| Pemimpin Kurdi Irak, Bafel Talabani, menegaskan kelompoknya tidak ingin terlibat dalam rencana militer AS bersama Zionis Israel terhadap Iran. |
Pemimpin Kurdi Irak, Bafel Talabani, menegaskan kelompoknya tidak ingin terlibat dalam rencana militer AS bersama Zionis Israel terhadap Iran. Menurut dia, Suku Kurdi lebih memilih memainkan peran sebagai jembatan diplomasi untuk mengakhiri peperangan yang sedang berlangsung.
Perang yang dipicu serangan aliansi AS-Israel ke Iran hingga Sabtu (7/3/2026) telah memasuki hari kedelapan. Hingga kini, baik Washington maupun Tel Aviv belum mengerahkan pasukan darat ke wilayah Negeri Para Mullah. Keduanya masih mengandalkan serangan udara melalui peluncuran misil serta rudal.
Di sisi lain, militer Iran terus melakukan perlawanan dengan mengerahkan drone serbu, misil, dan rudal berdaya ledak besar. Serangan balasan tersebut menyasar wilayah Israel, serta pangkalan militer dan aset ekonomi AS di negara-negara Teluk Arab.
Talabani mengakui adanya komunikasi antara dirinya dan Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan pengerahan milisi Kurdi ke wilayah Iran. Namun, ia menegaskan, kelompoknya tidak berminat ikut ambil bagian dalam rencana Washington tersebut.
“Iran mengira pembicaraan itu berjalan baik,” kata Talabani dalam wawancara dengan Fox News, Sabtu (7/3/2026).
Menurut Talabani, persepsi Iran terhadap komunikasi tersebut sempat memicu tindakan pencegahan dari militer Iran, termasuk pengeboman sejumlah titik di wilayah perbatasan Irak yang dihuni kelompok minoritas Kurdi. Ia mengatakan, dari komunikasi antara pihaknya dan pejabat di Teheran, Iran memandang konflik dengan AS-Israel sebagai perang yang menyangkut eksistensi bangsa mereka.
“Bagi mereka, ini bukan perang yang mereka nantikan, tetapi perang yang mereka yakini harus mereka hadapi. Dan bagi mereka, ini adalah soal eksistensi,” ujar Talabani.
Talabani menilai Iran sebenarnya tidak menghendaki peperangan tersebut. Bahkan, sebelumnya Teheran berada pada jalur diplomasi demi menghindari konflik terbuka.
Hal ini menjadi jelas ketika Israel yang didukung AS memulai serangan udara pada akhir Februari 2026 lalu. Trump berulang kali menuntut penggulingan rezim meskipun sudah berhasil membunuh Ayatullah Ali Khamenei. Menurut Talabani, tuntutan Washington dan juga zionis Israel tidak akan mudah terwujud.
“Sampai sekarang, tampaknya itu tidak akan terjadi,” kata dia.
Seruan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar rakyat Iran melakukan pemberontakan juga dinilai tidak mendapat respons luas. Talabani mengatakan, situasi internal Iran masih solid untuk menghadapi tekanan dari Washington-Tel Aviv tersebut.
“Kami juga tidak melihat pemberontakan yang terjadi di manapun di Iran,” ujarnya.
Talabani memperkirakan perang antara aliansi AS-Israel dan Iran boleh jadi berlangsung lama. Ia menilai tujuan militer yang diinginkan kedua negara pro-zionisme tersebut akan sulit dicapai dalam waktu singkat.
Apalagi, lanjut dia, Iran telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik seperti ini selama puluhan tahun. Karena itu, ancaman "menyerah atau mati" yang disampaikan Washington tidak akan memengaruhi sikap rakyat Iran.
“Mereka telah mempersiapkan ini selama 45 tahun. Dan Anda pasti akan mendapatkan perlawanan yang sangat sengit dari mereka,” ujar Talabani.
Terkait upaya AS menggandeng Kurdi Irak untuk ikut dalam operasi darat di Iran, Talabani menyebut gagasan tersebut tidak realistis. Ia khawatir keterlibatan Kurdi justru akan memicu konflik yang lebih luas di kawasan.
“Kurdistan perlu menjadi jembatan, bukan medan peperangan,” tukas dia. (*)
Sumber: Republika.co.id
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »