PILIHAN REDAKSI

Perbedaan Jadikan Kekuatan, Ansor Pasbar Gelar Seminar Nasional Moderasi Beragama

BENTENGSUMBAR.COM - Di tengah lesunya gerakan organisasi kepemudaan Islam di Kabupaten Pasaman Barat, Gerakan Pemuda Ansor tern...

Advertorial

Fadli Zon Sadar Gak sih Celotehnya Malah Bikin Indonesia dalam Bahaya Ancaman Teror Besar?

          Fadli Zon Sadar Gak sih Celotehnya Malah Bikin Indonesia dalam Bahaya Ancaman Teror Besar?
BENTENGSUMBAR.COM – Peneliti senior LIPI Prof Hermawan Sulistyo berpandangan, tak masalah apabila lembaga yang didirikan sejak tahun 2003 itu dibubarkan.

Akan tetapi, ia tegas mengingatkan bakal ada konsekuensi sangat besar jika Densus 88 dibubarkan.

Sebab, wanti sosok yang akrab disapa Kikiek ini, ancaman teror diyakini bakal terjadi di mana-mana.

Wacana pembubaran Densus 88 Antiteror ini kali pertama dilontarkan politisi Partai Gerindra, Fadli Zon.

Fadli Zon beralasan, narasi yang dilontarkan pasukan khusus berlambang burung hantu itu terkesan islamophobia.

Itu disampaikan Kikiek diskusi “Densus 88: Penanggulangan Terorisme dan Narasi islamofobia, Kamis, 14 Oktober 2021.

“Kalau mau dibubarkan, ya bubarkan saja. Kalau ada bom, jangan mengeluh kalau negara kita seperti Suriah,” ucap Kikiek menyindir kengototan Fadli Zon.

Menurutnya, sejauh ini mekanisme operasi penangkapan yang dilakukan Densus 88 tidak sembarangan dan proses yang dilakukan sepenuhnya akuntabel.

Hanya saja, ia menyayangkan kurangnya kepiawaian kepolisian dalam menyosialisasikan kepada publik terkait upaya yang sudah dilakukan.

Sementara itu, Koordinator Jaringan Muslim Madani (JMM) Syukron Jamal menyayangkan usulan pembubaran Densus 88 oleh Fadli Zon.

Menurutnya, keberadaan Densus 88 sangat penting, terutama, dalam menangani pencegahan paham-paham radikal.

“Tudingan bahwa penanganan Densus 88 terkait islamofobia perlu diluruskan, ini sangat disayangkan. Densus 88 masih sangat penting perannya,” tegasnya.

Syukron menilai, pernyataan Densus 88 harus dibubarkan pun terlalu berisiko.

“Narasi tersebut tampak tendensius dan tidak bisa dilihat dalam salah satu sudut pandang kasus saja,” tandas Syukron. (Pojoksatu)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...