Ketika Gelar Mengalahkan Bukti: Bagaimana Cerita Bisa Berubah Menjadi “Fakta Sejarah”

Ketika Gelar Mengalahkan Bukti: Bagaimana Cerita Bisa Berubah Menjadi “Fakta Sejarah”
Ketika sebuah cerita disampaikan oleh seseorang yang memiliki gelar akademik, jabatan, reputasi, atau posisi tertentu, masyarakat cenderung memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi. (Foto Ilustrasi: Marjafri). 

OLÉH
: Marjafri

Ada sebuah gejala yang semakin sering dijumpai dalam percakapan mengenai sejarah: orang lebih sibuk melihat siapa yang berbicara daripada memeriksa apa yang dibicarakan.

Ketika sebuah cerita disampaikan oleh seseorang yang memiliki gelar akademik, jabatan, reputasi, atau posisi tertentu, masyarakat cenderung memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi. Sebaliknya, ketika informasi yang sama disampaikan oleh orang biasa, informasi itu lebih mudah dicurigai, meskipun memiliki sumber dan bukti yang dapat diperiksa.

Inilah persoalan serius dalam penulisan sejarah.

Sebab sejarah bukanlah ilmu tentang siapa yang paling meyakinkan ketika bercerita, melainkan tentang bagaimana suatu pernyataan mengenai masa lalu dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan sumber.

Seorang doktor tetap bisa keliru. Seorang profesor tetap bisa salah membaca dokumen. Seorang tokoh yang memiliki reputasi tinggi tetap dapat mengulang informasi yang ternyata berasal dari sumber sekunder, kesaksian yang tidak teruji, cerita turun-temurun, atau bahkan asumsi penulis sebelumnya.

Gelar tidak pernah menjadi alat pembuktian.

Dari cerita menjadi “fakta”

Sebuah informasi yang tidak memiliki dasar kuat dapat mengalami proses yang sangat sederhana.

Mula-mula ia hanya berupa cerita.

Kemudian seseorang menafsirkannya.

Interpretasi tersebut ditulis dalam sebuah artikel atau buku. Orang lain mengutipnya. Penulis berikutnya mengutip tulisan itu tanpa memeriksa sumber awal. Setelah dikutip berulang-ulang, informasi tersebut mulai dianggap benar.

Pada tahap berikutnya, seseorang yang memiliki gelar akademik kembali mengutipnya.

Maka lahirlah keyakinan baru:

“Kalau yang mengatakan seorang doktor, berarti pasti benar.”

Padahal, jika ditelusuri sampai ke sumber pertama, mungkin tidak ada dokumen yang membuktikannya.

Di sinilah sejarah dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya: bukan lagi rekonstruksi berdasarkan bukti, melainkan cerita yang memperoleh legitimasi karena terus diulang dan disampaikan oleh orang yang dianggap berotoritas.

Rekaman bukan otomatis fakta

Hal yang sama berlaku terhadap rekaman wawancara.

Sebuah rekaman memang merupakan sumber yang penting. Tetapi rekaman tetap harus dibaca secara kritis.

Orang yang diwawancarai bisa saja mengingat peristiwa secara keliru. Ia mungkin menyampaikan cerita yang diwariskan kepadanya. Ia bisa saja mencampurkan pengalaman pribadi dengan cerita orang lain. Bahkan seseorang yang mengalami langsung suatu peristiwa belum tentu mengetahui seluruh konteks sejarah peristiwa tersebut.

Karena itu, kalimat:

“Saya mendengar langsung dari pelakunya”

belum otomatis sama dengan:

“Peristiwa tersebut telah terbukti secara historis.”

Rekaman membuktikan bahwa seseorang mengatakan sesuatu.

Itu berbeda dengan membuktikan bahwa apa yang dikatakannya benar secara faktual.

Perbedaan sederhana ini sering kali diabaikan.

Asumsi yang menyamar sebagai kesimpulan

Masalah yang lebih serius terjadi ketika penulis mulai mengisi bagian-bagian yang tidak diketahui dengan asumsi.

Sebuah dokumen hanya mengatakan A.

Penulis kemudian menyimpulkan B.

B ditulis seolah-olah merupakan fakta.

Pembaca berikutnya mengutip B.

Beberapa tahun kemudian, B kembali dikutip sebagai “sejarah”.

Padahal sumber awal tidak pernah mengatakan B.

Di sinilah batas antara sumber dan interpretasi menjadi kabur.

Seorang peneliti sejarah harus berani mengatakan:

“Sumber tidak menjelaskan hal tersebut.”

Kalimat itu jauh lebih ilmiah daripada memaksakan sebuah kesimpulan hanya karena pembaca menginginkan cerita yang lengkap.

Ketidaktahuan terhadap suatu fakta bukan kelemahan penelitian.

Mengakui bahwa sesuatu belum dapat dibuktikan justru merupakan bentuk tanggung jawab ilmiah.

Siapa yang berbicara tidak boleh membunuh apa yang dibicarakan

Kita tentu tidak boleh mengabaikan kredibilitas seseorang.

Latar belakang akademik, pengalaman penelitian, kompetensi, dan reputasi tetap penting. Tetapi semua itu seharusnya menjadi alasan untuk memeriksa sebuah klaim dengan lebih serius, bukan alasan untuk menghentikan pemeriksaan.

Semakin tinggi otoritas seseorang, semakin penting pula sumber yang digunakannya dapat diperiksa.

Sebab sejarah bukan agama yang harus diterima berdasarkan siapa yang menyampaikannya.

Sejarah adalah bidang penelitian yang memungkinkan sebuah klaim diperiksa, dibandingkan, diperdebatkan, dan bahkan dibantah berdasarkan bukti.

Karena itu, pertanyaan seorang pembaca sejarah seharusnya tidak berhenti pada:

“Siapa yang mengatakan?”

Pertanyaan berikutnya justru jauh lebih penting:

“Apa sumbernya?”

Jangan mengkultuskan penulis sejarah

Kita harus berhati-hati terhadap kecenderungan mengkultuskan sejarawan, akademisi, penulis, pejabat, atau tokoh tertentu.

Tidak ada penulis yang berada di luar kemungkinan kesalahan.

Sebuah buku yang diterbitkan oleh penerbit bergengsi tidak otomatis membuat seluruh isinya benar.

Sebuah tulisan yang menggunakan banyak catatan kaki tidak otomatis bebas dari kesalahan interpretasi.

Sebuah pernyataan yang disampaikan dalam seminar ilmiah tidak otomatis berubah menjadi fakta.

Dan sebuah informasi yang telah masuk ke dalam banyak buku tidak otomatis menjadi benar hanya karena telah lama beredar.

Kebenaran sejarah tidak ditentukan oleh jumlah orang yang mengulanginya.

Ia ditentukan oleh kekuatan bukti yang menopangnya.

Sejarah harus kembali kepada sumber

Karena itu, setiap klaim sejarah semestinya dapat dipisahkan ke dalam beberapa lapisan:

Apa yang benar-benar dinyatakan oleh sumber?

Apa yang dapat disimpulkan dari sumber tersebut?

Apa yang merupakan interpretasi penulis?

Apa yang masih berupa dugaan?

Dan yang paling penting:

Apa yang belum dapat dibuktikan?

Pemisahan ini tampak sederhana, tetapi justru menjadi pembeda antara penelitian sejarah dengan sekadar bercerita tentang masa lalu.

Sejarah tidak membutuhkan penulis yang paling pandai membuat cerita.

Sejarah membutuhkan penulis yang paling disiplin membedakan antara bukti dan cerita.

Jangan takut membantah orang bergelar

Ada kecenderungan sosial yang membuat orang enggan mempertanyakan pernyataan seorang akademisi atau tokoh bergelar.

“Dia doktor.”

“Dia profesor.”

“Dia peneliti.”

“Dia sudah puluhan tahun menulis sejarah.”

Semua itu boleh menjadi alasan untuk membaca karyanya.

Tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk mematikan sikap kritis.

Jika sumber yang digunakan tidak mendukung kesimpulannya, maka persoalannya tetap harus dikemukakan.

Bukan karena kita lebih pintar daripada orang tersebut.

Bukan pula karena kita ingin merendahkan gelarnya.

Tetapi karena dalam ilmu pengetahuan, klaim harus tunduk kepada bukti, bukan bukti yang dipaksa tunduk kepada klaim.

Pada akhirnya, sejarah bukan milik orang yang bergelar

Sejarah adalah milik masa lalu yang sedang kita coba pahami.

Karena itu, siapa pun yang menulisnya, doktor, profesor, wartawan, peneliti, arsiparis, budayawan, maupun masyarakat biasa, harus berhadapan dengan pertanyaan yang sama:

Dari mana informasi ini berasal?

Jika ada dokumen, tunjukkan dokumennya.

Jika ada arsip, sebutkan arsipnya.

Jika ada kesaksian, jelaskan siapa yang bersaksi dan dalam konteks apa.

Jika merupakan interpretasi, katakan bahwa itu interpretasi.

Jika masih dugaan, jangan menyebutnya fakta.

Dan jika belum ditemukan bukti, katakan dengan jujur:

“Belum dapat dibuktikan.”

Sebab dalam penelitian sejarah, kalimat tersebut jauh lebih berharga daripada sebuah cerita yang terdengar indah tetapi tidak memiliki dasar.

Pada akhirnya, yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan sekadar cerita tentang masa lalu, melainkan cara yang benar untuk mengetahui masa lalu.

Dan prinsipnya sederhana:

"Jangan percaya sebuah fakta hanya karena siapa yang mengatakannya. Periksa sumbernya, uji buktinya, pahami konteksnya, lalu simpulkan."

Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »