Masyarakat Kampung Dua Pasaman Barat Butuh Jembatan Permanen

BENTENGSUMBAR.COM - Masyarakat Kampung Dua, Jorong Mahakarya, Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat butuh pembangunan akses jembatan yang permanen. 

Selama puluhan tahun, masyarakat hanya mengandalkan jembatan gantung yang jauh dari kata layak sebagai akses penghubung antar perkampungan dan perkebunan masyarakat.

Salah satu petani kampung dua, Simamora kepada BentengSumbar.com, Selasa, 23 Agustus 2022 mengatakan, hampir setiap hari dirinya melewati jembatan gantung tersebut untuk pergi ke kebun.

Masyarakat sangat mengandalkan keberadaan Jembatan gantung itu sebagai akses jalan satu-satunya untuk mengangkut hasil panen mereka.

Namun disisi lain, kondisi jembatan gantung tersebut sangat memprihatikan, dan sangat jauh dari kata layak dan nyaman untuk dilewati masyarakat.

"Kami sebagai petani, sangat membutuhkan akses jembatan yang layak untuk mengangkut hasil panen, Karen ini jalan satu-satunya, perekonomian kami sangat bergantung dengan keberadaan Jembatan gantung ini, namun jembatan gantung tersebut sudah dalam kondisi yang tidak layak, serta selalu goyang dan berderik setiap dilewati," ucapnya.

Simamora menambahkan, setiap hari ada sekitar 30 ton sawit petani yang melewati jembatan gantung tersebut. Petani biasanya mengangkut hasil panen dengan menggunakan traktor dan mobil kecil dengan muatan sedikit.

"Kalau mau lewat, terpaksa muatan harus kami kurangi, tentunya ini sangat tidak efisien dan biaya pengangkutan juga akan bertambah," ujarnya.

Ia berharap, keluhan masyarakat dan petani, bisa di dengar oleh pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman Barat serta dapat segera memperbaiki dan membangun jembatan yang permanen.

"Harapan kami, jembatan tidak cuma diperbaiki, akan tetapi di bangun permanen oleh pemerintah," ungkapnya.

Disamping itu, pengurus jembatan gantung kampung dua, Yohanes Suharjono mengatakan, selama ini sebanyak 52 kepala keluarga (KK) warga kampung dan para petani sangat mengandalkan keberadaan Jembatan gantung tersebut sebaga akses jalan penghubung dan mengangkut hasil tani mereka. 

Untuk biaya perawatan jembatan, warga dan petani bersama-sama melakukan perbaikan dengan cara swadaya. Petani secara sukarela memberikan sedikit hasil tani mereka untuk perawatan jembatan tersebut.

"Kita tidak mematok iyurannya berapa, tapi rata-rata petani memberikan satu tandan sawit untuk sekali lewat jembatan," ujar Jono.

Lanjutnya, iyuran masyarakat dan petani tersebut mencapai 150 juta setiap tahunnya. Uang tersebut disimpan dalam kas dan sebagian lagi dipergunakan untuk perawatan jembatan dan jalan tani masyarakat.

"Sampai saat ini, uang yang sudah sekitar 700 juta rupiah, rencananya akan kami pergunakan untuk pembangunan jembatan permanen jika di setujui permintaan," jelasnya.

Jono menambahkan, sebelumnya pihaknya telah berupaya dan berkomunikasi dengan pemerintah Daerah Kabupaten Pasaman Barat untuk pembangunan jembatan di kampung dua tersebut. Pihaknya juga telah mengusulkan pembangunan jembatan permanen dengan cara swadaya.

"Kami sudah berulang kali mengajukan pembangunan jembatan permanen ke Pemerintah Daerah, namun hingga kini masih belum di realisasikan. Kami sangat berharap pembangunan jembatan permanen dapat terwujud, karena jika jembatan gantung tersebut putus, maka roda ekonomi masyarakat akan terputus," pungkas Jono mengakhiri. (Rido)

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »