Hadapi Stroke hingga Pasang Ring Jantung, JKN Jadi Penopang Kesembuhan Keluarga Ernis

Hadapi Stroke hingga Pasang Ring Jantung, JKN Jadi Penopang Kesembuhan Keluarga Ernis
Tubuh Ernis mendadak kaku. Sisi kanannya sulit digerakkan, sementara kemampuan bicaranya mulai terganggu. (Foto: Hermiko). 

BENTENGSUMBAR.COM
- Tubuh Ernis mendadak kaku. Sisi kanannya sulit digerakkan, sementara kemampuan bicaranya mulai terganggu. Di tengah kepanikan menghadapi serangan stroke, satu hal lain ikut menghantui pikirannya, yaitu bagaimana membayar biaya pengobatan. Beruntung, kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) miliknya masih aktif sehingga Ernis dapat menjalani perawatan tanpa dibebani kekhawatiran biaya.

Kepastian itu diperoleh Ernis, warga Kabupaten Tanah Datar, setelah petugas rumah sakit memastikan status kepesertaannya sebagai Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK) masih aktif. Ia pun merasa tenang menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. M. Ali Hanafiah.

“Awalnya sempat merasa khawatir biaya pengobatannya. Tetapi setelah diberitahu petugas status kepesertaan JKN saya masih aktif dijamin pemerintah pusat, saya merasa lega dan bersyukur. Jika tidak aktif, tentu saya akan kesulitan mencari dana, terlebih kondisi saya sudah tua,” ungkap Ernis.

Saat gejala muncul, Ernis merasakan tubuh bagian kanannya kesemutan dan kaku hingga sulit digerakkan. Bibirnya juga menjadi tidak simetris dan membuatnya kesulitan berbicara. 
Menyadari kondisi tersebut tidak biasa, keluarga segera membawanya instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit terdekat.

Pemeriksaan medis pun dilakukan, mulai dari pemeriksaan laboratorium hingga rontgen kepala. Dari pemeriksaan tersebut diketahui adanya penyempitan pembuluh darah yang 
berkaitan dengan kondisi yang dialaminya.

“Tak menyangka hasil pemeriksaannya menunjukkan ada penyempitan pembuluh darah yang berujung pada serangan stroke. Kondisi ini membuat saya harus dirawat inap untuk 
mencegah kondisi yang lebih buruk,” ujar Ernis.

Selama menjalani perawatan, Ernis mengaku tidak mengalami kendala dalam menggunakan JKN. Ia mendapatkan informasi mengenai alur pelayanan dan mekanisme penjaminan sejak awal menjalani pengobatan.

“Saya mendapat informasi yang jelas dan detail terkait mekanisme penjaminan JKN sehingga tidak menemukan kendala. JKN sungguh meringankan biaya pengobatan dan membuat saya lebih tenang karena keluarga tidak perlu memikirkan biaya selama saya menjalani perawatan,” tutur Ernis.

Bagi Ernis, kepastian jaminan kesehatan tersebut menjadi hal penting di tengah kondisi dirinya yang sudah lanjut usia dan tidak lagi produktif. Ia membayangkan, tanpa JKN, keluarganya harus mencari cara untuk membiayai pengobatan.

“Kalau kemarin tidak ada JKN, pasti keluarga akan sibuk mencari solusi biaya pengobatan. Mungkin mencari pinjaman atau yang paling buruk menjual aset yang dimiliki. Tetapi, kehadiran JKN mencegah semua itu terjadi,” tambah Ernis.

Kondisi tersebut menyadarkan Ernis untuk lebih peduli terhadap kesehatan. Ia mengaku sebelumnya kerap mengalami tekanan darah tinggi, tetapi tidak segera memeriksakannya ke 
fasilitas kesehatan.

“Kalau ada keluhan kesehatan, jangan dianggap sepele. Lebih baik segera diperiksa daripada terlambat. Kini saya menyadari betapa pentingnya arti kesehatan,” ucap Ernis.

Ernis juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan dan memastikan kepesertaan JKN tetap aktif. Menurutnya, perlindungan kesehatan perlu dipersiapkan sejak dini sebelum risiko penyakit datang.

“Usia saya sudah tua dan tidak produktif lagi. Terima kasih kepada pemerintah yang telah menghadirkan program JKN sehingga meringankan biaya pengobatan saya. JKN benarbenar menjadi penopang bagi saya sekeluarga saat menghadapi kondisi seperti ini,” pungkas Ernis.

Manfaat JKN juga dirasakan Isrianto, adik Ernis yang setia mendampingi selama menjalani perawatan. Sebagai peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri, 
Isrianto pernah menjalani tindakan pemasangan ring untuk mengatasi penyempitan pembuluh darah jantung dengan biaya sekitar Rp40 juta yang dijamin JKN.

Tidak hanya itu, ia juga pernah menjalani dua kali operasi mata akibat cedera pada pembuluh darah mata untuk mencegah risiko kebutaan permanen.

“Tak terhingga besarnya manfaat JKN ini. Saya tidak hanya dibantu untuk operasi pasang ring jantung, tetapi juga operasi mata hingga dua kali. Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah 
ratusan juta biaya pengobatan yang terbantu hingga saat ini,” kata Isrianto.

Dengan penghasilan sebagai sopir travel yang tidak tetap, Isrianto menyadari biaya pengobatan tersebut akan sulit ditanggung sendiri. Ia pun mengapresiasi semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dalam keberlangsungan JKN.

“Terima kasih untuk peserta JKN yang sudah membayar iuran tepat waktu. Berkat itu saya bisa mendapatkan pengobatan berkualitas dan mencegah risiko kebutaan permanen. Jika 
harus membiayai sendiri, iuran rutin saya setiap bulan tidak akan mampu menutupi biaya pengobatan besar tersebut,” tutup Isrianto. (HM)

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »