PILIHAN REDAKSI

Keberaniannya Melebihi Ibu Tien Suharto, Iriana Jokowi Ibu Negara Pertama yang Berkunjung ke Negara Perang

BENTENGSUMBAR.COM - Pengamat militer dan intelijen Ridlwan Habib menganalisis keikutsertaan Ibu Negara Iriana Joko Widodo (Joko...

Advertorial

Pakaian Adat Bundo Kanduang di Sumatera Barat

          Pakaian Adat Bundo Kanduang di Sumatera Barat
Pakaian Adat Bundo Kanduang di Sumatera Barat
SUMATERA Barat memiliki budaya yang beragam mulai dari tari, rumah adat, nyanyian daerah, hingga pakaian adat. Para penduduk menggunakan pakaian adat yang banyak ragamnya tersebut menyesuaikan dengan acara yang dihadiri. 

Selain itu, pakaian adat juga untuk menggambarkan karakter dari masyarakat setempat. Di bawah ini merupakan karakter dari masyarakat Sumatera Barat: 

1.    Adat pernikahan yang unik.
2.    Cinta terhadap budaya daerah.
3.    Mahir menggunakan Bahasa Minangkabau.
4.    Loyal terhadap teman karena memiliki rasa persaudaraan yang kuat.
5.    Suka merantau.
6.    Memiliki ketaatan yang tinggi pada agama.

Fungsi pakaian adat utamanya adalah untuk mengenalkan identitas budaya yang sedang ditampilkan. Pakaian adat seringkali menjadi simbol budaya, karakter penduduk daerah, keyakinan penduduk daerah, dan histori.

Berikut dibawah ini penjelasan mengenai pakaian bundo kanduang 
Orang Minang memberikan penghargaan yang tinggi kepada wanita. 

Tingginya rasa hormat tersebut tidak hanya diucapkan dalam bentuk kata, namun juga diaplikasikan dalam bentuk budaya, salah satunya melalui pakaian adat. Pakaian adat untuk wanita juga bisa disebut dengan pakaian adat Bundo Kanduang.

Limpapeh Rumah Nan Gadang merupakan lambang kebesaran wanita. Dalam Bahasa Minang, Limpapeh berarti tiang besar yang digunakan untuk menopang bangunan. 

Sebuah bangunan dapat berdiri kokoh karena ada tiang tengah yang menopang sekaligus menyangga semua kekuatan bangunan tersebut dan menjadi pusat kekuatan tiang-tiang lain. 

Jika tiang tersebut patah/ rusak/ hancur, maka bangunan tersebut akan runtuh karena tidak ada yang menyangga.

Makna dari pakaian ini adalah menggambarkan pentingnya peran wanita dalam kehidupan rumah tangga. Wanita yang dimaksud di sini adalah wanita yang sudah menikah dan berkeluarga.

Pakaian adat ini digunakan oleh wanita Sumatra Barat dan memiliki banyak macam karena banyaknya adat yang terdapat di Sumatra Barat. Semuanya berfungsi untuk menunjukkan kebesaran dan peran penting seorang wanita.

a. Baju Batabue

Baju Batabue memiliki arti baju bertabur. Sesuai dengan artinya, baju ini ditaburi oleh benang emas yang menjadi simbolik kekayaan alam.

Banyaknya taburan emas di sekujur baju mengisyaratkan banyaknya kekayaan alam yang dimiliki oleh Sumatera Barat.

Memang sumber daya alam di Sumatera Barat sangat melimpah. Mulai dari batu besi, batubara, batu galena, seng, timah hitam, batu kapur (semen), mangan, emas, kakao, kelapa sawit, hasil perikanan, dan gambir.

Baju Batabue memiliki empat macam corak yang familiar, yakni merah, lembayung, hitam, dan biru. Namun demikian, jika Grameds memilih warna gelap, hal ini akan menambah kesan kilauan emas karena paduan warna yang kontras namun elegan dan berkelas. Walaupun, selera setiap orang pasti berbeda-beda.

Bentuk Baju Batabue menyerupai baju kurung yang dilengkapi dengan pernak-pernik agar semakin tampak indah dan mempesona. 

Modelnya berlengan panjang dan terkesan longgar sehingga tidak menampakkan lekuk tubuh wanita.

Pada tepi leher dan lengan terdapat hiasan yang disebut dengan minsie.

Pengertian dari minsie adalah sulaman yang menjadi simbol seorang wanita Minang memiliki kewajiban untuk taat pada batas-batas adat yang telah ditetapkan.

Sekilas baju ini memiliki model yang hampir mirip dengan baju kurung Aceh.

Hal ini tidak mengherankan karena Minang dan Aceh masih satu rumpun, yakni rumpun Melayu. 

Pakaian ini biasa digunakan saat pernikahan dan acara-acara adat lainnya.

b.Lambak atau Sarung

Lambak atau sarung merupakan bawahan dari baju Batabue sehingga menampilkan pemakainya menjunjung tinggi kesopanan, tertib, dan sedap dipandang mata. 

Bawahan ini merupakan kain songket atau berikat yang dihiasi dengan minsie. 

Warna kain yang digunakan untuk lambak ini adalah jenis warna pastel, gelap, atau cerah. 

Lambak memiliki cara yang berbeda-beda dalam memasangkannya karena disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing daerah di Minang. 

Ada yang menampilkan belahan di depan, samping, belakang, bahkan ada juga yang digunakan dengan cara disusun ke belakang.

c. Minsie

Sulaman-sulaman berwarna emas pada tepi-tepi pakaian adat disebut dengan minsie.  

Minsie juga merupakan symbol seorang wanita minang yang memiliki kewajiban untuk taat pada batas-batas adat yang telah ditetapkan.

d. Salempang

Salempang merupakan selendang pelengkap yang diperuntukkan untuk wanita yang telah menikah atau berkeluarga. 

Maksud dari Salempang ini adalah agar wanita Minang yang mengenakannya dapat melanjutkan keturunan berupa anak cucu. 

Tidak cukup sampai di situ, wanita yang mengenakan selempang diharapkan dapat menjadi suri tauladan yang baik untuk anak-cucunya dan selalu bersikap waspada terhadap segala hal, baik untuk saat ini maupun masa depan.

e. Balapak

Bentuk dari Balapak hampir sama dengan salempang. Bedanya, bapalak digunakan oleh wanita yang siap menikah dan siap melanjutkan keturunan. 

Dengan kata lain, pengguna Bapak adalah para wanita yang belum menikah namun siap untuk menikah.

Jaman dulu, penggunaan Balapak diwajibkan kepada wanita Minang yang telah siap untuk berkeluarga.

f. Tingkuluak

Tingkuluak merupakan penutup kepala yang digunakan oleh wanita Minang. Karena banyak macam acara adat di Sumatera Barat, maka tingkuluak memiliki beberapa jenis berdasarkan kegunaannya. 

Berikut macam-macam tingkuluak dibawah ini :
1.    Tingkuluak tanduak
2.    Tingkuluak balapak
3.    Tingkuluak balanggek
4.    Tingkuluak sapik udang
5.    Tingkuluak talakuang
6.    Tingkuluak koto gadang
g. Dukuh (Kalung)

Dukuh mengisyaratkan bahwa wanita Minang selalu berada dalam lingkaran kebenaran sebagaimana kalung yang melingkari lehernya. 

Tidak hanya itu, dukuh juga memberikan isyarat tentang pendirian yang kok dan sulit untuk goyah jika sudah berada di atas kebenaran.

h. Galang (Gelang)

Galang yang melingkar di pergelangan tangan memberikan isyarat bahwa semua hal ada batasnya. 

Lebih jelasnya, dalam melakukan sesuatu, seseorang harus mengerti batas kemampuanya.

*Ditulis Oleh: Winda Rahma Putri, Mahasiswa, Sastra Minangkabau 
Universitas Andalas
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »