PILIHAN REDAKSI

Ilmuwan Kaget Saat Nabi Muhammad Ungkap Sendi Manusia Berjumlah 360

BENTENGSUMBAR.COM - Pengetahun Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang mengungkap jumlah sendi manusia sebanyak 360...

Advertorial

Seks Bebas Dilegalkan? DS: Kalo Suka Sama Suka Itu Contohnya Bibib Sama Firza, sampai Kabur ke...

          Seks Bebas Dilegalkan? DS: Kalo Suka Sama Suka Itu Contohnya Bibib Sama Firza, sampai Kabur ke...
Denny Siregar ikut memberikan tanggapan terkait salah kaprah dalam memahami kekerasan seksual.

Seks Bebas Dilegalkan? DS: Kalo Suka Sama Suka Itu Contohnya Bibib Sama Firza, sampai Kabur ke...
BENTENGSUMBAR.COM - Polemik tudingan Mendikbudristek keluarkan aturan yang membuka ruang budaya seks bebas di dunia kampus masih ramai menjadi perdebatan. 


Denny Siregar ikut memberikan tanggapan terkait salah kaprah dalam memahami kekerasan seksual. 


Mulanya seorang warganet dengan nama Melawan  Zalim  @MelawanKezalima mencuit: “Coba ibumu atau adik perempuan mu atau anak perempuan mu di perkosa orang dengan alasan suka sama suka ..  Bunting tuh keluargamu tapi Zina dan Maksiat ..”


Denny Siregar pun mengomentarinya dengan pertanyaan mendasar.


“Emang ada ya perkosaan atas dasar suka sama suka?? Kalo suka sama suka itu contohnya bibib sama firza. Saking sukanya sampe kabur ke luar negeri..,” kata Denny Siregar.


Sementara secara terpisah sebelumnya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) di bawah kepemimpinan Nadiem Makarim membantah telah menerbitkan aturan yang melegalkan perzinaan atau seks bebas di lingkungan Perguruan Tinggi di Indonesia.


Dinukil CNN I(ndonesia, aturan yang menuai polemik itu merupakan Peraturan Mendikbudristek nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi yang diundangkan pada 3 September 2021.


"Tidak ada satu pun kata dalam Permen PPKS ini yang menunjukkan bahwa Kemendikbudristek memperbolehkan perzinaan. Tajuk diawal Permendikbudristek ini adalah 'pencegahan', bukan 'pelegalan'," kata Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Nizam dalam keterangan tertulis, Senin (8/11).


Nizam mengatakan aturan tersebut diterbitkan dengan berfokus untuk melakukan pencegahan dan penindakan atas kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan. Menurutnya, definisi dan pengaturan dalam permen tersebut khusus untuk mengatasi hal tersebut.


Dalam beberapa kesempatan, kata dia, sejumlah organisasi dan perwakilan mahasiswa menyampaikan keresahan atas kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi. Namun demikian, hal itu nyatanya tidak ditindaklanjuti oleh pimpinan perguruan tinggi.


"Kebanyakan dari mereka takut melapor dan kejadian kekerasan seksual menimbulkan trauma bagi korban. Hal ini menggambarkan betapa mendesaknya peraturan ini dikeluarkan," ujar dia.


Beleid tersebut, kata dia, merupakan jawaban atas kebutuhan perlindungan dari kekerasan seksual di perguruan tinggi. Oleh sebab itu, kementerian memiliki kewenangan untuk menerbitkan peraturan tersebut.


Ia mengatakan bahwa kementerian wajib memastikan setiap penyelenggara maupun peserta pendidikan dapat menjalankan fungsi Tri Dharma perguruan tinggi.


Nizam mengatakan bahwa aturan tersebut dirancang untuk membantu pimpinan perguruan tinggi untuk meningkatkan keamanan di lingkungan mereka dari kekerasan seksual.


"Moral dan akhlak mulia menjadi tujuan utama pendidikan kita sebagaimana tertuang dalam UUD, UU 20/2003, UU 12/2012, dan berbagai peraturan turunannya. Termasuk Permendikbud No 3/2020 tentang standar nasional pendidikan tinggi," jelasnya


Penafsiran Permendikbudristek seolah melegalkan seks bebas di kampus turut menjadi sorotan Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lincolin Arsyad.


Menurut Arsyad, hal itu merupakan salah satu masalah dari beleid tersebut. Ia pun mendesak agar Nadiem mencabut penerbitan Permen itu.


"Agar perumusan peraturan sesuai dengan ketentuan formil pembentukan peraturan perundang-undangan dan secara materil tidak terdapat norma yang bertentangan dengan agama, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945," kata Arsyad.


Arsyad merujuk pada rumusan norma kekerasan seksual yang diatur dalam Pasal 5. Ia beranggapan standar benar dan salah dari sebuah aktivitas seksual tidak lagi berdasar nilai agama dan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun persetujuan dari para pihak.


"Hal ini berimplikasi selama tidak ada pemaksaan, penyimpangan tersebut menjadi benar dan dibenarkan, meskipun dilakukan di luar pernikahan yang sah," kata dia. (Netralnews)

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »
Loading...