PILIHAN REDAKSI

Bupati Padang Pariaman Resmikan Sabermas Baru di Nagari Pauah Kamba

BENTENGSUMBAR.COM - Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur, SE. MM meresmikan kegiatan Sabermas Baru (Satu Hari Bersama Masyarakat ...

Advertorial

Tradisi Mandoa Tujuah Hari Setelah Kematian

          Tradisi Mandoa Tujuah Hari Setelah Kematian
Tradisi Mandoa Tujuah Hari Setelah Kematian
BERDOA merupakan suatu yang lazim bagi seluruh agama yang ada di dunia, terkhususnya di agama Islam sendiri. Berdoa ini biasanya dilakukan ketika seseorang ingin meminta sesuatu atau setelah melakukan sesuatu.

Di Indonesia berdoa merupakan kegiatan yang harus dilakukan karena di Indonesia sendiri identik dengan upacara-upacara atau adat istiadat yang bersanding dengan agama. Banyak sekali kegiatan-kegiatan keagamaan yang disesuaikan dengan kegiatan adat yang ada di Indonesia.

Di Minangkabau sendiri yang memiliki moto adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah memiliki kegiatan keagamaan yang selalu erat kaitannya dengan adat istiadat di masing-masing daerah di Minangkabau. 

Maka dari itu, dulu banyak sekali kegiatan-kegiatan keagamaan di Minangkabau  salah satunya adalah tradisi mandoa setelah kematian. Kematian itu sangatlah erat dengan keadaan seseorang yang telah tiada dan kematian itu juga erat dengan kegelapan. 

Namun, di dalam agama Islam terkhususnya rakyat Minangkabau kematian sangat erat dengan mitos  dan ada juga dengan upacara-upacara adat.

Dalam tradisi Mandoa Tujuh hari ini terdapat beberapa langkah dalam proses pelaksanaannya, langkah-lagkah tersebut terdiri dari Bazikia, Mandoa, dan Shalawat Dulang.

Dalam tradisi ini banyak kuliner-kuliner yang disediakan seperti rendang, sayur nangka, gulai ayam, dendeng balado, dan lain-lain. Setelah melakukan Mandoa para tamu dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disediakan. 

Tradisi Mandoa biasanya dilaksanakan oleh Urang siak yang memiliki aliran-aliran berbeda disetiap daerah di Minangkabau.

Bazikia

Proses Bazikia merupakan proses berzikir yang dimana dilakukan untuk mendoakan seseorang, mengucap rasa syukur, dan menyelamatkan serta menghapus dosa-dosa. 

Bazikia kegiatan agama yang tidak harus dilakukan setiap habis sholat saja bazikia atau berzikir  dapat digunakan dalam acara-acara adat di Minangkabau. 

Banyak acara-acara adat di Minangkabau yang sudah  tercampur dengan kegiatan-kegiatan agama Islam. Karena Minangkabau berlandaskan syarak mangato adaik mamakai. 

Syarak artinya agama, karena orang Minangkabau mayoritas beragama Islam dan adaik artinya adat atau aturan-aturan yang ada  pada Minangkabau, jadi syarak mangato adaik mamakai artinya apapun ang telah ditentukan oleh agama, lalu diperkuat oleh aturan-aturan yang ada di Minangkabau.

Mandoa

Mandoa atau berdoa yaitu sesuatu yang lazim dilakukan oleh setiap agama yang ada di Indonesia. Untuk Mandoa ini di Minangkabau sering sekali muncul dalam setiap acara-acara keadatan dan acara-acara keagamaan di Minangkabau. 

Mandoa atau berdoa di Minangkabau menjadi sesuatu yang harus ada disetiap acara-acara adat. Mandoa ini merupakan kegiatan berdoa untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT. 

Dalam Mandoa  kegiatan bazikia atau berzikir juga termasuk di dalamnya karena merupakan satu kesatuan yang erat yang tidak dapat dipisahkan. Dalam mandoa terdapat orang-orang yang disebut dengan panggilan urang siak. 

Urang siak ini berisikan sekitar tujuh orang dengan satu orang sebagai pemimpin yang dinamakan Atik. Atik ini yang akan memimpin proses mandoa dari awal hingga selesai acara mandoa dilakukan. 

Biasanya Atik ini akan memimpin sambil berdiri ketika akan berzikir di pertengahan acara mandoa , setelah zikir selesai barulah atik ini akan duduk kembali lalu memimpin acara mandoa kembali.

Bahikayaik

Bahikayaik atau berhikayat merupakan suatu kegiatan yang menceritakan, atau mendongeng sesuatu cerita untuk menyampaikan suatu pesan kepada para tamu. 

Dalam Bahikayaik atau berhikayat biasanya yang dicerritakan merupakan kisah-kisah dari seorang nabi, seorang ulama, dan seorang pahlawan yang bisa diambil kisah hidupnya dan bisa dijadikan acuan ataupun patokan beserta panutan agar kita dapat belajar dari kisah-kisah yang dapat diambil pelajaran di dalamnya. 

Dalam Bahikayaik ini terdapat puisi-puisi yang tercantum di dalamnya terdapat  nilai-nilai yang dapat dipetik, sehingga ketika kita mendengarkan hikayaik atau cerita-cerita yang disampaikan kita bisa mendapatkan pelajaran, hiburan, dan renungan terhadap diri kita sendiri. Seakan kita bisa tersadarkan dari apa yang kita dengarkan saat itu.

Shalawat Dulang

Dalam kegiatan tradisi di Minangkabau ada yang namanya Shalawat Dulang. Shalawat Dulang adalah sebuah permainan yang membacakan sebuah shalawat yang dimainkan oleh dua orang dengan cara memukul dulang atau nampan kuningan. 

Shalawat Dulang ini biasa dipakai dalam kegiatan-kegiatan besar peringatan agama Islam. Karena shalawat dulang identik dengan Islam, makanya itu isi tulisannya berupa ayat-ayat atau lisan-lisan yang berisikan memuja Allah beserta para nabi-nabinya. 

Seni lisan ini beredar di masyarakat Minangkabau sebagai bentuk komunikasi atau seruan-seruan kepada Allah yang memiliki nada naik dan juga nada turun. 

Mandoa ini biasanya membutuhkan banyak persiapan-persiapan yang sangat diperlukan karena dalam tradisi mandoa memiliki banyak kegiatan yang dilaksanakan di dalamnya dan biasanya tradisi mandoa banyak dikunjungi oleh para tamu sebagai bentuk kesolidaritasan antar warganya sehingga bisa membentuk tali persaudaraan yang cukup erat antar warganya. 

Karena persiapan yang banya sudah pasti penunjang ekonomi diperlukan jadi adanya saling gotong royong dalam mempersiapkan acaranya membuat warga-warga disekitar turut membantu agar beban yang dituangkan kepada seseorang yang baru mengalami kemalangan atau kesedihan tidak merasakan masalah berat atau ketertekanan dalam melaksanakan tradisi adat ini. 

Adanya tradisi adat seperti ini membuat masyarakat di Minangkabau menumbuhkan kesadaran kolektif, sehingga orang yang telah ditinggalkan tidaklah terlalu berlarut dalam kesedihan dan harus bisa mengikhlaskan seseorang yang telah pergi maka dari itu kesolidaritasan dari para warga sangatlah penting dan itu akan selalu membangun rasa kesadaran yang kolektif yang sudah mendarah daging di dalam diri masyarakat Minang bahwa jika orang Minangkabau itu selalu tolong menolong jika seseorang berada dalam kesulitan dan kesusahan terutama jika seseorang tersebut baru saja merasakan kabar duka atau ditinggal seseorang.

"Penulis: Selvi Dwi Julianti, Mahasiswa Satra Daerah Ilmu Budaya Unand.
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »