Waketum MUI: Kritik Pandji Pragiwaksono Bukan Hinaan, Tapi Dakwah yang Menyentil

Waketum MUI: Kritik Pandji Pragiwaksono Bukan Hinaan, Tapi Dakwah yang Menyentil
Cholil membedah gaya retorika Pandji yang dinilainya khas: kritis, jenaka, namun tetap bernas. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Di tengah sorotan tajam terhadap materi komika Pandji Pragiwaksono yang menyinggung konsesi tambang ormas keagamaan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis, memberikan perspektif yang mencerahkan. 

Alih-alih melihat materi tersebut sebagai serangan, Cholil justru menilai gaya komunikasi Pandji sebagai bentuk dakwah dalam spektrum yang luas.

Cholil membedah gaya retorika Pandji yang dinilainya khas: kritis, jenaka, namun tetap bernas. 

Menurutnya, narasi yang dibangun Pandji di atas panggung tidak berhenti sekadar sebagai hiburan, melainkan membawa pesan sosial yang mendalam.

"Humor yang dihadirkan bukan semata untuk meremehkan persoalan, tetapi justru menjadi medium yang efektif untuk 'menyentil' kesadaran publik tanpa menggurui dan menyakiti," ujar Cholil Nafis dalam keterangannya yang sudah diizinkan dikutip inilah.com dari akun media sosialnya, Sabtu (10/1/2026).

Komedi Sebagai Medium 'Amar Ma'ruf'

Dalam kacamata Cholil, pendekatan kritik yang dibalut kelakar seringkali lebih ampuh menembus benteng pertahanan psikologis audiens ketimbang nasihat kaku. 

Kritik tersebut tetap terasa "menusuk" karena berpijak pada realitas sosial yang dirasakan bersama, namun disampaikan tanpa menghakimi secara kasar.

Ia menekankan bahwa substansi dari materi yang mengajak audiens berpikir, merenung, dan bercermin sejatinya sejalan dengan esensi dakwah Islam.

"Pendekatan ini sejalan dengan esensi dakwah Islam dalam makna luas, yakni mengajak pada kebaikan melalui kata bijak penuh hikmah dan kebijaksanaan, bahkan perdebatan yang baik," jelasnya.

Cholil menegaskan bahwa definisi dakwah tidak boleh dikerdilkan hanya sebatas ceramah di atas mimbar atau yang dibalut simbol-simbol keagamaan formal. Ketika sebuah kritik sosial mampu mendorong muhasabah (introspeksi) diri—baik personal maupun kolektif—maka fungsi dakwah di ranah sosial telah berjalan.

Mengajak Jujur dan Adil

Lebih lanjut, Cholil menilai bahwa ajakan untuk jujur pada diri sendiri, peduli pada keadilan, dan menjaga kesehatan moral bangsa yang tersirat dalam materi komedi adalah bagian dari upaya amar ma'ruf (mengajak kebaikan) bagi seluruh elemen bangsa.

Pandangan Waketum MUI ini memberikan landasan teologis dan sosiologis bahwa kritik satire, seperti yang dilakukan Pandji dalam pertunjukan Mens Rea, memiliki tempat terhormat dalam dialektika kebangsaan, selama tujuannya adalah perbaikan dan penyadaran. (*) 

Sumber: Inilah.com

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »