| Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga Idulfitri 2026. |
Langkah itu diambil di tengah kenaikan harga minyak mentah global imbas konflik di Timur Tengah.
Asal tahu saja, pada Senin (9/3/2026) pukul 12.55 waktu Singapura, harga minyak dunia melonjak melampaui US$100 per barel.
Melansir Bloomberg, harga minyak mentah Brent meroket hingga 23,9% menjadi US$116,1 per barel pada pembukaan perdagangan, sementara West Texas Intermediate naik hingga 25,2% ke level US$116,1 per barel.
Angka itu telah melampaui harga minyak dalam asumsi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026, yakni US$70 per barel.
Bahlil pun mengatakan, hingga saat ini, pihaknya tak akan menaikkan harga BBM di masyarakat. Ini khususnya untuk jenis BBM subsidi seperti Pertalite dan solar.
"Saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga. Karena sampai dengan Hari Raya ini, insyaallah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," ucap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Di samping itu, dia juga memastikan bahwa stok BBM di Tanah Air masih cukup. Artinya, tidak ada isu soal ketahanan minyak.
Kendati demikian, pihaknya bakal tetap mencermati perkembangan harga minyak di tengah konflik.
Pihaknya juga bakal memutar otak agar anggaran negara bisa disalurkan secara efisien.
"Kita juga akan melihat seberapa penting dan langkah apa yang harus kita lakukan dalam rangka melakukan efisiensi. Efisiensi itu adalah penyelamatan terhadap keuangan negara dan juga adalah optimalisasi terhadap seluruh energi yang kita punya," jelas Bahlil.
Ketua Umum Golkar itu juga mengatakan, pemerintah bakal mendorong implementasi biodiesel campur solar 50% atau B50.
Menurutnya, penggunaan energi hijau itu dapat menjadi salah satu alternatif penggunaan BBM.
Selain itu, pemerintah juga akan mempercepat implementasi bahan bakar campuran yang terdiri dari 20% etanol dan 80% bensin (E20).
Adapun, semula implementasi E20 direncanakan dimulai pada 2028.
"Karena kalau harga minyaknya fosil bisa melampaui US$100 per barel, maka itu lebih murah. Kita akan blending untuk diesel itu antara B0 dengan B40 sekarang menjadi B50. Atau kita bikin mandatory untuk bensin dan itu lebih bersih. Jadi ada beberapa langkah-langkah yang akan kita lakukan," tutur Bahlil. (*)
Sumber: Bisnis.com
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »