| QS Ali Imran ayat 26, ayat yang mengingatkan manusia tentang siapa sesungguhnya pemilik kekuasaan di dunia. (Foto: Int). |
Pesan tersebut tergambar jelas dalam QS Ali Imran ayat 26, ayat yang mengingatkan manusia tentang siapa sesungguhnya pemilik kekuasaan di dunia.
Allah SWT berfirman, “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki.”
Ayat tersebut menjadi renungan bagi siapa saja yang sedang memperoleh jabatan, kekuasaan, kekayaan, maupun kemuliaan. Semua yang dimiliki manusia pada hakikatnya berada dalam kehendak Allah SWT.
Tidak ada jabatan yang selamanya melekat. Tidak ada kekuasaan yang tidak memiliki batas. Ketika Allah menghendaki, sesuatu yang terlihat kokoh dapat berubah dalam waktu yang singkat.
Karena itu, Islam mengajarkan agar orang yang mendapatkan amanah kekuasaan tidak terjebak dalam kesombongan. Kekuasaan bukan alasan untuk merendahkan orang lain, melainkan tanggung jawab yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Pesan Nabi SAW tersebut sangat relevan bagi siapa pun yang memegang jabatan dan kekuasaan. Menjadi pemimpin bukan hanya mendapatkan kewenangan, tetapi juga menerima amanah yang berat.
Dalam khazanah pemikiran Imam Ali bin Abi Thalib, kepemimpinan juga erat dengan keadilan dan amanah. Berbagai nasihat yang dinisbatkan kepadanya dalam Nahj al-Balaghah menekankan pentingnya memperlakukan manusia dengan adil dan menjaga hak-hak mereka.
Para ulama juga mengingatkan bahwa dunia bersifat sementara. Harta bisa berkurang, popularitas bisa hilang, jabatan bisa berakhir, sementara manusia pada akhirnya kembali kepada Allah SWT.
Maka, ketika memperoleh jabatan, yang paling penting bukan sekadar mempertahankannya, tetapi menjaga amanahnya. Kekuasaan yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi jalan kemaslahatan bagi banyak orang.
Sebaliknya, kehilangan jabatan tidak semestinya membuat seseorang berputus asa. QS Ali Imran ayat 26 mengingatkan bahwa Allah memiliki kehendak atas segala perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Ada kalanya manusia mengejar kedudukan, tetapi Allah menentukan jalan yang berbeda. Ada pula yang kehilangan sesuatu yang sangat diinginkan, kemudian menemukan hikmah yang sebelumnya tidak terlihat.
Kalimat dalam ayat tersebut, “Di tangan-Mulah segala kebajikan,” menjadi pengingat bahwa manusia tidak memiliki kendali mutlak atas kehidupan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berpindah. Popularitas akan berlalu. Namun amanah dan amal akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban manusia di hadapan Allah SWT.
Karena itu, QS Ali Imran ayat 26 bukan sekadar ayat tentang kekuasaan. Ia adalah peringatan agar manusia tidak sombong ketika berada di atas dan tidak berputus asa ketika berada di bawah. Sebab, yang memberi kekuasaan adalah Allah, dan kepada-Nya pula seluruh kekuasaan akan kembali. (*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »