Tertinggal di Ranah Minang

Tertinggal di Ranah Minang
Memasuki 2026, Sumatera Barat masih menanggung beban data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2025.

TAHUN
2026 baru saja berjalan. Kalender berganti, baliho diganti, dan jargon-jargon pembangunan kembali dipoles. Di halaman Istana Gubernuran Sumatera Barat, Jalan Sudirman, Padang, senyum para pejabat tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Gubernur Mahyeldi Ansharullah dan wakilnya, Vasko Ruseimy, kembali tampil rapi dalam foto resmi awal tahun—menandai optimisme, setidaknya di hadapan kamera.


Namun, angka-angka tidak ikut tersenyum.


Memasuki 2026, Sumatera Barat masih menanggung beban data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2025. Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 yang hanya mencapai 3,94 persen menempatkan provinsi ini di peringkat ke-31 dari 38 provinsi nasional. Di Pulau Sumatera, Sumbar tercatat sebagai provinsi dengan pertumbuhan paling lambat. Angka itu kini menjadi warisan awal tahun—bukan lagi sekadar catatan, melainkan tantangan yang belum terjawab.


Warisan Angka, Beban Arah


Lampung tumbuh di atas 5 persen. Jambi dan Bengkulu mendekati angka yang sama. Bahkan Riau, yang kerap diguncang fluktuasi sektor sawit dan migas, masih bergerak lebih cepat. Sumatera Barat tertinggal dari semua tetangganya. Memasuki 2026, posisi ini bukan lagi kejutan—melainkan pola yang mulai mengkhawatirkan.


Mahyeldi, politisi Partai Keadilan Sejahtera yang akrab disapa Buya, sejak awal kepemimpinannya mengusung janji kebangkitan ekonomi berbasis sektor unggulan: pertanian, pariwisata, dan UMKM. Vasko Ruseimy, pengusaha muda yang kini menjabat wakil gubernur, diharapkan membawa pendekatan manajerial yang lebih progresif. Namun, empat tahun berlalu, dan Sumbar justru bergerak lebih lambat dari arus regional.


“Ini bukan lagi alarm, ini evaluasi,” kata seorang ekonom Universitas Andalas. Menurutnya, ketergantungan Sumbar pada konsumsi rumah tangga dan sektor-sektor tradisional membuat ekonomi daerah ini rapuh. Ketika daerah lain melaju dengan hilirisasi dan industrialisasi ringan, Sumbar masih berkutat pada pola lama.


Infrastruktur yang Tak Kunjung Menjadi Jawaban


Masuk 2026, proyek-proyek infrastruktur yang digadang sebagai pengungkit ekonomi belum juga menunjukkan dampak signifikan. Tol Padang–Pekanbaru, yang sejak lama disebut sebagai urat nadi konektivitas Minangkabau, masih menyisakan ruas-rusak dan janji-janji percepatan. Pelabuhan belum menjelma menjadi simpul logistik regional. Bandara belum menjadi magnet ekonomi baru.A


kibatnya, investor tetap ragu. Modal lebih memilih daerah yang memberi kepastian waktu dan kemudahan. Sumbar, dengan segala potensinya, masih dianggap “menunggu”.


Daerah Lain Melaju, Sumbar Terlihat Diam


Kontras itu makin jelas bila menoleh ke provinsi tetangga. Lampung berani menata industri pengolahan singkong dan kopi. Jambi memanfaatkan momentum harga komoditas. Bengkulu mulai membaca pariwisata bahari sebagai mesin pertumbuhan. Sumatera Utara, dengan sokongan politik pusat, terus mendorong Danau Toba sebagai etalase nasional.


“Sumbar seperti berjalan di tempat,” ujar peneliti dari LPEM UI. 


Padahal, modal sosial Minangkabau sangat kuat: tanah subur, destinasi wisata kelas dunia, serta diaspora perantau yang menguasai jejaring bisnis nasional. Namun, modal itu belum dijahit menjadi strategi ekonomi yang terstruktur.


Pariwisata masih terkendala akses dan manajemen. Pertanian belum masuk fase hilirisasi serius. UMKM tumbuh, tetapi sering tanpa ekosistem pendukung yang berkelanjutan. Memasuki 2026, masalahnya bukan lagi potensi—melainkan keberanian mengolahnya.


Politik yang Menghambat Langkah


Sejumlah pengamat menilai persoalan ekonomi Sumbar tak bisa dilepaskan dari dinamika politiknya. Hubungan pemerintah daerah dan pusat yang kerap tidak seirama membuat sejumlah proyek strategis tersendat. Mahyeldi beberapa kali tercatat berbeda pandangan dengan pemerintah pusat dalam isu kebijakan strategis.


“Tanpa dukungan pusat, akselerasi besar sulit terjadi,” ujar seorang pejabat di Kementerian PUPR.


Di tingkat lokal, friksi antara eksekutif dan legislatif menyita energi. Anggaran tersendat, program prioritas berjalan lamban. Sementara provinsi lain bergerak cepat, Sumbar kerap terjebak dalam tarik-menarik kepentingan politik.


Warga yang Menunggu Hasil


Di nagari-nagari, dampak perlambatan itu terasa nyata.


Irwan Syafril, petani di Tanah Datar, masih bergelut dengan harga gabah yang tak kunjung naik, sementara biaya produksi terus menanjak. 


“Tahun baru, tapi hidup masih begitu-begitu saja,” katanya.


Generasi muda terus merantau. Data migrasi menunjukkan arus keluar dari Sumbar belum surut. Kota Padang mencatat berkurangnya penduduk usia produktif. Sawah-sawah mulai kehilangan tangan muda.


“Kalau semua pergi, siapa yang tinggal membangun?” tanya Irwan.


Awal 2026: Saat Memilih Jalan


Vasko Ruseimy menyebut perlambatan ini sebagai fase transisi. Pemerintah provinsi, katanya, tengah menyiapkan akselerasi pariwisata dan hilirisasi pertanian. Namun, memasuki 2026, publik menunggu lebih dari sekadar rencana. Mereka menunggu tanda-tanda nyata.


Pemerintah pusat telah membuka peluang—Kawasan Mandeh, misalnya, kembali masuk daftar destinasi unggulan. Tapi tanpa kesiapan infrastruktur dan tata kelola, program itu rawan berhenti sebagai slogan.


Seorang peneliti senior menegaskan, Sumbar harus berani meninggalkan pola lama.


“Tradisi merantau tak cukup lagi. Ekonomi harus tumbuh di tanah sendiri.”


Di Simpang Tahun


Awal 2026 adalah cermin. Angka-angka 2025 tidak bisa dihapus, tetapi bisa dijadikan pijakan. Jika tak ada lompatan kebijakan, posisi papan bawah bisa menjadi identitas baru. Namun, jika potensi dikelola dengan keberanian politik dan disiplin eksekusi, arah bisa berubah.


Orang Minang dikenal ulet, adaptif, dan pandai membaca peluang. Kini pertanyaannya bukan pada rakyat, melainkan pada kepemimpinan: beranikah mereka melompat, atau akan terus melangkah kecil?

Untuk saat ini, senyum di foto-foto resmi masih sama. Publik berharap, di akhir 2026 nanti, senyum itu tak lagi sekadar simbol—melainkan pantulan dari ekonomi Ranah Minang yang benar-benar bergerak.

(***)


Penulis: Muhibbullah Azfa Manik

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »