PILIHAN REDAKSI

Disebut Bagian dari Kerajaan Melayu, Mendagri Singapura Berang, Serang Balik UAS: Radikalisasi Remaja

BENTENGSUMBAR.COM - Singapura kembali angkat bicara mengenai pelarangan masuk Ustaz Abdul Somad (UAS). Menteri Dalam Negeri Sin...

Advertorial

Bongkar Kebiasaan Kristen, Mantan Pendeta: Seringkali Orang Kristen Memframing Dirinya Selalu Mendapat Perlakuan Kekerasan

          Bongkar Kebiasaan Kristen, Mantan Pendeta: Seringkali Orang Kristen Memframing Dirinya Selalu Mendapat Perlakuan Kekerasan
Bongkar Kebiasaan Kristen, Mantan Pendeta: Seringkali Orang Kristen Memframing Dirinya Selalu Mendapat Perlakuan Kekerasan
BENTENGSUMBAR.COM – Mantan pendeta Yohanes Ignatius Kristanto mengungkapkan kebiasaan yang sering dilakukan oleh pemeluk agama Kristen.

Menurutnya, kebiasaan tersebut adalah sering merasa paling tersakiti atau mendapat perlakuan kekerasan.

Ia mencontohkan ketika suatu Gereja ditutup atau tidak diberi izin beroperasi, mereka akan menanggapi hal itu dalam suasana emosional seakan tertindas sebagai minoritas.

“Orang Kristen ini, memframing dirinya kalau selalu mendapat perlakuan kekerasan. Misal gereja ditutup gereja ngga boleh diijinin,” ujar Yohanes sebagaimana dikutip dari YouTube Hidayatullah TV pada Rabu 16 Maret 2022.

Padahal, kata Yohanes, kelakuan mereka sendiri sebenarnya yang sering melakukan kekerasan di antara sesama pemeluk agama Kristen.

Diceritakan Yohanes, saat membuka Gereja baru, ia mendapat perlakuan yang menyakitkan dari Gereja lain.

“Saya waktu mendirikan gereja ini, justru orang Kristen sendiri yang marah ke gereja kita. Artinya ada gereja lain yang tentunya tidak suka dan melakukan beberapa tindakan yang menurut saya nda ada bedanya ketika hari ini mereka mengatakan, ‘wah kita diserbu nih gerejanya’ saya juga diserbu,” ujarnya.

“Alhamdulillah waktu itu saya punya khidmat untuk tidak masuk lebih dalam di dalam hal yang tentunya membuat lebih lanjut tidak baik,” lanjutnya.

Mantan pendeta itu kemudian menceritakan awal terjadinya perselisihan yang membuat Gereja lain menyerang Gerejanya. Menurutnya, hal itu disebabkan karena adanya beberapa jemaat Gereja lain yang ternyata lebih memilih Gerejanya.

“Jadi banyak jemaat mereka yang hadir di dalam persekutuan doa saya di dalam kerja saya, tentunya membuat hal yang tidak menyenangkan buat beliau-beliau,” jelasnya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mandiri dan tidak terikat dalam organisasi manapun. Justru, ia memilih membuat persekutuan doa lalu ketika jemaat banyak yang terkumpul, ia menyerahkannya kepada Gereja lokal.

Cara itu ia tempuh agar tidak ada lagi perebutan jemaat seperti yang ia alami sebelumnya. Selain itu, Yohanes juga ingin agar dirinya menjadi berkat bagi yang lain, bukan dianggap sebagai pesaing.

“Saya buat banyak persekutuan doa, kemudian setelah banyak nanti saya serahkan ke Gereja lokal. Karena berdasarkan pengalaman yang tadi, karena saya ingin hidup saya ini jadi berkat dan mengubah hidup orang menjadi lebih baik, saya ekspresikan buat persekutuan itu buat dia,”

“Doa di beberapa tempat, setelah kumpul misal 30, 40, 60, saya serahkan kepada Gereja lokal. Sebagai wujud saya tidak ingin ada terjadi seperti yang kemarin saat saya menjadi gembala,” sambungnya.

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »