“Jual Beli Sepi, Fasilitas Tak Memadai, Pedagang Pasar Silo Sawahlunto Bertekad Kembali ke Lokasi Lama”

“Jual Beli Sepi, Fasilitas Tak Memadai, Pedagang Pasar Silo Sawahlunto Bertekad Kembali ke Lokasi Lama”
Para pedagang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Pasar Silo, Sawahlunto, kian menghadapi tekanan ekonomi setelah delapan bulan direlokasi ke lokasi baru. 

BENTENGSUMBAR.COM
- Para pedagang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Pasar Silo, Sawahlunto, kian menghadapi tekanan ekonomi setelah delapan bulan direlokasi ke lokasi baru. 

Dalam kondisi jual beli yang terus menurun dan fasilitas yang dinilai belum memadai, mereka menyatakan tekad untuk kembali berdagang di lokasi lama, termasuk di sekitar kawasan Lapangan Segitiga.

Kondisi tersebut terungkap dari perbincangan awak media dengan sejumlah pedagang di lokasi relokasi. Harapan akan peningkatan usaha pascarelokasi justru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Aktivitas jual beli disebut merosot tajam, jauh di bawah kondisi saat mereka masih berjualan di lokasi sebelumnya.

“Jangankan berkembang, untuk bertahan saja sulit. Tabungan yang dulu kami kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil berdagang sudah habis. Untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak, kami terpaksa berutang,” ujar salah seorang pedagang.

Keluhan serupa disampaikan Ane (35). Ia mengungkapkan omzet usahanya menurun drastis sejak direlokasi, seiring sepinya pembeli yang membuat perputaran ekonomi nyaris terhenti.

Selain penurunan transaksi, para pedagang juga menyoroti kondisi fasilitas di lokasi baru. Lantai yang masih berupa tanah menyebabkan genangan saat hujan. Penerangan yang terbatas membuat sebagian area gelap pada malam hari. Fasilitas dasar seperti tempat ibadah pun belum tersedia secara memadai bagi pedagang maupun pengunjung.

Para pedagang menyebut, sejumlah janji penataan fasilitas agar lokasi relokasi menjadi lebih layak hingga kini belum terealisasi. Kondisi tersebut dinilai semakin mempersempit ruang mereka untuk bertahan secara ekonomi.

“Sudah delapan bulan seperti ini. Kami tidak bisa terus begini,” kata seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.

Dalam situasi tersebut, para pedagang menegaskan akan kembali berdagang di kawasan lama, khususnya di pinggir trotoar jalan di sekitar Lapangan Segitiga. Langkah itu, menurut mereka, bukan bentuk penolakan terhadap penataan, melainkan upaya mempertahankan keberlangsungan hidup.

“Kami tidak mengusik taman. Kami hanya berdagang di pinggir trotoar,” ujar seorang pedagang, merujuk pada area yang saat ini juga sudah dibongkar sekaitan proyek Pekerjaan Revitalisasi Gedung Pusat Kebudayaam Ombilin Sawahlunto.

Situasi ini mencerminkan dilema yang dihadapi para pelaku UMKM: antara mengikuti kebijakan relokasi atau menjaga keberlangsungan nafkah keluarga. Di tengah keterbatasan fasilitas, belum terealisasinya penataan, serta menurunnya daya beli, para pedagang kini menunggu tidak hanya langkah konkret dari pemerintah daerah, tetapi juga kepedulian dari PT Bukit Asam (PTBA), mengingat kawasan relokasi berada di bawah kuasa penggunaan lahan perusahaan tersebut dalam skema pinjam pakai dengan Pemerintah Kota Sawahlunto.

Para pedagang menegaskan, mereka tidak terlibat dalam kepentingan apa pun dan tidak memahami kesepakatan antara PTBA dan pemerintah daerah terkait izin pinjam pakai lahan. Bagi mereka, yang dibutuhkan adalah ruang hidup, tempat untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.

“Kalau pinjam pakai lahan belum bisa, kami mohon kiranya pimpinan PTBA berkenan membantu melalui CSR untuk menata tempat ini agar lebih layak, sehingga kami tetap bisa berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” harap Dewi, Bendahara Asosiasi Pedagang Silo Sawahlunto (Apesisto) yang menaungi puluhan pedagang di lokasi tersebut. (*)

Pewarta: Marjafri

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »