Advertorial

Daerah

Jeritan Santriwati Korban Pencabulan Anak Kiai Ponpes Shiddiqiyyah: Banyak Teror hingga Ingin Bunuh Diri

          Jeritan Santriwati Korban Pencabulan Anak Kiai Ponpes Shiddiqiyyah: Banyak Teror hingga Ingin Bunuh Diri
Jeritan Santriwati Korban Pencabulan Anak Kiai Ponpes Shiddiqiyyah: Banyak Teror hingga Ingin Bunuh Diri
BENTENGSUMBAR.COM - Tersangka kasus pencabulan terhadap santriwatiPonpes Shiddiqiyyah Jombang, Jawa Timur, Moch Subchi Al Tsani (MSAT) akhirnya menyerahkan diri ke polisi. 

Sebelumnya, proses penangkapan berlangsung dramatis.

Pasalnya, pihak kepolisian sampai harus berungkali mendatangi Ponpes Shiddiqiyyah untuk menangkap MSAT yang disebut-sebut mendapat perlindungan dari ayahnya, Kiai Mukhtar Mukti.

Di sisi lain, jeritan memilukan terdengar dari seorang santriwati yang menjadi korban pencabulan. 

Ia mengaku masih harus berjuang menanggung akibat dari pengalaman traumatis itu hingga kini.

Semenjak kasus itu menjadi perhatian masyarakat, ia dan keluarganya mendapatkan tekanan psikis yang semakin keras.

“Sampai sekarang masih banyak sekali bentuk intimidasi dan teror yang datang dari kelompok-kelompok pelaku, bukan cuma menyerang pribadi, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar seorang santriwati yang tidak disebutkan namanya, Kamis (7/7/2022).

Karena kasus itu, dia juga mendapatkan stigma negatif dari masyarakat sekitar dan hal itu menambah beban yang dirasakannya.

Suatu hari, dia mengaku sampai ingin melakukan bunuh diri.

“Hanya ada ibu dan suami saya yang mendukung, hingga membuat saya bisa bertahan sampai saat ini. Sekarang ibu sudah meninggal,” katanya.

Divisi Gender, Anak, dan Kaum Marjinal Aliansi Jurnalis Independen Bojonegoro Bhagas Dani mendorong proses hukum kasus itu segera dituntaskan. 

Ia berharap kepada kepolisian untuk menggunakan perspektif korban.

“Kasus ini harus segera dituntaskan, apalagi dengan melihat pelaku masih bisa bebas ini akan menambah rasa trauma terhadap korban,” tegas Dani.

Bhagas mengatakan, dalam kasus kekerasan seksual sering tak bisa lepas dari relasi kuasa. 

Kerap kali korban justru diintimidasi dan diserang balik atau disalahkan.

“Apalagi pelaku kekerasan seksual merupakan sosok berpengaruh sekaligus berkuasa, otomatis korban bakal berpikir sangat panjang untuk bersuara,” katanya.

Sumber: Poskota
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »