Dari Petani hingga Kedai Kopi, Kombes Agustinus Christmas Ceritakan Pengembangan Ekosistem Kopi NTT

Dari Petani hingga Kedai Kopi, Kombes Agustinus Christmas Ceritakan Pengembangan Ekosistem Kopi NTT
Di balik julukan “Jenderal Kopi” yang kini melekat pada sosok Kombes Pol Agustinus Christmas, tersimpan kisah yang tidak banyak diketahui publik. (Foto: ist). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Di balik julukan “Jenderal Kopi” yang kini melekat pada sosok Kombes Pol Agustinus Christmas, tersimpan kisah yang tidak banyak diketahui publik. Perwira Polri yang dikenal aktif mendorong pengembangan kopi lokal dan pemberdayaan UMKM di Nusa Tenggara Timur (NTT) itu ternyata bukanlah penikmat kopi sejak awal.

Dalam berbagai kesempatan, Agustinus kerap menceritakan kembali perjalanan yang membawanya terlibat dalam pengembangan ekosistem kopi NTT. 

Baginya, dunia kopi bukan sekadar bisnis atau hobi, melainkan sarana untuk membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

“Sebenarnya saya bukan penikmat kopi. Saya bahkan tidak suka minum kopi. Namun ada pengalaman yang mengubah semuanya,” ujar Agustinus mengenang awal perjalanannya.

Ia menceritakan bahwa pada tahun 2018 saat mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) di Kalimantan Timur, dirinya berupaya menurunkan berat badan melalui program diet dan olahraga. Saat itu seorang rekan menyarankan agar dirinya mengonsumsi kopi tanpa gula untuk membantu menahan lapar.

“Tahun 2018 di Kalimantan Timur saya disarankan minum kopi agar tahan lapar. Saya mencoba mengikuti saran tersebut dan ternyata berhasil membantu program diet saya,” kenangnya.

Namun perjalanan itu tidak berjalan mulus. Setelah rutin mengonsumsi kopi tanpa gula, hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan kadar gula darahnya berada di bawah normal. Dokter kemudian menyarankan agar ia menambahkan sedikit gula dalam kopi yang dikonsumsinya.

“Dari situ saya mulai mengenal kopi lebih dekat. Awalnya karena kebutuhan saat diet, lama-kelamaan saya mulai memahami dan menikmati kopi,” katanya.

Perkenalan sederhana dengan kopi itu ternyata menjadi titik awal perjalanan panjang yang kemudian mengubah hidupnya.

Setelah bertugas di NTT, Agustinus melihat potensi kopi daerah yang sangat besar, namun belum mendapatkan perhatian dan pengelolaan yang maksimal.

Menurutnya, hampir seluruh wilayah NTT memiliki kopi dengan karakteristik dan cita rasa yang unik. Sayangnya, banyak potensi tersebut belum mampu memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi masyarakat.

“Saya melihat NTT memiliki kopi yang kualitasnya tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Potensinya luar biasa, tetapi saat itu saya merasa masih banyak yang perlu didorong agar kopi lokal memiliki nilai tambah yang lebih besar,” ujarnya.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Agustinus mulai aktif bergabung dengan komunitas pecinta kopi di NTT. Melalui berbagai diskusi dan kegiatan komunitas, ia belajar mengenai proses budidaya, pengolahan, pemasaran, hingga strategi pengembangan usaha kopi.

Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan promosi kopi lokal dan mendukung lahirnya usaha-usaha berbasis kopi yang dijalankan masyarakat.

“Dalam komunitas kopi saya banyak belajar. Saya belajar bagaimana meracik kopi, memahami kualitas kopi, hingga melihat bagaimana kopi bisa menjadi peluang usaha bagi masyarakat,” katanya.

Dari pengalaman tersebut, Agustinus mulai melihat bahwa kopi memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar komoditas pertanian. Kopi mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila dikelola secara baik dari hulu hingga hilir.

Karena itulah, di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, ia aktif mendorong pengembangan UMKM berbasis kopi. 

Tidak sedikit pelaku usaha yang mendapatkan pendampingan, motivasi, maupun berbagai masukan darinya untuk mengembangkan bisnis mereka.

Saat pandemi Covid-19 melanda, banyak usaha kecil termasuk kedai kopi mengalami penurunan bahkan terpaksa menutup usaha. Agustinus mengaku ikut prihatin melihat kondisi tersebut.

Ia kemudian aktif berbagi pengalaman, strategi pemasaran, dan berbagai cara bertahan kepada para pelaku UMKM agar usaha mereka dapat kembali bangkit.

“Yang saya sampaikan kepada teman-teman pelaku usaha sederhana saja, jangan menyerah. Setiap krisis pasti ada jalan keluarnya. Yang penting terus berinovasi dan mencari peluang baru,” ujarnya.

Seiring waktu, semakin banyak kedai kopi lokal yang kembali tumbuh dan berkembang. Muncul pula generasi muda yang mulai melihat kopi sebagai peluang usaha yang menjanjikan.

Menurut Agustinus, salah satu hal yang paling membahagiakan baginya adalah ketika melihat anak-anak muda NTT mulai percaya diri membangun usaha sendiri.

Karena itu, ia juga aktif berbagi pengalaman kepada mahasiswa melalui berbagai kegiatan edukasi, termasuk program Rako Coffee Goes to Campus. 

Dalam kegiatan tersebut, ia mengajak mahasiswa untuk melihat kopi sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja.

“Saya selalu menyampaikan kepada mahasiswa bahwa di balik secangkir kopi ada petani, ada proses produksi, ada pemasaran, ada peluang usaha dan ada lapangan kerja yang bisa diciptakan. Karena itu saya ingin anak-anak muda tidak takut menjadi pengusaha,” katanya.

Hal lain yang membuat Agustinus dikenal luas adalah kesediaannya turun langsung menjadi barista dalam berbagai kegiatan promosi kopi. 

Baginya, langkah tersebut merupakan bentuk keteladanan bahwa tidak ada pekerjaan yang perlu dipandang rendah.

“Saya ingin menunjukkan bahwa menjadi barista, berjualan kopi, atau membuka usaha kecil adalah sesuatu yang membanggakan. Jangan pernah malu memulai dari bawah,” ujarnya.

Tanpa disadarinya, aktivitas yang dilakukan selama bertahun-tahun ternyata mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTT. 

Kiprahnya dalam mendampingi petani, mengembangkan UMKM, mempromosikan kopi lokal, dan membangun ekosistem kopi di daerah akhirnya mengantarkannya menerima penghargaan Kadin Awards 2024.

Dalam kesempatan tersebut, Agustinus dianugerahi julukan “Jenderal Kopi”, sebuah sebutan yang menurutnya sangat mengejutkan.

“Saya justru kaget ketika diberikan julukan itu. Setelah dijelaskan, ternyata selama ini aktivitas saya di komunitas kopi dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat terus dipantau. Tentu saya bersyukur, tetapi bagi saya yang lebih penting adalah manfaat yang bisa dirasakan masyarakat,” tuturnya.

Bagi Agustinus, penghargaan tersebut bukanlah akhir perjalanan. Ia masih memiliki harapan besar agar kopi NTT semakin menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

“Saya berharap hotel, restoran, dan berbagai industri di NTT semakin banyak menggunakan kopi lokal. Jangan sampai kita memiliki kopi yang melimpah tetapi lebih memilih produk dari luar. Jika kita mencintai kopi daerah sendiri, maka nilai ekonominya akan kembali kepada masyarakat kita juga,” katanya.

Kini, perjalanan yang berawal dari secangkir kopi saat menjalani program diet telah menjelma menjadi gerakan pemberdayaan yang menyentuh petani, pelaku UMKM, mahasiswa, hingga generasi muda di berbagai daerah di NTT.

Melalui kiprahnya tersebut, Kombes Agustinus Christmas menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya dilakukan melalui tugas kepolisian, tetapi juga melalui upaya nyata mendorong ekonomi kerakyatan agar tumbuh dan berkembang. (*)

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »