyebut bahwa perempuan harus berdaya karena mereka punya potensi. Dia pun mendorong para perempuan untuk tidak menyerah menjadi perempuan sejati yang mandiri dan produktif.

“Perempuan sekarang pendidikan sudah tinggi itu adalah aset kalau ada tantangan tantangan atau hambatan itu adalah tantangan terutama perempuan punya Casepro hamil, melahirkan, menstruasi. Perempuan harus menjadi tangguh harus bisa menghadapi semua itu. Yakinlah Allah pasti membukakan jalan, pasti menolong,” kata Nyimas dalam wawancara, Selasa (19/10/2021).

Perempuan yang baru saja pensiun dari kariernya di Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak ini mengaku dulu terpikir untuk berhenti bekerja. Namun ketika itu tuntutan sosial dan ekonomi kian besar, dia pun mengurungkan niatnya.

“Syukur-syukur suami masih giat memberi, memenuhi. Kalau sekarang ini banyak juga tuntutan atau suami yang kurang tangguh yang mudah menyerah. Bagaimanapun perempuan itu bebannya adalah anak-anak. Anak-anak itu lebih dekat kepada Ibu biasanya, apa-apa kebutuhan dekat dengan ibu. Karena itu perempuan harus berdaya,” pungkasnya.

Persoalannya, lanjut Nyimas, banyak perusahaan dan perkantoran belum menyediakan akses untuk perempuan, seperti ruang penitipan anak dan menyusui. Dia pun mendorong agar perempuan berani menyuarakan hal ini.

Tak hanya itu, dia juga menyebut bahwa perempuan harus memahami hak-hak yang dimilikinya, yang dilindungi oleh undang-undang. Sebagai pekerja, seringkali tidak pernah membaca undang-undang tenaga kerja, misalnya, sehingga tidak tahu hak-hak yang dimilikinya.

Pemimpin perempuan

Terkait kepemimpinan perempuan, Nyimas berpendapat ini sama dengan pemberdayaan perempuan dan bisa mengangkat derajat serta martabat perempuan.

“Jadi di agama (Islam), ada (dalam) pengajian Nasaruddin Umar mengatakan bahwa semua manusia adalah khalifah di muka bumi, baik laki maupun perempuan. Sebagai Khilafah, kita mencari kebaikan, di situ ayat-ayat yang disampaikan bersamaan dengan hak perempuan dan laki-laki,” papar Nyimas. 

Dia menyebut, peran perempuan dalam politik terus meningkat, terlebih dengan adanya sederet prediksi calon presiden yang menyebutkan calon potensial dari kalangan perempuan.

Indonesia, lanjut Nyimas, memang membutuhkan pemimpin perempuan karena jumlah penduduk Indonesia terdiri atas 46%-48% perempuan dan 25% anak. 

“Berarti yang diurus negara ini adalah perempuan dan anak itu hampir 80%. Nah, bagaimana kalau perempuan tidak memimpin? Pasti dia tidak paham kebutuhan perempuan atau mereka cuma menganggap bahwa satu kebijakan untuk semua, itu tidak adil namanya,” tegasnya.

Jika misalnya, lanjut dia, mempunyai potensi harus membuat analisis gender, berapa jumlah laki-laki dan perempuan. Lalu dilihat jumlah pemimpin perempuan tidak seimbang, harus bicarakan karena dalam Instruksi Presiden mengenai bagaimana cara perempuan bisa berpartisipasi.

“Bagaimana perempuan bisa mengontrol jadi rumusnya ada empat yaitu AMPK. Akses Manfaat Partisipasi dan Kontrol perempuan bisa mengakses. Perempuan mencari posisi yang diminta sehingga perempuan tidak diperhitungkan. Perempuan harus diberi kesempatan,” kata Nyimas.

Dia pun menjelaskan dalam posisi kepemimpinan harus ada perempuan agar tercapai keseimbangan. Banyak orang menilai, pemimpin perempuan malah merepotkan karena mengalami cuti hamil dan libur dua hari ketika menstruasi.

“Padahal pemimpin perempuan memiliki kelebihan tertentu dibanding laki-laki misalnya pola pikir yang lebih memikirkan hati dan logika, dia (perempuan) memikirkan panjang. Jika ada yang berpikir seperti itu (perempuan merepotkan) berarti stigmatisasi, stigma yang berujung diskriminasi,” Nyimas menjelaskan.

Dia menekankan, perempuan harus diprioritaskan untuk mendapat haknya. Misalnya ketika hamil, keperluan kehamilan harus disediakan karena termasuk dalam hak perempuan.

“Karena perempuan juga membayar pajak, bahkan perempuan lebih besar membayar pajaknya dari ujung rambut sampai kaki. Yang paling banyak belanja itu perempuan,” pungkas Nyimas.

Kesetaraan gender

Nyimas pun menjelaskan, terdapat kebutuhan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan ketika berbicara soal kesetaraan gender. Perempuan memiliki kodrat yang tidak bisa dipertukarkan, yakni menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui.

“Nah ketika dia hamil, kebutuhan yang berbeda. Kodrat ini tidak bisa dipertukarkan dan ini harus dijaga harus mendapatkan prioritas. Terus kalau dia enggak mendapatkan prioritas bagaimana gizi anaknya, bagaimana presiden mau membentuk generasi yang cerdas?” kata Nyimas.

Ketika ibu tidak memahami kebutuhan gizi bagi ibu hamil, ditambah penghasilannya tak mencukupi, besar kemungkinan anak yang dikandungnya tidak tumbuh secara optimal.

Bahkan, Nyimas menyebut penghasilan perempuan seharusnya lebih tinggi daripada laki-laki karena di dalam tubuh perempuan menghidupi makhluk hidup, termasuk ketika menyusui.

“Itu kalau memang pemimpin yang mau membawa negara kita, katanya generasi yang cerdas generasi emas. Tanpa memikirkan kebutuhan perempuan itu sama dengan nonsen ya hanya mimpi,” ucapnya tegas.

Di sisi lain, lanjut Nyimas, banyak hasil survei dan berita menyebutkan posisi perempuan tangguh seperti itu digeser oleh dominasi laki-laki. Mereka merasa keberadaan pemimpin perempuan sebagai ancaman.

“Kita lihat perguruan tinggi sekarang kan rektor-rektor perempuan ya. Banyakkan perempuan. Makanya membangun kekuatan melalui organisasi. Lalu kita merasa ya kita harus dukung pemimpin perempuan. Karena kalau ada pemimpin perempuan, perempuan akan merasakan keadilan. Keadilan kesejahteraan. Kalau dia, Itu berarti tim timnya yang belum kuat,” ujarnya. 

Laporan: Rizka Septiana
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...