Jelang Peringatan 1 Abad Perlawanan Silungkang, Panitia Survei Jalur Napak Tilas Peristiwa Malam Tahun Baru 1927

Jelang Peringatan 1 Abad Perlawanan Silungkang, Panitia Survei Jalur Napak Tilas Peristiwa Malam Tahun Baru 1927
Survei dilakukan dengan berjalan kaki melintasi Terowongan Lubang Kalam sepanjang sekitar 828 meter. (Foto: Marjafri). 

BENTENGSUMBAR.COM
— Menjelang peringatan satu abad Perlawanan Silungkang 1927, panitia melakukan survei jalur yang akan digunakan dalam kegiatan napak tilas sejarah dengan menyusuri kembali salah satu rute yang berkaitan dengan peristiwa malam pergantian tahun 1926 menuju 1927.

Survei dilakukan dengan berjalan kaki melintasi Terowongan Lubang Kalam sepanjang sekitar 828 meter, kemudian dilanjutkan menyusuri jalur rel kereta api sekitar satu kilometer hingga berakhir di kawasan pusat Kota Sawahlunto.

Terowongan Lubang Kalam merupakan bagian dari jaringan perkeretaapian peninggalan kolonial yang menghubungkan kawasan Sawahlunto dan Muaro Kalaban. 

Dokumen nominasi Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto mencatat panjang terowongan tersebut mencapai 828 meter.

Survei jalur ini diikuti Wakil Ketua Bidang Acara Peringatan 100 Tahun Perlawanan Silungkang selaku pemimpin rombongan, Kepala Desa Silungkang Oso Ferdinal, serta sejumlah panitia peringatan.

Dari kawasan terowongan, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri jalur rel sekitar satu kilometer hingga mencapai kawasan Societeit Glück Auf yang kini menjadi Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.

Gedung tersebut dibangun pada 1910 dengan nama Societeit Glück Auf. 

Pada masa kolonial, bangunan itu digunakan sebagai tempat pertemuan dan hiburan bagi pejabat pemerintah kolonial yang bekerja di kawasan pertambangan Ombilin. 

Setelah direvitalisasi, bangunan tersebut difungsikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.

Bagi panitia, titik akhir perjalanan memiliki makna khusus. Di kawasan tersebut nantinya akan digelar renungan suci untuk mengenang tiga pejuang yang menurut catatan sejarah dimakamkan di lokasi tersebut setelah menjalani hukuman mati oleh pemerintah kolonial Belanda.

Rangkaian napak tilas dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan menyusuri jalur bersejarah, tetapi juga sebagai bagian dari persiapan peringatan satu abad perlawanan rakyat Silungkang terhadap kekuasaan kolonial Belanda.

Perjalanan tersebut sekaligus dimaksudkan untuk menghadirkan kembali jejak ruang yang berkaitan dengan peristiwa 1927, ketika jalur transportasi, kawasan pertambangan dan berbagai fasilitas perkotaan Sawahlunto menjadi bagian dari struktur kekuasaan kolonial.

Bukan Sekadar Menyusuri Jalur

Wakil Ketua Bidang Acara Peringatan 100 Tahun Perlawanan Silungkang yang memimpin survei mengatakan, kegiatan napak tilas dirancang agar peserta tidak hanya mengenal peristiwa melalui buku dan dokumentasi, tetapi juga melihat secara langsung kondisi medan yang menjadi bagian dari sejarah perlawanan.

“Kami ingin peserta tidak hanya membaca sejarah dari halaman buku. Mereka akan berjalan melewati jalur yang memiliki hubungan dengan peristiwa 1927. Dengan melintasi terowongan dan menyusuri jalur rel, peserta diharapkan dapat merasakan suasana perjalanan sekaligus melakukan refleksi terhadap sejarah yang pernah berlangsung di kawasan ini,” katanya.

Menurut dia, survei dilakukan untuk memastikan jalur yang akan digunakan dalam kegiatan nantinya dapat dipersiapkan secara baik, terutama dari sisi rute, kondisi medan, keselamatan peserta dan titik pelaksanaan renungan.

“Peringatan satu abad bukan sekadar seremoni. Ini momentum untuk kembali melihat sejarah secara lebih dekat, menghormati para pejuang, dan memperkenalkan jejak perlawanan kepada generasi sekarang. Karena itu, seluruh jalur harus dipersiapkan dengan baik,” ujarnya.

Ia mengatakan, penggunaan obor dalam kegiatan napak tilas nantinya juga memiliki makna simbolis.

“Obor bukan sekadar penerangan. Bagi kami, ini menjadi simbol bahwa ingatan terhadap perjuangan tidak boleh padam. Setelah hampir satu abad, generasi hari ini perlu kembali mengenali jejak perjuangan dan memahami sejarah yang pernah berlangsung di tanah ini,” katanya.

Berakhir dengan Renungan Suci

Setelah melewati Terowongan Lubang Kalam dan menyusuri jalur rel, peserta nantinya diarahkan menuju kawasan Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.

Di titik akhir perjalanan tersebut, panitia menyiapkan renungan suci sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang menjadi bagian dari sejarah Perlawanan Silungkang.

Renungan tersebut dirancang menjadi bagian paling khidmat dari rangkaian napak tilas.

Perjalanan yang dimulai dari lorong terowongan dan dilanjutkan melalui jalur rel akan berakhir di sebuah bangunan yang pada masa kolonial menjadi tempat berkumpulnya pejabat pemerintah dan lingkungan pertambangan Belanda.

Kontras ruang tersebut menjadi bagian dari konteks sejarah yang hendak dihadirkan melalui kegiatan napak tilas: sebuah perjalanan yang menghubungkan kawasan pertambangan, jaringan transportasi, pusat kekuasaan kolonial dan jejak perlawanan masyarakat.

Gedung Societeit Glück Auf sendiri merupakan salah satu bangunan penting dalam kawasan warisan pertambangan Ombilin Sawahlunto.

“Di tempat terakhir inilah kita akan berhenti, menundukkan kepala dan mengenang mereka yang telah kehilangan hidupnya dalam pergolakan itu. Bagi kami, penghormatan kepada para pejuang merupakan bagian terpenting dari peringatan satu abad ini,” ujar Wakil Ketua Bidang Acara tersebut.

Ia menambahkan, peringatan satu abad juga harus menjadi momentum untuk membaca kembali sejarah secara utuh dan kritis.

“Kami ingin peringatan ini menjadi momentum untuk membuka kembali sejarah melalui sumber-sumber yang ada, melihat konteks zamannya, dan tidak sekadar mengulang label atau kesimpulan yang diwariskan. Yang terpenting adalah menghormati fakta, menghormati para pejuang, dan memastikan generasi berikutnya mengetahui bahwa pernah ada perlawanan terhadap kekuasaan kolonial di tanah ini,” katanya.

Survei jalur tersebut menjadi salah satu tahapan persiapan panitia sebelum pelaksanaan rangkaian kegiatan peringatan satu abad Perlawanan Silungkang 1927.

Bagi panitia, napak tilas bukan sekadar perjalanan dari satu titik ke titik lain. Kegiatan tersebut dirancang sebagai upaya menghubungkan kembali ruang, jejak dan ingatan sejarah yang telah berlangsung hampir satu abad.

Kehadiran Kepala Desa Silungkang Oso Ferdinal bersama sejumlah panitia dalam survei tersebut juga menjadi bagian dari persiapan untuk memastikan kegiatan napak tilas dapat dilaksanakan dengan baik sekaligus memberikan pengalaman sejarah yang bermakna bagi para peserta. (*)

Pewarta: Marjafri

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »