Dari Tiga Hari Menjadi Satu Hari, Inovasi Perajin Songket Silungkang Memukau Sejarawan Amerika

Dari Tiga Hari Menjadi Satu Hari, Inovasi Perajin Songket Silungkang Memukau Sejarawan Amerika
Wenrui Zhao bersama rekannya Meidi Hanum Sari mengunjungi workshop Tenun Amvibi di Dusun Stasiun, Desa Silungkang Tigo, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto. (Foto: Marjafri). 

BENTENGSUMBAR.COM
– Kunjungan sejarawan sains dan kedokteran dari Departemen Sejarah University of Utah, Amerika Serikat, Wenrui Zhao, PhD, ke Silungkang tidak hanya membawanya menelusuri jejak tambang emas kolonial, tetapi juga memperkenalkannya pada inovasi yang tengah berkembang di sentra tenun Songket Silungkang.

Usai melakukan penelusuran sejarah pertambangan, Wenrui Zhao bersama rekannya Meidi Hanum Sari mengunjungi workshop Tenun Amvibi di Dusun Stasiun, Desa Silungkang Tigo, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto. 

Kunjungan tersebut didampingi Kepala Dusun Stasiun Ferinov dan disambut langsung oleh perajin songket Yufrizal, yang akrab disapa Atuk.

Di lokasi itu, Wenrui Zhao menyaksikan langsung proses pembuatan Songket Silungkang sekaligus inovasi yang dikembangkan para perajin untuk meningkatkan produktivitas tanpa meninggalkan teknik tenun tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Yufrizal menjelaskan, sebelumnya proses pembuatan satu helai kain menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Melalui modifikasi alat menjadi sistem semi mesin, kapasitas produksi kini meningkat hingga tiga helai kain dalam satu hari.

Meski demikian, proses utama penenunan tetap mempertahankan teknik tradisional. Benang lusi masih disusun secara manual untuk menjaga kualitas, kerapatan tenun, serta karakter motif khas Songket Silungkang, sementara sebagian mekanisme kerja alat dibantu sistem semi mesin untuk mempercepat proses produksi.

"Inovasi ini kami lakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi tetap mempertahankan kualitas dan ciri khas Songket Silungkang," ujar Yufrizal.

Menurutnya, peningkatan produktivitas tersebut memberi peluang bagi para perajin untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang, baik untuk kebutuhan adat, cendera mata, maupun pesanan dalam jumlah besar.

Kepala Dusun Stasiun, Ferinov, mengatakan inovasi yang dilakukan para perajin menjadi salah satu upaya menjaga keberlanjutan industri tenun di Silungkang. 

Selain meningkatkan efisiensi produksi, penggunaan teknologi sederhana tersebut diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk ikut melestarikan tradisi menenun.

Kunjungan Wenrui Zhao ke workshop Tenun Amvibi menjadi bagian dari rangkaian penelusuran sejarah dan budaya di Silungkang. 

Selain menyaksikan proses penenunan, akademisi asal Amerika Serikat itu juga melihat secara langsung bagaimana para perajin memadukan kearifan lokal dengan inovasi teknologi untuk mempertahankan daya saing produk tenun khas Silungkang.

Bagi masyarakat Dusun Stasiun, inovasi tersebut menjadi langkah adaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas budaya yang telah diwariskan selama bergenerasi. 

Di tengah modernisasi, Songket Silungkang tetap dipertahankan sebagai karya tenun yang mengedepankan ketelitian, nilai seni, dan tradisi, sembari terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang semakin dinamis. (*) 

Pewarta: Marjafri

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »