Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, saat menerima audiensi panitia pelaksana Peringatan Satu Abad Perlawanan Rakyat Silungkang di Rumah Dinas Wali Kota Sawahlunto, Kamis, 10 September 2026. (Foto: Diskominfo). |
Dukungan tersebut disampaikan Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, saat menerima audiensi panitia pelaksana Peringatan Satu Abad Perlawanan Rakyat Silungkang di Rumah Dinas Wali Kota Sawahlunto, Kamis, 10 September 2026.
Ketua Pelaksana, Irland Muhammad, menjelaskan bahwa napak tilas akan dilaksanakan pada malam hari. Peserta membawa obor dan berjalan kaki menembus Terowongan Kereta Api Muara Kalaban yang memiliki panjang sekitar 828 meter.
Setelah melewati terowongan, peserta akan melanjutkan perjalanan menyusuri jalur rel menuju Societeit Glück Auf, yang kini dikenal sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. Kawasan tersebut memiliki nilai sejarah karena menjadi lokasi pemakaman tiga tokoh pejuang perlawanan yang dieksekusi di Penjara Sawahlunto.
Selain napak tilas dan pawai obor, rangkaian kegiatan juga direncanakan diisi dengan pameran foto sejarah, pameran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta upacara resmi yang dipusatkan di Lapangan Cinto Moni Silungkang.
Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra mengapresiasi konsep kegiatan tersebut. Menurutnya, napak tilas dengan membawa obor melewati terowongan bersejarah sepanjang 828 meter memiliki daya tarik tersendiri sekaligus menjadi sarana untuk menghidupkan kembali ingatan sejarah perjuangan masyarakat Silungkang.
“Dengan konsep besar ini, mudah-mudahan ke depannya kegiatan ini dapat ditetapkan menjadi agenda tahunan Kota Sawahlunto. Ini bukan sekadar aktivitas berjalan kaki di malam hari dengan penerangan obor, melainkan sebuah refleksi yang sarat akan nilai sejarah tinggi terkait perjuangan para perintis kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Riyanda.
Ia menilai kegiatan tersebut juga berpotensi menjadi daya tarik wisata sejarah di Kota Sawahlunto. Kehadiran wisatawan diharapkan memberikan dampak positif terhadap pelaku UMKM dan perekonomian masyarakat lokal. “Kita akan dukung penuh,” tegasnya.
Panitia juga menggulirkan rencana penulisan ulang sejarah Perlawanan Rakyat Silungkang secara komprehensif. Penulisan tersebut akan dilakukan dengan pendekatan riset dan penelusuran arsip untuk menghasilkan literasi sejarah daerah yang lebih lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hasil riset tersebut nantinya diharapkan dapat diintegrasikan menjadi materi pembelajaran muatan lokal di sekolah, khususnya di wilayah Kota Sawahlunto. Upaya ini dinilai penting agar generasi muda dapat mengenal sejarah daerah dan perjuangan masyarakat Silungkang secara lebih utuh.
Jurnalis sekaligus penulis dan Ketua Komunitas Anak Nagari Sawahlunto, Marjafri, mengatakan momentum satu abad tersebut juga akan ditandai dengan peluncuran buku sejarah berjudul Serpihan-Sejarah Perlawanan Rakyat Silungkang 1926–1927: Membaca Ulang Satu Abad Stigma Kolonial, Mengembalikan Marwah dan Martabat yang Ternoda.
Menurut Marjafri, buku tersebut diharapkan menjadi literatur penyeimbang dalam melihat sejarah Perlawanan Rakyat Silungkang. “Penerbitan buku ini ditujukan murni untuk menempatkan kembali sejarah perjuangan rakyat pada porsi yang sebenarnya. Ini adalah upaya ilmiah untuk meluruskan kronik sejarah luar yang selama ini secara sepihak dilabeli oleh pemerintah kolonial penjajah Belanda sebagai bentuk pemberontakan organisasi terlarang,” ujarnya.
Audiensi tersebut berlangsung secara formal dan dihadiri jajaran panitia, di antaranya Wakil Ketua Ambun Kadri, Wakil Ketua Bidang Acara Asrul, Penanggung Jawab Napak Tilas Pawai Obor Yuliza Ardi, Penulis Marjafri, serta Penanggung Jawab Perlengkapan dan Foto Zulasfi.(*)
Pewarta: Marjafri
Silakan baca konten menarik lainnya dari BentengSumbar.com di Google News
BERITA SEBELUMNYA
« Prev Post
« Prev Post
BERITA BERIKUTNYA
Next Post »
Next Post »