| Wenrui Zhao, PhD, sejarawan sains dan kedokteran dari Departemen Sejarah University of Utah, Amerika Serikat, melakukan penelusuran ke kawasan bekas tambang emas di Silungkang, Minggu (7/6/2026). (Foto: Marjafri). |
Namun, di balik kejayaan warisan budaya tersebut, tersimpan lembar sejarah lain yang nyaris terlupakan: Silungkang pernah menjadi sasaran eksplorasi emas oleh perusahaan tambang asal Amsterdam, Belanda.
Fakta sejarah itu kembali mengemuka ketika Wenrui Zhao, PhD, sejarawan sains dan kedokteran dari Departemen Sejarah University of Utah, Amerika Serikat, melakukan penelusuran ke kawasan bekas tambang emas di Silungkang, Minggu (7/6/2026).
Kunjungan tersebut berawal dari riset yang dilakukannya di kawasan tambang emas kolonial Salido, Kabupaten Pesisir Selatan.
Setelah memperoleh informasi dari awak media Bentengsumbar.com mengenai keberadaan bekas tambang emas peninggalan kolonial di Silungkang beserta arsip-arsip sejarah yang berkaitan dengannya, Wenrui Zhao bersama rekannya Meidi Hanum Sari melanjutkan perjalanan menuju Kota Sawahlunto.
Didampingi awak media Bentengsumbar.com, rombongan menelusuri sejumlah titik yang diyakini menjadi lokasi aktivitas penambangan emas pada masa lampau.
Di beberapa lokasi masih terlihat bekas-bekas galian yang oleh masyarakat setempat diyakini merupakan bagian dari aktivitas penambangan tradisional yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Penelusuran lapangan itu sekaligus menghidupkan kembali catatan sejarah yang selama puluhan tahun nyaris tenggelam. Pada awal abad ke-20, sekelompok investor di Amsterdam mendirikan perusahaan N.V. Mijnbouw-Maatschappij Siloengkang untuk melakukan penyelidikan geologi dan eksplorasi emas di kawasan Silungkang.
Berdasarkan dokumen perusahaan dan arsip kolonial yang menjadi bagian dari kajian sejarah, penyelidikan tersebut memperkirakan kawasan Silungkang memiliki sekitar dua juta meter kubik endapan pasir emas.
Temuan itu menjadi dasar pengajuan hak pertambangan kepada Pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian menerbitkan izin pertambangan bagi perusahaan tersebut pada tahun 1908.
Harapan besar investor Belanda untuk mengembangkan pertambangan emas di pedalaman Minangkabau itu ternyata tidak berlangsung lama. Berdasarkan keputusan Pemerintah Hindia Belanda tertanggal 18 Agustus 1936, izin pertambangan Mijnbouw-Maatschappij Siloengkang dibatalkan sehingga rencana eksploitasi emas berskala industri di kawasan tersebut tidak pernah terealisasi sebagaimana direncanakan.
Di sela penelusuran, Wenrui Zhao mengaku terkejut mengetahui bahwa Sawahlunto dan Silungkang tidak hanya memiliki sejarah panjang pertambangan batubara, tetapi juga menyimpan jejak eksplorasi emas yang pernah menarik perhatian perusahaan-perusahaan tambang Eropa.
"Luar biasa. Perut bumi Sawahlunto ternyata menyimpan kekayaan yang sangat berharga, mulai dari batubara hingga emas," ujarnya.
Menurutnya, sejarah pertambangan emas Silungkang merupakan bagian dari sejarah ekonomi kolonial di Sumatera Barat yang masih menyimpan banyak ruang untuk diteliti melalui arsip maupun penelusuran lapangan.
Lebih dari satu abad telah berlalu sejak investor dari Amsterdam menaruh harapan besar pada kandungan emas di Silungkang.
Kini, perusahaan itu hanya tersisa dalam lembaran arsip kolonial dan catatan sejarah, sementara jejak aktivitasnya perlahan tertutup oleh waktu.
Ironisnya, masyarakat luas lebih mengenal Silungkang melalui keindahan songket yang diwariskan turun-temurun, sementara sejarah tentang emas yang pernah menarik perhatian investor Eropa hampir tidak pernah lagi diperbincangkan.
Kunjungan riset Wenrui Zhao menjadi pengingat bahwa di balik motif-motif indah Songket Silungkang, tersimpan sejarah panjang eksplorasi emas yang pernah menghubungkan sebuah nagari di pedalaman Minangkabau dengan para investor di Amsterdam.
Sejarah yang lama terpendam itu kini perlahan kembali muncul, membuka ruang bagi penelitian dan penelusuran lebih lanjut terhadap salah satu bab penting sejarah pertambangan di Sumatera Barat. (*)
Pewarta: Marjafri
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »