PILIHAN REDAKSI

Perbedaan Jadikan Kekuatan, Ansor Pasbar Gelar Seminar Nasional Moderasi Beragama

BENTENGSUMBAR.COM - Di tengah lesunya gerakan organisasi kepemudaan Islam di Kabupaten Pasaman Barat, Gerakan Pemuda Ansor tern...

Advertorial

Jumlah Tinggi Tapi Kontribusi Rendah, Nasib Perempuan di Pusaran politik, Kok Bisa?

          Jumlah Tinggi Tapi Kontribusi Rendah, Nasib Perempuan di Pusaran politik, Kok Bisa?
Jumlah Tinggi Tapi Kontribusi Rendah, Nasib Perempuan di Pusaran politik, Kok Bisa?
BENTENGSUMBAR.COM - Perempuan dalam pusaran politik masih menjadi polemik yang tak kunjung usai. Keterwakilan perempuan memang membaik, tetapi didukung oleh partisipasi yang maksimal. Politikus perempuan cenderung tak diberi kesempatan dan lebih mudah untuk menjadi target diskriminasi.

Perempuan yang berhasil menjabat posisi tinggi di Tanah Air juga terhitung masih minim. Partai Politik yang pernah mengangkat Ketua Umum seorang perempuan saja tak banyak. Tercatat baru PDI Perjuangan yang melakukannya.

Apalagi, Indonesia juga pernah memiliki Presiden Perempuan, yakni Megawati Soekarnoputri. Lalu pada 2019, akhirnya memiliki Ketua DPR perempuan pertama, yaitu Puan Maharani.

Lebih jauh, Indonesia termasuk negara yang memiliki pemimpin perempuan terbanyak di dunia. Eksekutif Direktur Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) Maya Juwita menyebut, Indonesia menduduki peringkat keempat dengan persentase sebanyak 37%.

Sayangnya, hampir 90% laki-laki dan perempuan memiliki semacam bias terhadap perempuan. Hal ini berdasarkan data dari The Gender Social Norms Index, UNDP, 2020.

Menurut Maya, secara alamiah perempuan memiliki power dengan ciri yang berbeda dengan laki-laki sehingga kontribusinya dapat memberikan nilai tambah bagi tempat mereka bekerja.

“Konsep empowerment yang dibutuhkan sebenarnya bukanlah untuk diberi kekuatan melainkan untuk diberi kesempatan, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika laki-laki berpikir lebih seperti perempuan,” ungkap Maya pada Selasa (27/4/2021).

Perlu dukungan

Peran perempuan tak hanya sekadar angka semata. Untuk memaksimalkan kontribusi perempuan, perlu adanya peran serta dari laki-laki. Hal ini diutarakan oleh Aria Widyanto selaku Chief Risk & Sustainability Officer of Amartha.

”Berbagai macam definisi dan perdebatan tentang kesetaraan gender. Namun ada satu elemen fundamental dalam menciptakan masyarakat yang adil yaitu melalui peningkatan kemampuan perempuan, dan laki-laki berkontribusi signifikan terhadap pencapaiannya,” jelas Aria.

Sementara itu, Hilda Kosasih selaku Partnership Lead of Indonesia Women League mengatakan terkait dengan cara perempuan meningkatkan kesetaraan gender memang harus dimulai dari diri sendiri.

Selain itu, lebih baik jika saling memberikan dukungan antar sesama perempuan. Ada banyak perempuan di sekitar yang mungkin saja ragu dengan potensi diri, padahal mereka memiliki ambisi yang kuat untuk maju.

“Yang sebenarnya mereka butuhkan adalah support langsung dari kita dengan cara selalu ada, mendengarkan ide, hargai kekuatan mereka, dan perkuat suara mereka. Akan ada dampak luar biasa dari beberapa kata penyemangat bagi orang lain” jelas Hilda.

Laporan World Economic Forum (WEF) 2020 menunjukkan skor Kesenjangan Gender Global (berdasarkan jumlah penduduk) berada pada posisi 68,6%. Artinya, masih ada 31,4% kesenjangan yang menjadi pekerjaan rumah bersama masyarakat global.

Sementara itu di Indonesia, menurut WEF berada pada peringkat 85 dalam urusan gender gap. Sementara menurut data yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pemberdayaan Gender dengan alat ukur menempatkan perempuan sebagai tenaga profesional di Indonesia pada tahun 2019 masih berada pada kisaran antara 35% hingga 55%.

Potensi perempuan

Ahli Peneliti Utama Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, menekankan pentingnya membentuk pusat basis data kumpulan bakat nasional untuk mendata perempuan yang memiliki potensi dalam bidang perpolitikan.

“Saya tekankan, perlunya dibuat penyatuan basis data secara nasional, yang simple, untuk mendata para perempuan, khususnya yang potensial atau prospektif,” kata dia, dalam seminar bertajuk “Roadmap Penguatan Peran Politik Perempuan Menuju Kesetaraan,” katanya pada Jumat (22/10/2021).

Pembuatan pusat data itu salah satu perwujudan semangat kaum perempuan untuk bangkit bersama dalam meningkatkan peran perempuan dalam perpolitikan Indonesia.

Selanjutnya dia berpandangan kaum perempuan juga perlu untuk melakukan pelatihan kepemimpinan dan kebangsaan bagi kaum perempuan yang potensial untuk dipersiapkan masuk ke jabatan-jabatan publik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Pelatihan-pelatihan tersebut dapat diberikan oleh para ahli, khususnya kaum perempuan yang telah sukses menempati berbagai jabatan publik, kepada perempuan-perempuan potensial yang telah berada di dalam basis data kumpulan bakat.

“Kaum perempuan yang telah berhasil, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, perlu bahu-membahu, bersatu-padu mendorong kemajuan kaum perempuan untuk meningkatkan peran perempuan dalam politik,” kata Siti.

Pembentukan pusat data kumpulan bakat merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh oleh kaum perempuan untuk mengatasi kendala berpolitik, dalam hal ini, mengenai kurangnya jaringan antara organisasi massa, LSM, dan partai-partai politik untuk memperjuangkan representasi perempuan.

Peneliti BRIN ini juga berpandangan bahwa perempuan harus berjuang meningkatkan usaha dan melakukan gerakan untuk membangun komunitas perempuan yang akan memajukan perempuan dalam ajang perpolitikan.

“Kelompok perempuan harus membangun kekuatan politik dengan menyusun strategi, baik melalui pengaturan dalam undang-undang maupun melalui jejaring yang ada,” ucapnya.

Laporan: Mela
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...