Advertorial

Daerah

Ketum DPP BAPERA: Bahas Sekilas H-1 Seputar Menjelang G20 dan Kondisi Global Terkini

          Ketum DPP BAPERA: Bahas Sekilas H-1 Seputar Menjelang  G20 dan Kondisi Global Terkini
Ketum DPP BAPERA: Bahas Sekilas H-1 Seputar Menjelang G20 dan Kondisi Global Terkini
BENTENGSUMBAR.COM - Ketegangan Politik yang melanda negara negara besar akan dikhawatirkan menutup Agenda Ekonomi KTT G20. 

"Jadi tantangan terbesar bagi G20 adalah untuk membawa para pemimpin yang berbeda geopolitik, bersama-sama untuk menemukan titik temu dan solusi untuk krisis jangan pendek dan jangak Panjang. Khususnya soal perang Rusia-Ukraina, ketegangan AS-China yang meningkat, inflasi yang melonjak, ancaman resesi global yang terus membayangi, ancaman nuklir dari Korea Utara yang mungkin paling mengkhawatirkan dari semuanya," ungkap Fahd El Fouz A Rafiq, Ketua Umum DPP BAPERA, Senin, 14 November 2022.

Seluruh mata dunia akan terfokus ke Indonesia dikarena pada 15-16 November 2022 akan menjadi tuan rumah pada Konfrensi Tingkat Tinggi  Group of Twenty (G20) di Nusa Dua, Bali. 

"Ini adalah sebuah forum tingkat tinggi yang berfokus pada Isu keuangan dan Non Keuangan yang maha penting. Pada pertemuan kali inilah bisa dipastikan masa depan dunia 10-20 tahun kedepan akan ditentukan," tutur Fahd El Fouz A Rafiq.

Sebelum masuk ke tema inti Fahd A Rafiq mengajak kita Destinasi terlebih dahulu karena surga yang indah dari pohon palem dan nanas, matahari, pasir dan ketenangan adalah apa yang terlintas banyak orang khususnya turis mancanegara yang menyebut Pulau Bali adalah Surga dunia. 

"Dan bukan hanya itu saja ada sebuah pura lempuyungan yang menjadi spot gerbang surga yang biasa disebut Gates of Heaven yang menjadi tempat terfavorit pada traveler mancanegara untuk berfoto," cakapnya.

Ketum DPP Bapera menambahkan, G20 yang memiliki tema “Recover Together, Recover Stronger” atau “Pulih Bersama, Bangkit Perkasa”. Dengan tema tersebut diharapkan kondisi Dunia khususnya diharapkan bisa kembali pulih dan bisa bangkit seperti sedia kala. 

"Edisi G20 kali ini adalah yang paling menegangkan karena bertemunya seluruh negara besar dunia abad 21 yang yang visinya sering bergesekan sehingga menimbulkan gejolak yang luar biasa pada perekonomian, perdamaian, iklim dan isu lain. Disisi lain Bapak Presiden Joko Widodo juga berharap Indonesia pada tahun 2045 adalah era ke emasan Indonesia yang benar benar terwujud dan pada tahun 2030 Nusantara menjadi negara yang ekonominya paling maju di dunia," ujarnya.

Jika melihat kaca mata dari negara luar hal tersebut merupakan ambisi yang tinggi, akan tetapi itu satu resonasi dengan masyarakat Indonesia. "Seperti kita ketahui Bersama masa depan Indonesia sangat tergantung pada lingkungan ekonomi global yang stabil dan hal itu diluar kendali bapak Presiden Joko Widodo."

Mantan Ketum DPP KNPI melanjutkan, tiga hal yang akan dibahas pada G20 kali ini yaitu soal penanganan kesehatan yang inklusif, transformasi berbasis digital dan transisi menuju energi yang berkelanjutan. Momentum ini menjadi kesempatan yang paling tepat khususnya untuk negara berkembang untuk memperjuangkan aspirasi, serta merasakan manfaat dari kerja sama anggota G20. 

Presiden Rusia, Vladimir Putin terkonfirmasi tidak akan Hadir pada G20 ini dan akan diwakili oleh Menteri Luar Negerinya, Sergei Lavrov. 

Fahd A Rafiq menjabarkan mengapa KTT G20 ini berbeda dari sebelumnya-belumnya karena negara yang memiliki G20 Saat ini terlibat langsung dalam konflik.

"Seperti NATO, BRICS dan negara yang sedang sedang berperang khususnya di Ukraina telah jelas menyatakan sikapnya. Apakah akan memanas pada pertemuan kali ini?"

Pertemuan Amerika dan Tongkok terkunci dalam persaingan kekuatan besar yang semakin intensif. Amerika dan China tidak setuju satu sama lain hampir di setiap masalah besar dan selau bersebrangan Mulai dari Taiwan, perang di Ukraina, Korea Utara, transfer teknologi hingga bentuk tatanan dunia, tutur pengusaha muda tampan ini. 

Pria muliti talenta ini menambahkan, dipastikan dunia akan menyorot dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia yaitu Tiongkok dan Amerika. 

Biden hanya ingin mendapatkan pemahaman yang lebih detail dan jelas dari Xi Jin Ping. Biden ingin KTT G20 Sebagai pembangun landasan bagi hubungannya dengan Tiongkok dan mencegah jatuh kedalam konflik terbuka. 

Harapannya adalah bagaimana pusat perbedaan kedua negara memandang motif satu sama lain dan merugikan tujuan ini bagi kepentingan mereka sendiri. 

Dimana Tiongkok xi Jin Ping dengan semangat cina satunya itu merugikan amerika, karena melibatkan Taiwan, yang mana negeri yang dipimpin oleh Tsai Ing-wen ini menganut paham DEMOKRASI sehingga amerika ada kepentingan disana. 

Biden berharap pertemuannya dengan Xi Jin Ping akan berdampak signifikan, pertemuan KTT G20 ini dapat mengarah pada peningkatan yang langgeng khsusunya negara yang pernah mesra menjalin hubungan bilateral. 

Dalam persaingan dagang China dan AS sudah masuk tahap konfrontasi yang hampir total disegala lini. Kemungkinannya untuk mengantisipasi masalah utama tidak se utuhnya akan di klafikasi. sekali lagi Amerika hanya ingin tahun motif tiongkok begitu juga sebaliknya. 

Bagi poros Beijing tidak ada garis merah yang lebih mencolok atau lebih penting dari pada Klaimnya atas
Taiwan. Sebuah pemerintahan sendiri yang tidak pernah dikendalikan oleh Partai Komunis Tiongkok. Xi memandang saatnya sekarang untuk penyatuan kembali karena hal tersebut adalah target bernegaranya tiongkok menuju peremajaan besar. 

"Visi besarnya beliau menuju Tiongkok Jaya pada 2049. Disatu sisi ada sebuah kebijakan yang dikenal dengan ambiguitas strategis, Washington mengakui posisi Beijing Taiwan adalah bagian dari Cina tapi tidak pernah menerika klaim kedaulatannya atas pulau tersebutAS menyediakan senjata pertahanan Taiwan, tetapi tetap tidak jelas apakah akan melakukan intervensi militer jika China menyerang pulau itu," ungkapnya.

Selain tiga tema penting diatas ada banyak topik diskusi seperti  perang Rusia-Ukraina, ketegangan AS-China yang meningkat, inflasi yang melonjak, ancaman resesi global yang terus membayangi, ancaman nuklir dari Korea Utara, dan mungkin yang paling mengkhawatirkan dari semuanya, bumi yang memanas dengan cepat, hal itu harus dibicarakan. 

Mantan Ketum Ormas MKGR itu memperjelas buruknya hubungan antara Tiongkok dan USA dari beberapa tahun terakhir dimulai dari Hongkong, Taiwan hingga laut cina selatan, praktik perdagangan koersif dan pembatasan teknologi yang dilakukan oleh AS kepada Tiongkok.

Makin panas ketika ketua DPR AS Nancy Pelosi pada Agustus 2022 ke Taiwan, pulau demokrasi yang memiliki pemerintahan sendiri dan Beijing klaim itu wilayahnya. Kunjungan Nancy Pelosi membuat cina murka pada AS, yang kemudian melancarkan latihan militer dekat Taiwan. 

Ketegangan Politik yang melanda negara negara besar akan menutup Agenda Ekonomi KTT G20. Karena Presidensi ini Datang ketika USA, Cina dan Rusia mengurangi prospek koordinasi pada krisis ekonomi dan Inflasi dibanyak negara mencapai titik tertinggi dalam 40 tahun. Karena perang di Ukraina mengganggu rantai pasukan dan mengacaukan pasar energi. 

"Mengapa US sangat marah dengan Arab Saudi karena raja salman tidak mau memproduksi lebih banyak minyak bumi dan harganya tetap tinggi, ingat perang itu membutuhkan BBM yang sangat banyak. Jadi amerika sangat ketergantungan dengan negara timur tengah dan tidak nurut padanya."

Jadi tantangan terbesar bagi G20 adalah untuk membawa para pemimpin yang berbeda geopolitik, Bersama sama untuk menemukan titik temu dan solusi untuk krisis jangan pendek dan jangaka Panjang. 

Ada beberapa hal yang Bapak Presiden Joko Widodo Khawatirkan yaitu ketegangan geopolitik yang membayangi KTT dan tidak dimaksudkan untuk forum politik, Presiden AS Joe Biden dan pemimpin China Xi Jinping akan bertemu pada hari Senin - dan bentrokan dua ekonomi terbesar dunia itu membuat Jokowi khawatir. 

“Tidak akan ada perdamaian tanpa dialog.  Dalam wawancara khusus di Istana Presiden, digambarkan sebagai G20 yang paling rumit dan menegangkan secara diplomatis. Jika Presiden Xi Jinping dan Presiden Joe Biden dapat bertemu dan berbicara, itu akan sangat baik bagi dunia, terutama jika mereka dapat mencapai kesepakatan tentang bagaimana membantu dunia pulih."

Era di mana China dan AS tidak akur jauh lebih berbahaya daripada yang biasa dialami Indonesia dan negara-negara Asia lainnya.  

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini khawatir kemungkinan penggunaan senjata nuklir, baik di Ukraina atau di semenanjung Korea, di mana Pyongyang telah menembakkan sejumlah rudal tahun ini.

“Penggunaan senjata nuklir dengan alasan apapun, tidak dapat ditolerir,” kata Ir. Joko Widodo.

"Meningkatnya potensi penggunaan nuklir sangat berbahaya bagi perdamaian dan stabilitas dunia. Dalam pandangan mantan wali kota solo ini  Beliau bertanggung jawab atas kenaikan harga, sesuatu yang secara langsung berdampak pada 275 juta orang Indonesia. Dia dengan sopan menyebut invasi Rusia ke Ukraina sebagai "sakit kepala", dan menggangu pikiran Bapak Presiden kita."

"Maka dari itu mari kita sukseskan Konfrensi tingkat tinggi maha penting ini, karena  KTT G20   berada tepat di negara super power yang sedang konflik akan pengaruhnya kepada dunia global. Indonesia harus ambil peran strategis disini, yang jadi pertanyaan apakah poros tengah akan di hidupkan kembali dalam percaturan global, Indonesia harus jadi leadernya," tutup Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar. (ASW)
Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »