Jelang Penetapan 18 Situs Warisan Geologi “The Windows of Ombilin Basin”, Pemko Sawahlunto Gelar FGD

Jelang Penetapan 18 Situs Warisan Geologi “The Windows of Ombilin Basin”, Pemko Sawahlunto Gelar FGD
Sawahlunto terus mempersiapkan penguatan Geopark Sawahlunto melalui sosialisasi warisan geologi kepada pemerintah daerah, masyarakat, dan kalangan akademisi.  (Foto/Marjafri). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Sawahlunto terus mempersiapkan penguatan Geopark Sawahlunto melalui sosialisasi warisan geologi kepada pemerintah daerah, masyarakat, dan kalangan akademisi. 

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai kekayaan geologi yang tersimpan di kawasan Cekungan Ombilin sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan memanfaatkan potensi tersebut secara berkelanjutan.

Keragaman geologi Kota Sawahlunto yang dirangkum dalam konsep geopark “The Windows of Ombilin Basin” atau “Jendela Cekungan Ombilin” menggambarkan kawasan ini sebagai jendela yang membuka rekaman sejarah geologi masa lampau. 

Melalui berbagai jenis batuan, fosil, dan struktur geologi, masyarakat dapat menelusuri proses pembentukan bumi yang berlangsung selama ratusan juta tahun di wilayah tersebut.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah meneliti 18 lokasi geologi di Sawahlunto yang direncanakan untuk ditetapkan sebagai situs warisan geologi (geoheritage). 

Penetapan tersebut diharapkan dapat memperkaya nilai ilmiah dan edukatif Geopark Sawahlunto sekaligus memperkuat daya tarik kawasan ini sebagai destinasi geowisata dan pusat pembelajaran kebumian.

Sebagai bagian dari persiapan, Pemerintah Kota Sawahlunto menggelar sosialisasi awal yang dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) pada Rabu, 13 Mei 2026. 

Kegiatan ini dihadiri seluruh camat se-Kota Sawahlunto, kepala desa dan lurah di lokasi geosite, kepala organisasi perangkat daerah terkait, penggiat Geopark Sawahlunto, serta mahasiswa Teknik Geologi Universitas Islam Riau.

Diskusi dipandu Asisten I Sekretariat Daerah Kota Sawahlunto, Drs. H. Irzam K., M.M., dengan menghadirkan pemateri Ketua Umum Badan Pengelola Geopark Sawahlunto, Drs. Rovanly Abdams, M.Si.; Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Sawahlunto, Efdi, S.P.; serta Ketua Program Studi Teknik Geologi Universitas Islam Riau, Ir. Budi Prayitno, S.T., M.T.

Ketua Umum Badan Pengelola Geopark Sawahlunto, Drs. Rovanly Abdams, M.Si., menjelaskan bahwa geopark mencakup tiga unsur utama, yaitu warisan geologi (geoheritage), warisan hayati (bioheritage), dan warisan budaya (cultural heritage).

Menurutnya, seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan alam tersebut agar dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat.

Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Sawahlunto, Efdi, S.P., menyampaikan bahwa saat ini Geopark Sawahlunto telah memiliki empat geosite bernilai internasional, yaitu fosil foraminifera dari zaman Permian (259,51–251,902 juta tahun lalu), fosil ikan air tawar dari zaman Paleosen Tengah hingga Eosen (61,66–33,9 juta tahun lalu), fosil jejak burung dari zaman Oligosen (33,9–23,04 juta tahun lalu), serta batubara antrasit dari zaman Oligosen (33,9–23,04 juta tahun lalu).

Selain itu, terdapat dua geosite bernilai nasional, yakni fosil kerang dan siput dari zaman Trias (251,902–201,4 juta tahun lalu), serta ketidakselarasan sedimentasi antara batuan berumur Oligosen–Miosen (33,9–15,98 juta tahun lalu) yang berada langsung di atas batuan berumur Trias (251,902–201,4 juta tahun lalu).

Ketua Program Studi Teknik Geologi Universitas Islam Riau, Ir. Budi Prayitno, S.T., M.T., menegaskan bahwa kondisi geologi Sawahlunto memiliki nilai global yang sangat menarik bagi perguruan tinggi yang mengembangkan ilmu kebumian dan pertambangan. 

Ia menyatakan pihaknya akan terus membawa mahasiswa untuk melaksanakan praktik lapangan dan penelitian selama masyarakat Sawahlunto tetap menjaga warisan geologi dan terbuka terhadap kunjungan edukatif.

Sementara itu, Asisten I Sekretariat Daerah Kota Sawahlunto sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga, Drs. H. Irzam K., M.M., menyebut Geopark Sawahlunto telah menjadi laboratorium lapangan bagi sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Negeri Padang, Universitas Islam Riau, Universitas Jambi, serta Universiti Teknologi PETRONAS, Malaysia.

Dalam sesi diskusi, Kepala Desa Rantih mempertanyakan langkah untuk meningkatkan status geosite dari tingkat lokal menjadi bernilai internasional.

Menanggapi hal tersebut, Ir. Budi Prayitno menjelaskan bahwa peningkatan nilai geosite dapat dilakukan melalui penelitian yang intensif dan publikasi hasil kajian pada jurnal ilmiah internasional.

Melalui sosialisasi ini, Pemerintah Kota Sawahlunto berharap seluruh unsur masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga warisan geologi sebagai aset ilmiah, edukatif, dan ekonomi, sekaligus memperkuat posisi Geopark Sawahlunto sebagai kawasan yang memiliki nilai penting di tingkat nasional maupun global. (*) 

Pewarta: Efdi/marjafri

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA TERBARU
Anda sedang membaca berita terbaru
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »