Kematian Misterius Satu Keluarga di Kalideres, Minim Barang Bukti dan Saksi

BENTENGSUMBAR.COM - Bau busuk yang menyeruak selama sepekan itu membawa langkah warga pada rumah keluarga Rudianto, keluarga yang dikenal sangat tertutup selama ini.

Pada Kamis (10/11/2022), pengurus RT setempat beserta warga masuk paksa ke halaman rumah di Blok AC5 no 7, Citra Garden 1, Kalideres, Jakarta Barat. Di sana mereka menemukan tetangganya sudah dalam keadaan tak bernyawa. 

"Bau busuk sudah satu minggu. Hari pertama sampai hari kedua itu baunya masih bau kayak bangkai tikus. Hari ketiga sudah bau busuk banget," kata J, pemilik restoran Halu Bowl yang berjarak dua rumah dari lokasi, Jumat (11/11/2022).

J mengungkapkan, setiap warga maupun pedagang melintas di deretan restorannya, juga mencium bau busuk itu.

Ketua RT 7 RW 15 Asiung menceritakan bahwa asal bau busuk itu semakin diperkuat ketika petugas PLN datang untuk memutus aliran listrik di rumah tersebut.

"Sabtu lalu sudah tercium bau sedikit, tiga hari lalu itu bau busuknya sudah menyengat. Kebetulan Rabu pukul 17.00 WIB, petugas PLN mengadakan pemutusan listrik karena adanya tunggakan," kata Asiung.

Mendapat masukan warga, akhirnya pengurus RT dibantu warga terpaksa mendobrak pagar rumah keluarga Rudianto. Sebab, pagar dan pintu rumah dalam kondisi terkunci dari dalam.

Kemudian, dia menemukan rumah dalam keadaan gelap. Setelah membuka jendela salah satu kamar, Asiung pun menyenter segala penjuru ruangan.

"Saya sorot lampu, ternyata itu mayat. Langsung segera saya kerahkan ke teman saya wilayah lingkungan untuk melaporkan ke Polsek Kalideres," ungkap Asiong.

Melalui salah satu jendela, Asiung juga melihat mayat seorang yang ia duga sebagai Dian (42) anak dari dua lansia di rumah itu.

Setelah polisi datang dan mendobrak pintu ruang tamu, kemudian ditemukan lebih banyak anggota keluarga lainnya.

Jasad suami diketahui bernama Rudyanto Gunawan (71), sedangkan sang istri bernama K. Margaretha Gunawan (58). Anak perempuan dari keduanya Dian (42), dan Budyanto Gunawan (69) yang merupakan ipar dari Rudianto.

"Polisi datang barulah kami dobrak pintu. Ditemukanlah jumlah lebih dari satu, dua ternyata di kamar, satu di ruang tengah, satu lagi di kamar belakang," ujar Asiung.

Dia mengatakan, satu jasad di ruang tamu pun terlihat dalam posisi duduk.

Sementara, dia juga melihat ada jenazah dalam kondisi yang masih basah, dan ada juga sudah mengering.

Beberapa jam setelah ditemukan, polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan membawa jenazah ke RS Polri Kramat Jati untuk diotopsi.

Sejumlah barang bukti pun diamankan polisi dari lokasi kejadian, seperti beberapa catatan, ponsel, dan lain-lain.

Kondisi rumah

Saat melihat korban menemani polisi, Asiung sempat melihat sejumlah benda di dalam rumah.

"Di meja itu ada kapur barus. Kapur barusnya ada di dalam mangkok ditaruh di atas meja makan," ungkap Asiung.

Selain semangkuk kapur barus, Asiung juga melihat sebuah lilin berwarna merah dan bedak wajah di atas meja makan yang sama.

Sementara, Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar melihat kondisi kulkas di rumah itu dalam kondisi kosong.

"Perabotannya itu ada, kulkas ada, tapi isinya kosong. Enggak ada makanan, benar-benar kosong," kata Syafri saat dihubungi, Jumat.

Ia juga melihat sejumlah barang dimasukkan ke dalam kardus.

"Jadi di dalam rumah itu, banyak barang-barang yang dimasukin ke dalam kardus, diikat juga. Barang-barang kayak orang mau pindah," kata Syafri saat dihubungi, Jumat.

"Lampu juga banyak yang dicopot. Kayaknya sudah dicopot dari lama. Mungkin sebelum ngomong ke PLN (untuk diputus aliran listriknya), sudah dicopot bohlamnya," lanjut dia.

Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pasma Royce menduga bahwa keluarga tersebut hendak pindah rumah.

"Sebelum keluarga ini (ditemukan tewas), ternyata sudah mengepak-ngepak barang untuk pindah," ujar Pasma di kantornya.

Minim saksi karena korban sangat tertutup

Tetangga korban, Roy (33) mengatakan, telah bertetangga dengan korban sejak sekitar 20 tahun lalu. Ia mengenal keluarga korban sangat jarang bersosialisai.

"Saya di sini dari 20 tahun lalu, termasuk penghuni paling awal sama dia (keluarga korban) juga, sama tetangga sebelah lainnya juga," kata Roy.

Kendati bertetangga sejak lama, ia sama sekali tidak mengenal keluarga tersebut, bahkan ia mengaku tidak mengenal nama korban.

"Namanya enggak tahu. Saya cuma kenal muka saja. Memang mereka sangat tertutup, jarang keluar, enggak pernah sosialisasi. Enggak pernah kelihatan pas kegiatan warga," kata Roy.

Roy memiliki restoran di dekat rumah itu. Dia dan karyawan restorannya mengaku hanya pernah melihat mobil yang keluar masuk rumah, dan sesekali penghuni yang berjalan kaki tanpa bertegur sapa.

"Dua atau tiga bulan lalu, karyawan restoran saya lihat dia pesan makanan online, ada yang datang. Habis itu enggak pernah lihat lagi. Karyawan perempuan juga sekali doang lihat ibunya pakai daster tiga bulan ini," ungkap Roy.

Sedangkan Ketua RT Asiung yang tinggal di seberang rumah korban, mengatakan, asisten rumah tangganya melihat korban mengeluarkan sejumlah perabotan dari dalam rumah ke mobil boks.

"Kurang lebih 5 September 2022, asisten rumah tangga saya melihat itu ada mobil boks, lalu mengeluarkan barang-barang seperti AC dan lemari es," kata Asiung.

Asiun pun sempat menanyakan kepada korban terkait informasi dari asisten rumah tangganya itu.

"Lalu saya keluar, tanya (ke korban), 'Kamu rumahnya sudah mau dijual?' Dijawab, 'Tidak, Om,' begitu," kenang Asiung.

Ia juga mengakui keluarga tersebut memang tidak pernah mengikuti kegiatan warga, dan terkesan sangat tertutup.

Sementara, berdasarkan informasi dari kepolisian, adik korban, Margaretha mengaku sudah lama tidak berkomunikasi dengan kakak maupun keluarganya itu.

Adik korban juga mengaku kali terakhir bertemu para korban lima tahun yang lalu.

"Satu orang sudah kami minta keterangan. Namun, adik dari ibunya itu, dia mengatakan bahwa terakhir ada komunikasi via telepon itu satu tahun lalu," ujar Kapolsek Kalideres AKP Syafri Wasdar.

Komunikasi terakhir

Lantaran jarang melihat korban, Asiung sebagai Ketua RT biasa berkomunikasi melalui Whatsapp kepada Dian. Terakhir berkomunikasi adalah terkait tunggakan tagihan listrik PLN.

Asiung menjelaskan, korban menunggak tagihan listrik pada Agustus 2022. Ia pun sempat mengingatkan Dian agar segera membayar tagihan, sesuai permintaan petugas PLN.

Lantaran keluarga korban tidak kunjung membayar tagihan, petugas PLN pun menalangi tagihan tersebut.

"Jadi ada program dari PLN, apabila warga yang nunggak, itu ditalangin petugas. Diharapkan, penghuni segera membayar ke petugas atas dana talangan tersebut. Apabila diabaikan, maka akan diputus alirannya, dicabut meterannya," jelas Asiung.

Setelah itu, kata Asiung, Dian pun berkomunikasi dengan petugas PLN dan membayarkan dana talangan tersebut.

Akan tetapi, pada bulan berikutnya, PLN yang hendak menagih tagihan listrik yang terlambat itu, justru diberi pesan oleh Dian agar melakukan pemutusan listrik.

"Tanggal 4 Oktober dia chat, 'Silahkan bapak putus aliran listrik di rumah saya. Apabila saya ingin melakukan pemasangan baru, nanti saya akan menghubungi, Bapak' itu chat yang diberikan terakhir kepada petugas PLN," ungkap Asiung.

Kemudian, untuk memastikan kelanjutan layanan listrik di rumah tersebut, petugas kembali mengirim pesan pada 27 Oktober 2022. Namun, pesan tak sampai.

"Tanggal 27 Oktober, petugas melakukan telepon balik, tapi sudah ceklist satu tidak ada berita (kabar) sama sekali," ungkapnya.

Atas keadaan tersebut, pada 9 November 2022, petugas PLN kembali datang untuk melakukan pemutusan meteran.

"Petugas datang tapi tidak ada respons. Akhirnya petugas pakai tangga naik ke atas dan memutus sambungan listrik dari kabel," ungkap dia.

Saat memanjat kabel tersebut, petugas dan warga mencium aroma busuk dari dalam rumah.

Hasil otopsi

Pada Jumat siang, polisi mengumumkan hasil otopsi dari keempat jenazah. Hasilnya, dokter memastikan tidak ada tanda kekerasan pada jasad korban.

"Tadi pagi, berdasarkan informasi dari dokter dan anggota yang menyaksikan hasil pemeriksaan, bahwa terhadap empat mayat tersebut tidak ditemukan tanda kekerasan," kata Kapolres Pasma.

Dari otopsi juga menunjukan bahwa bahwa tidak ditemukan sisa makanan pada lambung korban lantaran otot lambung yang mengecil.

"Berdasarkan pemeriksaan bahwa dari lambung para mayat ini tidak ada makanan. Jadi bisa diduga berdasarkan pemeriksaan dari dokter, bahwa (korban) ini tidak makan dan minum cukup lama, karena dari otot-ototnya sudah mengecil," kata Pasma.

Masih berdasarkan otopsi, ditemukan fakta bahwa keempat orang tersebut meninggal sejak 3 pekan lalu, namun dengan waktu kematian yang berbeda.

"Berdasarkan keterangan forensik bahwa kematian ini dari 3 minggu yang lalu. Jasad semuanya di waktu berbeda meninggalnya. Sehingga waktu pembusukan jasad masing-masing berbeda," jelas Pasma.

Terkait dugaan korban tewas akibat kelaparan, Pasma mengatakan, dokter forensik RS Bhayangkara Polri masih akan memeriksa organ lainnya.

"Dari dokter RS Bhayangkara Polri akan melakukan pendalaman lagi dengan memeriksa hati dan organ-organ lainnya dari kasus kematian ini. Supaya lebih spesifik mengetahui penyebab kematian ini," ujar Pasma.

Kendati demikian Pasma tidak menjelaskan lebih jauh tentang langkag penyidik dalam mengungkap misteri yang minim bukti dan saksi ini.

Sumber: Kompas.com

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »