| Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut ejekan sebagai bentuk penghargaan mendapat sorotan dari Founder Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Hendri Satrio atau Hensat. |
Menurut Hensat, pandangan tersebut perlu dikaji ulang agar tidak menyederhanakan makna kritik publik. Ia menegaskan bahwa tidak semua kritik dapat disamakan dengan ejekan.
“Memang tergelitik jika ejekan dianggap sebagai bentuk penghargaan, padahal belum tentu demikian,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026.
Hensat menilai masukan kritis dari masyarakat seharusnya dipahami sebagai bagian dari kontrol publik yang bertujuan memperbaiki kebijakan dan kinerja pemerintah.
“Masukan kritis dari masyarakat seharusnya diterima sebagai bahan perbaikan, bukan dimaknai sebagai upaya mengejek,” pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ejekan, cemoohan, hingga fitnah yang ditujukan kepada dirinya dan pemerintah justru diterimanya dengan kepala tegak.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan Taklimat Awal Tahun dalam Retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 6 Januari 2026.
Dalam kesempatan itu, Prabowo mengungkapkan bahwa sejak awal banyak pihak meragukan keberhasilan program andalan Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun kini, ia menegaskan keraguan tersebut telah terjawab.
“Begitu banyak pakar yang mengejek saya dan tim saya, menyinyir. Mereka mengatakan MBG pasti gagal. Namun, kami membuktikan bahwa MBG berhasil dan kini dinantikan oleh seluruh rakyat,” tegas Prabowo. (*)
Sumber: RMOL
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »