| Harta yang berlimpah, perempuan, anak-anak, kendaraan, jabatan dan berbagai kemewahan dunia memang menggiurkan. (Foto Ilustrasi: Int). |
Allah SWT telah mengingatkan manusia secara tegas dalam QS. Ali 'Imran ayat 14: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.”
Masalahnya bukan ketika seseorang memiliki harta. Masalah sebenarnya muncul ketika harta mulai memiliki manusia. Uang yang semestinya berada di tangan justru masuk ke hati. Demi kekayaan, ada yang rela menabrak kejujuran, menggadaikan prinsip, mengorbankan persaudaraan bahkan mengabaikan perintah Allah.
Rasulullah SAW bahkan telah memberikan peringatan keras: “Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah bagi umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi). Artinya, kekayaan bukan sekadar fasilitas hidup. Kekayaan adalah ujian yang bisa mengangkat derajat seseorang, tetapi juga mampu menyeretnya menuju kehancuran jika tidak dikendalikan dengan iman.
Jangan merasa aman hanya karena rekening bertambah. Bisa jadi angka-angka yang membuat seseorang bangga itu justru sedang menjadi ujian terbesar dalam hidupnya. Sebab, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula pertanggungjawaban yang harus dihadapi di hadapan Allah.
Begitu pula dengan godaan terhadap laki-laki. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak aku tinggalkan setelahku satu fitnah pun yang lebih membahayakan bagi laki-laki selain dari fitnah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut bukan penghinaan terhadap perempuan. Ini adalah peringatan keras tentang lemahnya manusia ketika berhadapan dengan hawa nafsu. Pandangan yang tidak dijaga bisa menjadi awal dosa. Keinginan yang dibiarkan bisa berubah menjadi pengkhianatan. Dan ketika hawa nafsu sudah menjadi penguasa, akal sehat serta rasa takut kepada Allah bisa tersingkir.
Yang berbahaya bukan sekadar memiliki harta atau mencintai pasangan, tetapi ketika manusia kehilangan kendali atas apa yang dicintainya. Harta, wanita, anak-anak dan kenikmatan dunia seharusnya menjadi sarana menjalani kehidupan, bukan sesuatu yang membuat manusia lupa kepada siapa dirinya akan kembali.
Ironisnya, manusia sering bekerja mati-matian untuk mendapatkan dunia, tetapi begitu malas mempersiapkan akhirat. Siang mengejar uang, malam mengejar kesenangan. Waktu habis untuk memperbesar kekayaan, tetapi sedikit waktu disisakan untuk memperbaiki amal.
Padahal, Allah sudah memberikan peringatan bahwa semua itu hanyalah kesenangan hidup di dunia. Dunia memiliki batas waktu. Kekayaan bisa hilang, kecantikan akan memudar, jabatan akan berakhir dan tubuh akan kembali menjadi tanah. Yang tersisa bukan rekening, rumah mewah atau pujian manusia, melainkan amal yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, jangan sampai manusia menjadi budak harta dan tawanan hawa nafsu. Jangan sampai sesuatu yang seharusnya menjadi nikmat justru berubah menjadi jalan menuju kehancuran. Sebab, ketika dunia sudah memenuhi hati dan Allah tersisih dari kehidupan, saat itulah manusia harus takut: jangan-jangan yang selama ini dianggap sebagai keberuntungan sebenarnya adalah sebuah fitnah.
Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai dunia berkuasa di dalam hati. Sebab, manusia yang kalah oleh harta dan hawa nafsunya mungkin terlihat sukses di mata manusia, tetapi belum tentu selamat ketika kembali kepada Allah. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »