PILIHAN REDAKSI

Laporan Ditolak Polda Banten, LQ Indonesia Lawfirm Ragukan Komitmen Kepolisian Tindak Oknum Polisi Smackdown Mahasiswa

BENTENGSUMBAR.COM - LQ Indonesia Lawfirm yang sejak 3 minggu lalu menjadi pelopor adanya modus Oknum POLRI terutama di Fismonde...

Iklan Bank Nagari

Rocky Gerung Sebut Media dan Jurnalis Indonesia 'Penakut' Sekaligus 'Penjilat' Kekuasaan, Ini Alasannya

          Rocky Gerung Sebut Media dan Jurnalis Indonesia 'Penakut' Sekaligus 'Penjilat' Kekuasaan, Ini Alasannya
BENTENGSUMBAR.COM - Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menyebut media dan jurnalis Indonesia sebagai 'penakut' sekaligus 'penjilat' kekuasaan.

Rocky Gerung menyebut media dan jurnalis Indonesia sebagai 'penakut' sekaligus 'penjilat' kekuasaan karena dianggap tak berani bersikap kritis terhadap pemerintah.

Rocky Gerung kemudian membandingkannya dengan Maria Ressa (jurnalis Filipina) dan Dmitri Muratov (jurnalis Rusia) yang memperoleh Nobel Perdamaian karena sikapnya yang berani mengkritisi pemerintah di negaranya masing-masing meski bersikap otoriter.

Rocky Gerung memberikan anjuran dengan kalimat satire-nya agar jurnalis Indonesia berlomba-lomba menciptakan 'hoax' agar memperoleh kesempatan berdiri di belakang Maria Ressa ketika diadili.

Makna 'hoax' yang dimaksud oleh Rocky Gerung dalam pernyataannya adalah narasi yang berseberangan dengan kepentingan kekuasaan atau pemerintah yang berkuasa.

"Kita anjurkan semua jurnalis Indonesia itu ber-'hoax' aja, nanti diadili supaya kita dapat kesempatan untuk berdiri di belakang Maria Ressa," kata Rocky Gerung sebagaimana dikutip Kabar Besuki dari kanal YouTube Rocky Gerung Official pada Sabtu, 9 Oktober 2021.

Rocky Gerung menegaskan, pemerintah seharusnya memahami bahwa pers tak hanya dijamin oleh regulasi, tetapi juga peradaban demokrasi yang sehat.

"Yang penting pemerintah paham bahwa pers itu bukan sekedar dijamin oleh UU Pers, tetapi dijamin oleh peradaban demokrasi," ujarnya.

Rocky Gerung juga menyindir para buzzer yang tak mengerti tentang konsep pers yang sesungguhnya, karena pers merupakan pengasuh utama kehidupan bermasyarakat dan bernegara di seluruh dunia.

"Buzzer-buzzer Istana itu yang nggak ngerti nanti mereka marah bahwa 'Kok Maria Ressa dapat dan Dmitri dapat?'. Dia nggak ngerti bahwa dunia ini diasuh oleh kebebasan pers, bukan yang dikendalikan oleh amplop, lewat buzzer-buzzer," katanya.

Dia juga menyindir sejumlah media besar di Indonesia yang terkesan masih menjadi 'penjilat' kekuasaan.

Padahal, tren yang berkembang saat ini di dunia adalah banyak orang yang tak lagi membaca koran atau menonton TV untuk mengakses berita karena dianggap sarat dengan berbagai macam kepentingan.

"Demikian juga ini pesan buat beberapa media besar Indonesia yang masih berupaya untuk menjilat kekuasaan. Ajaib kan? Di dunia di mana orang nggak lagi membaca koran atau TV-TV yang standar zaman dulu, dia masih takut untuk memberikan kritik kepada kekuasaan," ujar dia.

Rocky Gerung menilai, Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Maria Ressa dan Dmitri Muratov merupakan sindiran kepada media dan jurnalis Indonesia, khususnya para pimred di media konvensional.

Sebab, masih banyak jurnalis di Indonesia yang terkesan bermental 'penakut' sekaligus 'penjilat' hanya karena tak ingin bisnisnya dibredel.

"Jadi sekaligus nobel ini adalah teguran pada pimred-pimred di media konvensional itu supaya paham bahwa tiba-tiba mereka 'Oh, bagus ya jurnalis dapat'. Iya, jurnalis (mancanegara) dapat, tapi jurnalisme mereka (mayoritas di Indonesia) masih jurnalisme yang penakut dan penjilat," tuturnya. (Kabarbesuki)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...