| Penulis adalah Oleh: Dr. H. Amiruddin, SH., MH., Pengurus PWI Sumbar dan Wartawan Utama. |
Sampai saat ini, tanggal itu tercatat sebagai Hari Pers Nasional (HPN), yang kemudian dirayakan secara meriah setiap tahunnya.
Saya sebagai wartawan yang baru menapaki profesi jurnalistik sejak tahun 1982, sangat menghormati HPN yang dirayakan setiap tahunnya.
Sebagai wartawan yang sudah berkiprah dan menggeluti profesi ini selama 44 tahun, sempat mengisi jabatan selama 4 (empat) periode selaku Wakil Ketua PWI Propinsi Sumbar sampai tahun 2029 nanti.
Sejak dulu saya selalu ingin mengikuti HPN yang diselenggarakan secara bergantian di berbagai propinsi di Indonesia.
Alhamdulillah, terakhir saya kembali diutus oleh Ketua PWI Propinsi Sumbar Widya Navis, sebagai salah satu dari 31 perserta HPN tahun ini dari PWI Propinsi Sumbar, diselenggarakan di kota Serang Propinsi Banten.
Untuk mengikuti rangkaian acara HPN, 30 (tiga puluh) peserta diberangkatkan dengan pesawat Pelita Air hari Jumat 06 Februari 2026.
Karena adanya giat yang tidak bisa diabaikan, saya terpaksa bertolak sendirian dengan merek pesawat yang sama pada hari Sabtu, 07 Februari 2026.
Kendati berangkat sendiri sehari kemudian, ternyata saya tidak sendirian. Dalam pesawat, ada rekan terbaik saya Novermal, wartawan senior yang kini sudah 2 (dua) periode dipercaya rakyat, sebagai anggota Legislatif di Kabupaten Pesisir Selatan.
Setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta, kami turun berbarengan dan mencari transportasi umum menuju kota Serang Banten.
Hari itu tidak ada penjemputan di bawah kendali panitia HPN. Para pialang travel berseleweran menawarkan mobil carteran dengan badrol Rp 995 ribu.
Kalau mau naik Taxi, bergantung kepada argo meter, yang kadang kala bisa berbayar jutaan, jika terperangkap macet.
Tanpa banyak pikir, kami berinisiatif mendatangi Bus Damri. Tarif standar ke kota Serang hanya dibandrol Rp 140 ribu. Selama perjalanan satu setengah jam, kami manfaatkan untuk tidur-tidur ayam di atas bus.
Sampai di Loket Damri Serang sekitar pukul 14.00 wib, sumatera tengah terasa keroncongan.
Tampak tertulis Rumah Makan Padang di seberang jalan. Kami pun merapat kesana menikmati makan siang yang sangat nikmat karena kelaparan.
Dengan menaiki Taxi Blue Bird, kami berangkat menuju hotel masing-masing. Kebetulan rekan Novermal diinapkan di Horison Hotel.
Sedangkan saya, ditempatkan di D’Gria Family Hotel, naik tangga di lantai tiga. Setelah berkemas, saya buru-buru ingin mengikuti berbagai rangkaian acara, termasuk Konfrensi Kerja Nasional di Aston Hotel Ballroom.
Sore hari, iseng-iseng saya menyeberangi jalan mencari kopi. Alhamdulillah, saya tertambat ke sebuah Resto besar bermerek “Kampung Kecil”.
Di depan terpajang baliho, harga segelas kopi hanya Rp 1.000. Semula saya tidak percaya. Ahh… itu cuma iklan kok. Ternyata iklan itu jadi kenyataan.
Benar harga segelas kopi hanya Rp 1.000, tetapi aneka makanan enak-enak, harganya standar dan tidak terlalu mahal.
Bingung duduk sendirian, saya menelpon Aidil dan Soesilo, untuk datang ke Resto Kampung Kecil, yang di atasnya berdiri restoran yang amat besar. Kami bertiga menikmati kopi seribu dan aneka ragam makanan enak. Kami menghabiskan waktu hingga menjelang magrib.
Keesokan harinya saya bersama; H. Khudri, Emil Mahmudsyah, Guspa Chaniago dan Aidil, menyempatkan diri shalat subuh di masjid depan hotel.
Selepas sembahyang, kami mencari tempat sarapan di warung Mie Aceh. Sekira pukul 11.00 wib, semua penginap PWI asal Padang, dijemput petugas dari Pemerintahan Propinsi Banten untuk makan siang di Rumah Makan Taman Taktakan, spesialis Sup Ikan yang amat gurih.
Sehabis makan siang, kembali kami dijamu Gubernur Propinsi Banten Andra Soni, rang awak asal Andaleh Payakumbuh di Pandopo.
Di sini kami disuguhi kopi hangat dan durian, sambil berkelakar memakai bahaso awak.
Gubernur yang rendah hati ini, mengajak kami berbahasa minang. Kalau di Sumbar, Gubernur terpilih berasal dari kabupaten/kota, itu soal biasa.
Tapi yang luar biasa, Andra Soni urang awak, menjadi penguasa nomor wahid di rantau urang propinsi Banten, memang jarang terjadi di Republik ini.
Selepas bercengkrama dengan Gubernur dan istri, saya bersama Yahya buru-buru menuju Aston Hotel, karena ditugasi Ketua PWI Propinsi Sumbar, untuk menghadiri acara Konferensi Nasional Media Massa.
Keesokan harinya, para peserta Kembali ke Padang Kota Tercinta.(*)
*Penulis adalah Oleh: Dr. H. Amiruddin, SH., MH., Pengurus PWI Sumbar dan Wartawan Utama
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »