| Di tengah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, berdiri sebuah masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. |
Bangunan utama masjid ini awalnya didirikan pada tahun 1894 sebagai pembangkit listrik tenaga uap yang menjadi bagian vital dari sistem industri pertambangan batu bara Ombilin. Pada masa itu, Sawahlunto berkembang sebagai salah satu pusat produksi batu bara terbesar di Hindia Belanda, sehingga keberadaan pembangkit listrik menjadi sangat penting untuk menggerakkan berbagai mesin dan fasilitas tambang.
Perubahan besar terjadi setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1952, bangunan bekas pembangkit listrik tersebut dialihfungsikan menjadi masjid. Transformasi ini menjadikan sebuah bangunan industri kolonial berubah menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat Sawahlunto.
Salah satu bagian paling menarik dari kompleks ini adalah menara masjid yang sebenarnya merupakan bekas cerobong asap pembangkit listrik. Cerobong ini dibangun untuk membuang gas hasil pembakaran dari ketel penggerak turbin uap.
Pada tahun 1910, perusahaan konstruksi Belanda N.V. Beton Maatschappij membangun cerobong baru dengan konstruksi beton setinggi sekitar 70 meter dan diameter sekitar 2,5 meter di sebelah selatan gedung pembangkit. Cerobong ini menggantikan cerobong sebelumnya yang memiliki tinggi sekitar 40 meter.
Yang menjadikannya istimewa, cerobong ini tercatat sebagai cerobong beton tertinggi yang pernah dibangun oleh Belanda pada masa itu, bahkan menjadi salah satu konstruksi beton paling monumental dalam proyek industri kolonial. Dalam catatan teknik pertambangan Belanda disebutkan:
“In zijn soort is de schoorsteen van Sawah Loento de grootste van het Rijk.” (Dalam jenisnya, cerobong Sawahlunto adalah yang terbesar di wilayah Kerajaan.)#1
Kini cerobong tersebut telah diubah menjadi menara Masjid Agung Nurul Islam, dengan tambahan kubah setinggi sekitar 10 meter di bagian puncaknya.
Bangunan utama masjid memiliki ukuran sekitar 60 × 60 meter, dengan satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah lebih kecil. Meski kini tampil sebagai arsitektur masjid yang megah, struktur dasarnya tetap mempertahankan karakter bangunan industri abad ke-19.
Menariknya lagi, di bawah bangunan masjid terdapat ruang perlindungan atau bunker yang pada masa kolonial pernah digunakan sebagai tempat perakitan senjata, granat tangan, dan mortir. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan industri Sawahlunto tidak hanya berperan dalam kegiatan ekonomi, tetapi juga memiliki fungsi strategis pada masa itu.
Semua jejak sejarah itu masih dapat ditelusuri hingga hari ini. Dari bekas pembangkit listrik, cerobong beton raksasa yang kini menjadi menara masjid, hingga ruang-ruang tersembunyi di bawah bangunan—setiap sudutnya menyimpan cerita panjang tentang masa lalu Sawahlunto.
Penasaran seperti apa bentuk cerobong beton raksasa yang kini menjadi menara masjid itu ? Atau ingin melihat langsung bangunan bekas pembangkit listrik yang berubah menjadi tempat ibadah ?
Jika suatu saat Anda berkunjung ke Sawahlunto, sempatkanlah singgah di Masjid Agung Nurul Islam, sebuah tempat di mana sejarah kolonialisme, peralihan teknologi, dan kehidupan religius bertemu dalam satu bangunan yang sarat sejarah.
catatan:
#1: Ir. R. J. van Lier, Onze Koloniale Mijnbouw.
penulis: Marjafri, pendiri dan ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto "Art, Social Culture and Tourism".
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »