Advertorial

Daerah

Bak Tabuh Genderang Perang, Keluarga Brigadir Yosua Sampai Berani Langgar Aturan, Sebar Foto Luka Sayatan di Jasad Ajudan Kadiv Propam

          Bak Tabuh Genderang Perang, Keluarga Brigadir Yosua Sampai Berani Langgar Aturan, Sebar Foto Luka Sayatan di Jasad Ajudan Kadiv Propam
Bak Tabuh Genderang Perang, Keluarga Brigadir Yosua Sampai Berani Langgar Aturan, Sebar Foto Luka Sayatan di Jasad Ajudan Kadiv Propam
BENTENGSUMBAR.COM - Keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir Yosua terlihat sampai berani melanggar aturan privasi.

Namun berharap agar keadilan ditegakkan, keluarga Brigadir Yosua sengaja menyebarkan foto luka sayatan di tubuh ajudan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Keluarga Brigadir Yosua bak menabuh genderang perang.

Brigadir Yosua terlibat baku tembak dengan Bharada E di rumah Kadiv Propam. Akibatnya, Brigadir Yosua meninggal dunia usai dihujani tembakan oleh rekannya. 

Berdasarkan keterangan Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan, peristiwa baku tembak itu bermula saat Brigadir Yosua diduga melecehkan istri Kadiv Propam.

Mendengar penjelasan dari jenderal bintang satu itu, keluarga Brigadir Yosua buka suara. Mereka mengaku tidak yakin Brigadir Yosua sudah melakukan perbuatan melecehkan istri Kadiv Propam. 

Itu sebabnya, keluarga Brigadir Yosua sampai berani melanggar aturan privasi. Mereka menyebarkan foto luka sayatan di tubuh ajudan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo.

Dari penjelasan pihak Mabes Polri, Brigadir Yosua adalah anggota Bareskrim yang ditugaskan sebagai sopir dinas istri Kadiv Propam Polri.

Sementara itu, Bharada E adalah anggota Brimob yang bertugas sebagai pengawal Kadiv Propam.

Dalam keterangan resminya, Brigjen Ahmad Ramadhan berujar, "Berdasarkan keterangan dan barang bukti di lapangan bahwa Brigadir J (Brigadir Yosua) memasuki kamar pribadi Kadiv Propam dan melecehkan istri Kadiv Propam dengan todongan senjata."

Akibat dugaan pelecehan yang dilakukan Brigadir Yosua, istri Kadiv Propam lalu berteriak minta tolong. Teriakan itu didengar Bharada E yang berada di lantai atas rumah.

"Teriakannya terdengar oleh Bharada E yang berada di lantai atas sehingga Bharada E turun memeriksa sumber teriakan," sebut Ramadhan.

Bharada E langsung menegur dari depan kamar saat memergoki Brigadir Yosua. Teguran itu langsung memicu aksi saling tembak. Lalu, peristiwa baku tembak terjadi di depan kamar.

"Pertanyaan Bharada E direspons oleh Brigadir J (Brigadir Yosua) dengan melepaskan tembakan pertama kali ke arah Bharada E," kata Ramadhan.

Tiga saksi diperiksa, di antaranya istri Kadiv propam dan Bharada E. Berdasarkan hasil olah TKP, ada belasan tembakan yang dilepaskan dari pistol Brigadir Yosua dan Bharada E.

"Brigadir J melepaskan tembakan sebanyak 7 kali, Bharada E membalas mengeluarkan tembakan sebanyak 5 kali," kata Ramadhan.

Polri telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah Kadiv Propam yang berlokasi di kawasan Jakarta Selatan (Jaksel). Sejumlah saksi juga diperiksa terkait peristiwa tersebut.

Saat peristiwa baku tembak itu terjadi, Ramadhan mengatakan Kadiv Propam tak berada di lokasi. Saat kejadian, Irjen Ferdy Sambo sedang melakukan tes PCR COVID-19. 

"Pada saat kejadian, Kadiv Propam tidak ada di rumah karena sedang PCR test," ungkapnya.

Dia menambahkan, Irjen Ferdy mengetahui peristiwa itu setelah ditelepon oleh istrinya yang histeris. Irjen Ferdy langsung pulang menuju kediamannya.

"Kadiv Propam pulang ke rumah karena dihubungi istrinya yang histeris. Kadiv Propam sampai di rumah dan mendapati Brigadir J sudah meninggal dunia," tutur Ramadhan.

Atas kejadian tersebut, Irjen Ferdy Sambo langsung menghubungi Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi. Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan lalu melakukan olah TKP.

"Sehingga Kadiv Propam langsung menghubungi Kapolres dan selanjutnya dilaksanakan olah TKP," ucap Ramadhan.

Sekalipun pihak Mabes Polri sudah memberikan penjelasan atas peristiwa baku tembak itu, keluarga merasa janggal atas meninggalnya Brigadir Yosua. Pihak keluarga mengungkap sejumlah luka yang di tubuh Brigadir Yosua.

"Yang luka tembak itu 3 di bagian dekat bahu lalu satunya di tangan," kata tante Brigadir Yosua, Roslin Simanjuntak, Senin (11/7/2022). 

Keluarga merasa kematian Brigadir Yosua janggal karena ada luka sayatan di tubuh korban. Selain itu, Keluarga mengatakan dua jari Yosua juga terputus.

"Jadi yang malam itu dari keterangan kepolisian Jakarta menyampaikan bahwasanya di kediaman Bapak Irjen Ferdy Sambo itu ada adu tembak, jadi kami nggak puas, kalau ada adu tembak otomatis nggak ada ini ada luka sayatan," ujar Roslin.

Selain ada luka tembak, kata Roslin, kondisi jenazah Brigadir Yosua disebut mengalami luka dengan dua jari yang ikut terputus. 

"Dengan ada luka sayatan lalu ada dua jari tangannya yang putus," sebut Roslin.

Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan merespons soal keluarga Brigadir Yosua yang mempertanyakan soal luka sayat di tubuh Brigadir Yosua. Dia menyebut luka itu diduga akibat gesekan proyektil peluru.

"Ini hasil olah TKP dan bukti-bukti yang ada di lapangan sayatan itu diperkirakan hasil tembakan dari gesekan dari proyektil yang ditembakkan dari Bharada E ke Brigadir J," kata Brigjen Ramadhan kepada wartawan, Senin (11/7/2022).

Ramadhan mengatakan, luka tersebut bukan disebabkan senjata lain seperti senjata tajam (sajam) dan lain-lain. Dia mengatakan Brigadir J melepas tembakan sebanyak 7 kali, dan Bharada E sebanyak 5 kali. 

"Bukan (karena senjata lain)," kata Ramadhan.

"Kalau luka tembaknya ada 7, tetapi ada satu tembakan yang mengenai dua bagian, seperti contoh ketika dia tembakan tangan dia tembus," ujar Ramadhan.

Merasa belum puas dengan penjelasan Mabes Polri hingga berharap keadilan dapat ditegakkan, keluarga Brigadir Yosua semakin berani melanggar aturan privasi. 

Foto luka sayatan yang ada di tubuh ajudan Kadiv Propam yang awalnya cuma disimpan di dalam HP akhirnya disebarkan. 

Mereka berharap mendapatkan keadilan dengan menyebarkan foto luka sayatan di tubuh Brigadir Yosua.

Keluarga Brigadir Yosua tidak menerima dengan banyaknya pemberitaan yang memojokkan posisi almarhum usai peristiwa baku tembak itu. 

Keluarga Brigadir Yosua terus mengunggah foto-foto kondisi almarhum, yang mereka sebut sebagai kejanggalan.

Rohani Simanjuntak yang merupakan tante Brigadir Yoshua, mengunggah foto wajah Yoshua. Dia juga menunjukkan luka-luka di tubuh keponakannya itu.

"Enggak bisa tenang tidur satu malam suntuk, Tuhan Mahakuasa dan Mahaadil, Hakim Tertinggi yang kami percaya, tunjukkan jalan kepada keluarga kami. Banyak berita beredar yang memojokkan yang sudah meninggal, keadilan dan kebenaran akan berada dalam kejujuran," tulis Rohani, Kamis (14/7/2022).

Rohani juga mengunggah video yang memperlihatkan luka-luka di tubuh Yoshua begitu jasadnya diantar ke rumah. Ada sejumlah luka di wajah, luka di kaki, di tangan kiri, dan jari-jari Yoshua. 

"Semoga Polri menyelidiki kasus kematian anak kami ini dengan baik dan adil," tulis Rohani.

Pihak keluarga menemukan kejanggalan pada jasad Brigadir Yosua, yakni dua jarinya putus. 

Rohani Simanjuntak selaku tante korban mengatakan, kondisi jasad Brigadir Yosua terungkap setelah orang tua korban meminta izin kepada Mabes Polri untuk melihat jasad anaknya di dalam peti jenazah.

Setelah mendapat izin, pihak keluarga menemukan dua jari Brigadir Yoshua patah. Ia juga mengatakan terdapat luka di jari kelingking Yosua. 

"Jarinya ini ada dua yang patah, ada luka di jari kelingking," kata Rohani, pada program Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, Selasa (12/7/2022).

Keluarga korban juga membuka baju yang dikenakan mendiang untuk memeriksa luka di sekujur tubuh Brigadir Yoshua. 

Keluarga kemudian menemukan terdapat empat luka tembak, luka sayatan di bagian wajah, luka benda tajam, dan lebam di perut Brigadir Yosua.

Meninggalnya Brigadir Yosua menyisakan duka mendalam bagi keluarga. 

Dalam sebuah tayangan video Facebook yang diunggah oleh tante Brigadir Yosua atau Brigadir J, Rohani Simanjuntak pada Sabtu (9/7/2022) memperlihatkan tangisan histeris sang ibunda anggota polisi itu.

Sang ibunda yang tak terima Brigadir Yosua tewas tertembak itu tampak menangis meraung-raung dan teriak histeris saat melihat anaknya sudah tak bernyawa.

Dalam tayangan video itu, ibunda Brigadir Yosua yang terus-menerus menangis tak berhenti berteriak menyebut bahwa ia tak percaya kalau anaknya yang disayangi itu sudah tewas terbunuh.

"Tuhan tolong kami Tuhan, mamah sudah tak bisa bernapas nak, nak, mamah tak bisa bernapas, kau sangat tulus nak, kau anak yang tulus nak," teriak ibunda Brigadir Yosua atau Brigadir J, seperti dalam tayangan video di Facebook Rohani Simanjuntak itu.

Menurut sang ibunda, Brigadir Yosua atau Brigadir J merupakan sosok anak yang baik dan tak pernah mengeluh.

Kematian Brigadir Yosua atau Brigadir J seolah seperti mimpi buruk bagi sang ibunda. 

Adapun ibunda Brigadir J tak percaya anaknya melakukan pelecehan terhadap istri Kadiv Propam seperti yang dituduhkan.

Sumber: Fotokita
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »