| Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkap bahwa dirinya sempat mempertimbangkan pengiriman pasukan khusus ke Iran untuk mengamankan cadangan uranium yang telah diperkaya. (Foto: Int). |
Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan karena dinilai terlalu berisiko dan berpotensi menyeret Amerika Serikat ke dalam operasi militer darat yang panjang di wilayah perang.
Trump bahkan secara terbuka mengaitkan keputusan tersebut dengan pengalaman pahit Presiden AS ke-39, Jimmy Carter, yang dikenal mengalami kegagalan dalam operasi penyelamatan sandera Amerika di Iran pada 1980.
"Saya tidak ingin menjadi Jimmy Carter," kata Trump, dikutip dari Fox News, Jumat (5/6).
Menurut Trump, operasi pengambilan uranium tidak bisa dilakukan secara cepat. Pasukan Amerika harus berada di wilayah Iran selama sekitar dua pekan sambil membawa peralatan berat dan membangun dukungan logistik yang memadai.
Situasi itu dinilai membuka peluang besar terjadinya korban jiwa maupun kegagalan misi yang dapat berdampak politik terhadap pemerintahannya.
Trump mengakui bahwa ide pengerahan pasukan khusus sempat dibahas secara serius pada tahap awal konflik. Namun setelah dilakukan kajian mendalam, opsi tersebut dianggap terlalu berbahaya.
Sebelumnya, sejumlah laporan media Amerika memang mengungkap bahwa Washington dan Israel pernah membahas kemungkinan penggunaan pasukan khusus untuk mengamankan stok uranium Iran yang dinilai cukup untuk mempercepat program nuklir negara tersebut.
Operasi itu diperkirakan membutuhkan kehadiran personel militer langsung di wilayah Iran dan menghadapi ancaman serangan dari pasukan setempat.
Trump mengatakan keputusan membatalkan operasi tersebut diambil karena dirinya tidak ingin menempatkan tentara Amerika dalam situasi yang sulit keluar dari zona perang.
Meski menolak opsi pengerahan pasukan khusus, Trump tetap menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk mengakses atau mengendalikan uranium Iran apabila diperlukan.
Namun untuk saat ini Washington lebih memilih memantau perkembangan melalui jalur diplomasi dan tekanan politik.
Pengakuan Trump tersebut menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai perdebatan internal di Gedung Putih terkait langkah yang akan ditempuh untuk menghadapi Iran, sekaligus menunjukkan bahwa risiko operasi darat masih menjadi pertimbangan utama pemerintah Amerika Serikat. (*)
Sumber: Warta Ekonomi
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »